
Menjelang siang, Rean masuk ke dalam distronya. Dia melihat sebuah paket yang tergeletak diatas meja. Rean mendekat dan mengangkat paket kotak tersebut.
"Dari siapa ini? Tidak ada nama pengirimnya," gumam Rean.
Sebenarnya, Rean enggan membuka paket tersebut. Namun, dia cukup penasaran dengan hal itu. Jadi, mau tidak mau Rean membawanya ke sofa dan mulai membukanya.
Kening Rean berkerut saat melihat sebuah sepatu yang saat itu sedang digemari oleh para anak muda. Dia semakin bingung dengan paket yang diterimanya tersebut.
"Sepatu? Dari siapa sih ini? Mana ukurannya kekecilan juga. Apa salah kirim ya?" Rean masih membolak balikkan bungkus sepatu tersebut.
Setelah tidak menemukan apa-apa, Rean mengeluarkan sepatu tersebut dari tempatnya. Dia berharap akan menemukan catatan di bagian bawah kardus sepatu tersebut.
Dan, benar saja. Ada sebuah catatan kecil yang diselipkan di sana. Rean membaca sepenggal kalimat tersebut dengan kening berkerut.
Dear Rean,
Maaf. Maaf untuk hati yang tersakiti.
Rean membolak-balikkan catatan tersebut, namun tidak ada tanda-tanda ataupun inisial pengirimnya.
"Siapa sih yang mengirimkan ini? Nggak jelas banget apa maksudnya. Maaf untuk hati yang tersakiti? Ckckck, dikira lagu apa?"
Rean memasukkan kembali sepatu tersebut ke dalam box dan menutupnya kembali. Setelah itu, dia meletakkan box sepatu tersebut di atas lemari yang ada di ruangannya. Rean juga tidak tertarik mencari tahu siapa pengirim sepatu tersebut.
***
Tak terasa hari ini adalah penutupan diklat Dena. Acara penutupan yang dijadwalkan pada pukul delapan pagi dan berakhir pada pukul sepuluh tersebut, dihadiri oleh beberapa pejabat penting.
Dena dan Kinan yang memang sudah membereskan semua barang-barangnya, bisa langsung berangkat ke bandara setelah acara selesai. Mereka berencana akan mampir ke Malioboro sebentar.
"Hari ini mau beli apa?" Dena yang saat itu sudah selesai mengganti baju, berbalik menghadap Kinan.
"Belum tahu, sih. Maunya sih belikan baju buat mama."
"Masih kurang yang kemarin?" Dena menggelengkan kepala dan tersenyum sambil menatap ke arah Kinan.
"Hehehe, iya."
Saat keduanya sedang menunggu taksi, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tak jauh dari mereka. Kening Dena dan Kinan pun berkerut. Mereka saling lirik seolah menanyakan apakah itu taksi mereka?
Namun, setelah melihat seseorang yang baru saja keluar dari mobil tersebut, terjawab sudah pertanyaan mereka. Terlihat Rama baru saja keluar dari mobil dan berjalan ke arah Dena dan juga Kinan.
"Pak Rama?" Kinan yang berada di depan langsung menyapa laki-laki tersebut.
"Hai, mau jalan-jalan dulu atau langsung ke bandara?" tanya Rama sambil menatap Dena dan Kinan bergantian.
Dena dan Kinan saling pandang. Mereka bingung harus menjawab apa.
"Ehm, mau jalan dulu sebentar sih, Pak. Mumpung masih ada sedikit waktu." Kali ini Kinan yang menjawab pertanyaan Rama.
Rama tampak mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau begitu, biar saya antar."
Kedua pasang bola mata Dena dan Kinan langsung membulat. Mereka terkejut dengan perkataan Rama.
"Eh, nggak usah, Pak. Kami sudah pesan taksi. Lagi pula, kami pasti akan sibuk kesana kemari untuk berbelanja. Biasalah, perempuan. Hehehe," ucap Kinan berkilah.
Belum sempat Rama menjawab perkataan Kinan, terlihat sebuah taksi pesanan Dena sudah berhenti di depan mereka. Buru-buru Dena menarik Kinan untuk segera beranjak dari tempat tersebut.
"Maaf, Pak. Itu taksi pesanan kami sudah datang. Kami permisi dulu." Dena buru-buru beranjak sambil menarik kopernya. Kinan yang melihat hal itu juga segera melakukan hal yang sama.
"Hhuuufftt, lega. Kenapa aku jadi merasa was-was begini, ya?" Gumam Dena. Entah mengapa dia merasa sangat tidak nyaman.
"Tenang saja. Aku pasti akan membantumu."
Dena mengangguk-anggukkan kepala sambil mengulas senyumannya. Tak berapa lama kemudian, taksi sudah tiba di Malioboro. Dena dan Kinan langsung belanja. Mereka seolah lupa waktu karena sedang asyik berbelanja.
Hingga Dena dan Kinan tidak sadar ketika ada orang yang menyapanya.
"Jadi ini yang bernama Nak Dena?"
"Eh?"