
"Rev, sudah datang? Eh, apakah ini calon mantu Mama?" Tanya mama Fida dengan wajah berbinar.
"Eh, Ma. I-ini adalah…." Belum sempat Revina meneruskan perkataannya, namun mama Fida langsung menarik lengan Bian untuk segera memasuki rumah.
"Sudah, nanti saja ngomongnya. Masuk dulu, sebentar lagi buka puasa. Ayo, siap-siap dulu." Kata mama Fida.
Bian yang masih terkejut pun hanya bisa pasrah saat dirinya ditarik oleh mamanya Revina. Sementara Revina hanya bisa membulatkan mata dan mulutnya saat melihat sang mama menarik lengan Bian memasuki rumahnya.
"Nama kamu siapa, Nak?" Tanya mama Fida sambil masih menarik lengan Bian.
"Saya Bian, Tante." Jawab Bian.
"Kamu muslim kan?" Tanya mama Fida lagi.
"Iya, Tante."
"Sudah sholat Ashar? Ini sudah hampir jam lima."
"Belum Tante. Tadi mau mampir sholat di masjid depan."
"Sholat di sini saja, keburu habis. Kamu bisa sholat di sebelah sana." Kata mama Fida sambil menunjukkan tempat sholat untuk Bian.
Bian segera mengangguk. Tak lupa juga dia mengucapkan terima kasih dan segera beranjak menuju tempat yang ditunjuk mama Fida.
Revina yang baru saja melihat kepergian Bian, langsung mendekati sang mama. Mama Fida menyadari kedatangan sang putri langsung menoleh dan menarik lengannya menuju kamar.
"Kamu pasti juga belum sholat. Sudah sana sholat dulu." Kata mama Fida sambil mendorong tubuh sang putri.
"Tapi, Ma aku…"
"Ngobrolnya nanti saja. Sholat dulu sebelum waktunya habis."
Mau tidak mau Revina hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan sang mama. Dia berpikir nanti saja menjelaskan kepada mamanya tentang siapa Bian sebenarnya. Revina segera beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan melaksanakan sholat.
Saat mama Fida hendak kembali ke dapur, terdengar suara pintu depan terbuka. Mama Fida menghentikan langkahnya dan melihat siapa yang baru saja datang. Ternyata sang suami sudah sampai di rumah.
"Mas, sudah pulang? Kok aku nggak dengar suara mobil kamu." Kata mama Fida sambil mengecup tangan sang suami.
"Oh, itu. Mobil calon menantu kita, Mas." Jawab mama Fida dengan entengnya.
"Hhaaah?" Papa Reyhan langsung melongo melihat ke arah mama Fida. "Menantu? Apa maksud kamu, Yang?" Lanjut papa Reyhan. Dia masih belum mengerti maksud Fida.
"Ccckkk, begitu saja kamu tidak mengerti, Mas. Sudah, kamu mandi dulu. Sebentar lagi buka puasa." Kata mama Fida sambil mendorong tubuh papa Reyhan. Mau tidak mau, papa Reyhan mengikuti keinginan mama Fida.
Sementara di dalam kamar, Revina baru saja selesai melaksanakan sholat. Dia juga sudah berganti pakaian. Revina melirik jam dinding yang ada di dalam kamarnya. Pukul 17.03. Revina menghembuskan napas beratnya.
Masih sekitar tiga puluh menit lagi buka puasa. Revina merasa bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada orang tuanya. Revina sangat mengenal bagaimana sang mama. Mamanya pasti akan sangat heboh sekali. Selain itu, Revina juga merasa tidak enak dengan Bian.
Meskipun begitu, Revina harus tetap keluar dan bergabung dengan orang tuanya untuk berbuka puasa. Dia melirik sekilas penampilannya di depan cermin. Setelah memastikan penampilannya, Revina segera melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Dari ruang makan, Revina mendengar suara mama Fida yang meminta Bian untuk segera bergabung karena buka puasa sudah hampir tiba. Terdengar suara Bian menolak ajakan mama Fida karena tidak mau merepotkan. Namun, bukan mama Fida yang tidak akan membiarkan Bian pergi begitu saja. Akhirnya, mau tidak mau Bian menuruti keinginan mama Fida.
"Eh Sayang, sini bantu Mama ambilkan piring untuk Nak Bian." Kata mama Fida begitu melihat kedatangan Revina.
Revina menoleh sekilas ke arah Bian. Setelahnya, dia menuju dapur untuk mengambilkan piring. Pada saat bersaan, ternyata papa Reyhan juga sudah berada di sana.
"Jadi, ini calon menantu kita, Yang?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Terima kasih yang sudah kasih vote, like dan komen. Terima kasih juga untuk yang sudah sabar menunggu.