The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 92



Dena langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah sang suami yang sedang tersenyum nyengir. Dia cukup terkejut mendengar perkataan Rean.


"Raja Ampat? Kamu yang benar saja sih, Mas." Dena tampak kurang setuju.


Senyuman Rean langsung menyurut. Keningnya berkerut saat menatap wajah sang istri.


"Memangnya kenapa jika ke Raja Ampat? Kamu nggak suka, Yang?" tanya Rean bingung.


"Bukannya nggak suka, Mas. Suka banget malahan. Tapi, jika kesana untuk unboxing, kita pasti tidak akan keluar kamar. Rugi dong kita jauh-jauh kesana tapi nggak menikmati keindahan tempat-tempat yang ada di sana."


Rean masih mengerutkan kening. Dia belum bisa mencerna apa yang dimaksudkan oleh sang istri.


"Memangnya kenapa kita tidak bisa jalan-jalan, Yang?"


Dena hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Dia kini benar-benar berbalik dan menatap wajah Rean lekat-lekat.


"Dengar, Mas. Kita sama-sama belum pernah melakukan 'itu' sebelum ini. Jika kita baru mencicipinya di sana pertama kali, apa kamu yakin kita hanya cukup sekali atau dua kali mengulanginya?" Dena masih menatap Rean dengan tatapan penuh tanya.


Seketika senyum terbit pada bibir Rean. Ternyata, itu yang dipikirkan oleh sang istri. Rean baru kepikiran saat itu.


"Hehehe, kamu benar sekali, Yang. Aku nggak bisa jamin juga jika kita tidak akan terus mengulanginya. Lagi pula, perempuan kan pasti merasa sakit dan tidak nyaman jika baru melakukan 'itu' pertama kali. Aku juga tidak akan tega membiarkan kamu jalan-jalan atau pergi-pergi jika 'itumu' masih lecet," ucap Rean dengan santainya.


Dena hanya bisa membulatkan mulutnya saat mendengar perkataan Rean dengan santainya.


"Kamu kok sepertinya sudah tahu hal yang seperti itu, Mas?" Dena menatap Rean dengan tatapan menyelidik.


"Eh, bukan tahu dalam artian melihat sendiri, Yang. Aku hanya baca-baca di artikel-artikel dan tanya-tanya ke Kak Shanum."


Keterkejutan kembali menyerang Dena. Dia sama sekali tidak menyangka jika Rean akan menanyakan masalah itu kepada kakaknya. Dena benar-benar merasa malu.


"Kamu menanyakan masalah itu ke kakak kamu, Mas?!"


"Kamu ini benar-benar, ya." Dena mulai memukuli dada Rean dengan kedua tangannya. Sontak saja Rean langsung berlari menuju rumah mereka.


"Ampun-ampun, Yang. Aku kan hanya tanya ke kak Shanum. Ampun, Yang." Rean masih merengek saat Dena memukuli punggungnya.


Dena menghentikan pukulannya pada punggung Rean. 


"Kamu ini benar-benar ya, Mas. Kamu ingin buat aku malu di depan kakak kamu kalau aku belum memberikan hak kamu? Iya, begitu?" Dena menatap Rean dengan bibir mengerucut.


"Eh, bukan begitu, Yang. Aku hanya sekedar bertanya. Aku juga sudah menjelaskan ke Kak Shanum jika sebenarnya kamu sudah menawarinya dari dulu. Tapi, aku saja yang tidak tega melakukannya saat kamu sakit."


Dena tampak kesal menatap Rean. "Yakin kamu ngomong begitu, Mas?"


Dengan polosnya Rean mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, Yang. Aku sudah menjelaskan kepada kak Shanum. Aku tidak tega melakukannya saat itu. Mana mungkin aku merem melek keenakan sementara kamu meringis kesakitan."


Dena benar-benar gemas dengan mulut lemes sang suami. Dia segera mencubit pinggang Rean dengan gemas hingga membuat si empunya meringis kesakitan.


"Auuwwwhhh, sakit, Yang. Ngapain cubitnya di pinggang, ih." Rean memprotes cubitan sang istri sambil meringis.


"Gregetan. Mulutnya lemes banget."


"Biarin. Nanti kamu juga akan suka merasakan mulut lemesku di mulut bawahmu."


"Maasss!"


\=\=\=


Otewe end ya 🙏