The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 99



Malam itu, Rean benar-benar menginap di rumah Cello. Mama Revina dan juga papa Bian benar-benar datang mengunjunginya malam itu. Seluruh keluarga Shanum dan juga Cello saling berbicara dan mengobrol tentang banyak hal malam itu.


Mama Revina dan juga papa Bian sebenarnya dipaksa untuk menginap di rumah Cello. Namun, karena besok dia harus sudah mulai bekerja di kantor yang baru, papa Bian menolak tawaran tersebut. Dia harus menyiapkan semua keperluannya untuk bekerja di kantor yang baru.


Setelah kedua orang tuanya pulang, Rean mengajak sang kakak ipar mengobrol tentang banyak hal terkait dengan pilihan kampus. Rean yang tinggal menunggu ujian akhir nasional tiga minggu lagi sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Ya, dia memang sengaja izin kemarin untuk tidak masuk sekolah. Besok, dia dan mama Revina harus kembali lagi ke Surabaya untuk mempersiapkan ujian nasional.


"Jadi aku pilih yang mana, Kak?" Tanya Rean sambil menggeser-geser layar ponselnya. Dia sedang berdiskusi dengan Cello untuk memilih kampus.


"Ya, seperti yang aku katakan tadi. Semua tergantung jurusan yang akan kamu ambil. Dan ingat, jurusan yang nantinya kamu ambil harus benar-benar sesuai dengan keinginan dan kata hatimu nanti. Jangan lupa juga mendiskusikannya dengan papa dan mama." Kata Cello memberikan masukan kepada Rean.


Rean hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah sedikit mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang kakak ipar. Setelahnya, mereka kembali berdiskusi hingga tak menyadari jika jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Shanum yang sudah menunggu Cello di dalam kamar pun menjadi kesal. Dia langsung mengambil ponselnya dan hendak menelpon sang suami.


"Hallo, Yang." Sapa Cello begitu panggilan telepon dengan sang istri sudah terhubung.


"Lama sekali sih, Mas. Aku sudah lumutan ini nunggunya. Cepetan ke kamar. Awas saja jika kelamaan," gerutu Shanum sambil langsung mematikan sambungan telepon tersebut tanoa menunggu jawaban dari sang suami.


Cello yang mendengar perkataan Shanum pun hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Hal tersebut tak luput dari perhatian Rean.


"Ada apa, Kak? Kak Shanum sudah menunggu ya?" Tanya Rean.


"Iya. Maaf, ya. Jika keinginan kakak kamu nggak dituruti, bakal nggak tenang nanti. Dia pasti akan ngambek lama sekali."


Rean mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Iya, Kak. Kata mama mood orang hamil itu sering berubah-ubah. Dan ngidamnya juga sering aneh-aneh. Tapi kak Shanum kok nggak ngidam ya?" Kata Rean sambil bergumam.


"Eh, mana ada nggak ngidam. Itu kakak kamu ngidamnya justru ajaib." Jawab Cello sambil menghembuskan napas beratnya.


"Oh ya? Ngidam apa itu, Kak?" Tanya Rean penasaran.


"Hhhh, nanti saja jika kamu sudah menikah." Jawab Cello sambil beranjak berdiri. "Cepat istirahat. Jangan tidur terlalu malam," lanjut Cello sambil menepuk bahu Rean sebelum berjalan menuju kamarnya.


"Iya, Kak."


Cello langsung meLangkahkan kakinya menuju kamar. Dia sedikit mempercepat langkahnya agar sang istri tidak semakin marah.


Ceklek.


Namun, Cello mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Dia bisa memastikan sang istri tengah berada di sana. Cello segera beranjak menuju ruang ganti untuk mengganti baju tidurnya.


Ceklek.


Shanum membuka pintu kamar dan mendapati sang suami juga baru saja selesai berganti baju.


"Lama sekali sih, Mas," gerutu Shanum sambil berjalan mendekat ke arah Cello.


"Maaf, Yang. Tadi terlalu asyik ngobrol dengan Rean." 


"Lalu, itu kenapa pakai baju?"


"Eh, memangnya kenapa?" Tanya Cello bingung.


"Lepas, ih. Aku tadi kan bilang mau mainan itu."


Cello hanya bisa pasrah menuruti keinginan sang istri. Bukannya dia tidak menyukainya. Namun, jika terus menerus menuruti keinginan Shanum, dia khawatir akan berpengaruh terhadap kedua calon anaknya.


"Jangan pasrah gitu ih, Mas. Nggak enak jika pasrah diem gitu." Protes Shanum.


"Bukan gitu, Yang."


"Lalu mengapa diam saja?"


"Aku hanya takut jika anak-anak kita sering dijenguk, nanti saat sudah lahir kaget bertemu daddynya."


"Kenapa bisa begitu?"


"Kok daddynya beda, dulu gundul sekarang ada rambutnya."


"Ya gampang itu, mah. Sekarang biarkan saja gondrong, biarkan mereka nggak kaget nanti."


Astaga, masih saja bisa ngelesnya itu. 🤦🏼‍♀️