The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 146



Shanum masih bersungut-sungut kesal saat berjalan menuju kelasnya. Dia benar-benar kesal dengan ulah jahil sang suami. Setelah berhasil memancing-mancing dirinya, Cello benar-benar dengan santainya menghentikan aktivitas yang membuatnya seolah melayang tersebut.


"Awas saja nanti di rumah merengek, tidak akan aku kasih," gerutu Shanum sambil berjalan menuju ruang kelasnya.


Sementara itu, Cello yang berada di dalam mobil Shanum hanya bisa tersenyum-senyum sendiri sambil membayangkan wajah kesal sang istri. Cello benar-benar berhasil membuat Shanum kesal.


Siang itu, Shanum kembali menjalani masa perkuliahannya. Dia tidak berada pada kelas yang sama dengan Davian siang itu. Shanum bahkan sudah melupakan teman barunya tersebut.


Hingga saat perkuliahan selesai, Shanum dikagetkan dengan sebuah suara yang memanggil namanya dari arah tangga.


"Shanum!"


Seketika Shanum berhenti dan menoleh untuk melihat siapa yang memanggil namanya tersebut. Terlihat seorang laki-laki jangkung tengah berjalan ke arahnya. Wajahnya masih sama seperti tadi, datar tanpa ekspresi sama sekali.


"Eh, Davian ya? Ada apa?" Tanya Shanum.


"Sudah mau pulang?"


"Iya. Jam kuliahku sudah habis."


Kening Davian berkerut setelah mendengar perkataan Shanum. 


"Sudah habis? Memangnya kamu semester berapa?" tanya Davian sambil masih menatap ke dalam mata Shanum.


Setelahnya, Shanum menjelaskan jika dia harus mengejar kuliahnya karena sempat cuti kemarin. Seharusnya, dia memang sudah semester lima, tapi dia harus mengejar mata kuliah di semester tiga. Davian hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Shanum.


"Oh begitu."


Shanum hanya bisa menganggukkan kepalanya. Setelahnya, dia segera berpamitan untuk segera pulang. Namun, langkah kakinya terhenti saat lagi-lagi Davian memanggil namanya.


"Eh, maaf aku tidak terlalu ingat nomor ponselku yang baru. Ponselku tertinggal di mobil. Bagaimana?"


"Ehm, mungkin lain kali saja."


Shanum hanya bisa menganggukkan kepalanya. Namun, seketika dia terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari samping dan memberikan sebuah kecupan pada pipinya. Kedua bola mata Shanum langsung membulat saat menyadari sang suami melakukan tindakan tersebut secara tiba-tiba.


"Aiisshh, apaan sih, Mas. Malu tau dilihat banyak orang," bisik Shanum. Wajahnya sudah langsung memerah saat menyadari banyak mahasiswa yang memperhatikan aktivitas mereka. Tak terkecuali Davian yang berada tak jauh darinya.


"Biarin, sama istri sendiri ini. Yang malu itu jika melakukannya kepada istri orang lain," jawab Cello sambil menatap tajam ke arah Davian.


Ya, sebenarnya Cello sudah melihat Shanum saat dia keluar dari ruang kelasnya. Cello yang saat itu baru saja kembali dari kantin untuk membeli air minum, harus melihat dan memperhatikan Shanum yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Cello meyakini jika laki-laki tersebut adalah teman sekelas Shanum yang baru. Cello juga yakin jika laki-laki tersebut belum mengetahui jika Shanum sudah menikah dan mempunyai dua orang buntut.


Davian yang masih sedikit terkejut tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia masih belum percaya jika Shanum yang terlihat masih sangat muda tersebut ternyata sudah menikah.


"Ini siapa, Yang?" Tanya Cello berusaha bersikap biasa.


"Oh, ini Davian, Mas. Dia teman sekelasku di kelas tadi pagi," jawab Shanum sambil kembali menoleh ke arah Davian. "Oh iya Dav, kenalkan ini Mas Cello, suamiku." Lanjut Shanum sambil menatap ke arah Davian.


Cello langsung mengulurkan tangannya ke arah Davian. Mau tidak mau, Davian meraih tangan Cello dan langsung memperkenalkan diri.


"Davian Ardi Prambudi Sastrodiningrat."


"Eh, kamu putra Pak Pram?!"


Nah lho, siapa lagi ini 🤦‍♀️