The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 20



Malam itu merupakan malam pertama bagi Cello dan Shanum. Namun, tidak ada adegan apa-apa yang terjadi di antara mereka. Cello dan Shanum langsung terlelap begitu saja setelah perdebatan absurd mereka tentang nama panggilan.


Keesokan harinya, keluarga Shanum masih membereskan rumah sisa-sisa acara kemarin. Mau tidak mau, Cello juga harus membantu mereka. Dia tidak ingin dianggap menantu yang tidak bisa ngapa-ngapain.


Dua hari sudah, Cello berada di rumah Shanum. Pagi itu, Bian mengantarkan bibi Nur dan juga cucunya ke bandara untuk kembali ke Surabaya setelah sarapan. Wajah mereka masih terlihat kesal saat itu. Meskipun begitu, mereka masih tetap bersikap sopan karena ada kakek dan nenek Shanum yang ikut bergabung pada sarapan pagi itu. Siapa lagi jika bukan Reyhan dan Fida.


Pukul sembilan, Bian dan juga Revina berangkat ke bandara. Revina terpaksa ikut Bian mengantar bibi dan cucunya tersebut karena Bian memaksanya. Bian tidak mau jika dia harus menyetir seorang diri saat pulang dari bandara.


Cello terlihat berjalan menyusuri bagian samping rumah kakek Shanum tersebut. Ada sebuah ruangan yang disekat dengan kaca dan kayu di sana. Ternyata itu adalah kandang kucing milik nenek Fida. Rean yang baru saja memberi makan kucing-kucing tersebut hendak berjalan keluar kandang. Dia mendongakkan kepalanya saat melihat Cello berjalan ke arahnya.


"Eh, ada kak Cello." 


"Baru kasih makan kucing?" Tanya Cello sambil berjalan mendekat.


"Iya. Setiap ke Jakarta, hanya ini hiburan yang kumiliki, Kak. Aku kan nggak punya teman disini."


Cello yang mendengar jawaban Rean hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. 


"Berapa banyak kucing nenek?"


"Ada lima di dalam kandang. Dan ada dua yang diluar kandang. Jadi totalnya ada tujuh."


"Kenapa yang dua tidak dikandangkan sekalian?" Tanya Cello penasaran.


"Oh, yang dua itu sudah jinak, Kak. Mereka sudah dilatih oleh nenek jadi tidak bisa seenaknya sendiri sekarang. Hehehe." Jawab Rean sambil terkekeh geli.


"Eh, dilatih bagaimana maksudnya?" Tanya Cello bingung.


"Ya sudah di briefing, Kak. Jadi sudah tidak pup sembarangan dan main cakar-cakar sembarangan. Tuh lihat, kerjaan Awak Dewe saja sudah berjemur pagi-pagi begini." Kata Rean.


"Eh, awak dewe? Maksudnya kita?" Tanya Cello bingung. 


Sebenarnya, Cello memang bisa bahasa jawa, karena memang keluarganya memiliki darah jawa. Entah mengapa gen dari sang papa masih mendominasi.


Seketika Cello langsung cengo mendengar penjelasan Rean. Entah mengapa dia merasa nama kucing nenek Fida sedikit aneh. Dia membayangkan bagaimana jika kedua kucing tersebut dipanggil bersamaan. Apakah tidak seperti memanggil dirinya sendiri. Cello hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kak, masih pagi ini. Olahraga, yuk." Ajak Rean.


"Eh, mau olahraga apa?"


"Basket saja lah. Aku malas jika lari pagi di sini." Jawab Rean sambil berjalan menuju halaman depan.


"Memangnya kenapa?" Tanya Cello penasaran sambil berjalan mengikuti Rean.


"Para cewek di sini suka aneh deh, Kak. Mereka suka teriak-teriak jika lari pagi. Emang dikira jalanan itu stadion apa." Gerutu Rean.


"Hahaha, itu sih mungkin mereka sudah jadi fans kamu." Kata Cello.


"Mana ada fans, Kak. Orang aku bukan artis. Tapi, kak Cello jangan coba-coba lari pagi di sini sendirian jika tidak ada temannya." Kata Rean.


"Eh, memangnya kenapa?"


"Nggak ada apa-apa sih. Hanya takut saja jika kak Cello di culik." Jawab Rean dengan santainya.


"Lhah, memang banyak penculik di sini?"


Belum sempat Rean menjawab pertanyaan Cello, tiba-tiba dia melihat tangan Cello ditarik. Seketika Rean langsung mendengus kesal.


"Itu salah satu penculiknya, Kak!" Teriak Rean saat melihat Cello berjalan menuju dalam rumah dengan cepat. "Dasar, pengantin baru maunya ngerem di dalam kamar. Nggak tahu apa jika ada kegiatan lain yang bisa menghasilkan keringat selain main kodok-kodokan."


"Aku dengar Rean!"


\=\=\=\=\=


Maaf satu part dulu ya, kerjaan othor belum selesai.