The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rencana Vanya



"Kebetulan sekali, nanti sekalian saja kamu ceritakan saja semuanya. Harusnya kamu berterima kasih kepadaku karena membantu kamu membuka pembicaraan tentang masalah itu." Kata Fida.


"Berterima kasih gundulmu itu." Jawab Vanya sambil mengerucutkan bibirnya.


Fida yang mendengar gerutuan Vanya langsung tertawa. Dia menutup mulutnya untuk meredam suara tertawanya yang sangat keras. Sementara Vanya hanya bisa menggerutu kesal.


Saat Vanya dan Fida masih mencuci peralatan makan, tiba-tiba terdengar suara deheman dari belakang mereka. Seketika Vanya dan Fida langsung menoleh.


"Ehm, maaf saya mengejutkan kalian."


"Ah, nggak juga kok. Ada perlu aku bantu Sayang." Kata Fida sambil tersenyum.


Seketika Vanya dan Reyhan langsung membulatkan mata dan mulutnya. Ya, orang yang menyapa mereka saat itu adalah Reyhan. 


"Sa-sayang? Kamu memanggil Reyhan dengan panggilan sayang?" Tanya Vanya terlihat masih terkejut sambil memandang Fida.


Fida menoleh menatap wajah Vanya dan mengangguk.


"Iya. Dia sendiri yang memintaku memanggil seperti itu." Jawab Fida dengan santainya.


Vanya langsung menoleh menatap Reyhan yang juga terlihat sangat kikuk.


"Benar yang dikatakan Fida, Rey? Kamu memintanya untuk memanggil sayang?" Tanya Vanya masih tidak percaya.


"Eh, i-itu, anu, ehmm…" Reyhan terlihat bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Itu anu apa Rey?" Tanya Vanya tidak sabar.


"Memangnya ada apa sih Van?" Kali ini Fida yang protes. Dia bisa melihat kecanggungan Reyhan.


"Aku kaget Fid, kenapa kamu memanggil Reyhan dengan panggilan sayang?" Tanya Vanya.


"Ah, itu hanya panggilan. Dia tidak mau aku memanggilnya dengan sebutan bapak, katanya terlalu tua. Aku juga sudah menawarkan panggilan kakak, abang, sampai om, tapi dia tidak mau. Lalu, aku menawarkan panggilan sayang, eh malah setuju. Iya kan Yang?" Jawab Fida tersenyum ke arah Reyhan sambil menaik turunkan alisnya.


Uhk uhuk uhuk


Melihat tingkah Fida Reyhan langsung tersedak air liurnya sendiri. Fida yang melihat hal itu langsung berinisiatif mengambilkan air minum dan memberikannya kepada Reyhan. Reyhan menerimanya dan menenggaknya hingga tandas.


Vanya yang melihat hal itu masih belum mempercayai penglihatannya. Dia masih menatap interaksi Fida dan Reyhan bergantian.


"Kalian ini sudah seperti pasangan suami istri. Kenapa tidak langsung menikah saja." Celetuk Vanya.


Seketika Reyhan dan Fida langsung menoleh. Kali ini, Fida yang menjawab pertanyaan sang sahabat.


"Kenapa, sirik ya?" Kata Fida sambil tersenyum menggoda balik sang sahabat.


Reyhan yang melihat kedua sahabat itu tidak akan berhenti berbicara langsung menginterupsinya.


"Ehm, maaf. Apa boleh saya meminta kopi untuk dua orang?" Tanya Reyhan.


Fida yang mendengar pertanyaan Reyhan langsung menoleh dan tersenyum menatapnya.


"Tentu saja. Aku akan mengantarkannya ke ruang kerja nanti." Jawab Fida sambil tersenyum menatap wajah Reyhan.


Reyhan langsung mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya, dia terburu-buru segera kembali ke ruang kerja Kenzo.


Vanya yang melihat Reyhan sudah pergi langsung mengekori Fida yang hendak membuatkan kopi untuk Reyhan dan Kenzo. Dia masih penasaran dengan apa yang telah terjadi di antara Fida dan Reyhan.


"Apa maksudnya tadi Fid?" Tanya Vanya.


"Yang mana?" Tanya Fida pura-pura tidak mengerti.


"Iiiihh, kamu selalu saja bercanda." Gerutu Vanya sambil mencubit pinggang Fida.


"Eh, eh, iya, iya maaf. Sebentar aku buatkan kopi dulu. Setelah itu, aku akan bercerita." Jawab Fida.


"Baiklah, cepat buatkan kopinya. Aku akan mengantarkannya ke ruang kerja mas Kenzo." Kata Vanya.


"Eh, kenapa begitu, kan aku yang membuatnya." Protes Fida.


"Ya bisa dong. Kamu kan bukan muhrim mereka." Jawab Vanya.


Mendengar jawaban Vanya, Fida langsung mengerucutkan bibirnya. Namun, mau tidak mau dia mengikuti perkataan Vanya. Setelah selesai membuat kopi, Fida membiarkan Vanya mengantarkan kopi buatannya ke ruang kerja Kenzo. Sementara dirinya langsung beranjak menuju kamar tamu untuk membersihkan diri.


Tak berapa lama kemudian, Vanya terlihat memasuki kamar tamu tersebut. Dia segera beranjak menuju tempat tidur untuk menunggu Fida yang tengah berganti baju di dalam kamar mandi.


Ceklek


"Ada apa?" Tanya Vida sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.


"Ada apa, ada apa. Aku mau kamu menjelaskan semua yang telah terjadi tadi secara detail, tanpa ada sesuatu yang disembunyikan." Kata Vanya sambil menatap wajah Fida. Vanya terlihat sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi dengan sahabatnya itu.


Fida memutar bola matanya setelah mendengar perkataan Vanya.


"Aku kan sudah menjelaskan kejadian sebenarnya tadi." Elak Fida.


"Aku mau dengar ceritanya secara detail!" Kata Vanya dengan tatapan berapi-apinya.


Melihat keseriusan dari wajah Vanya, Fida akhirnya mengalah. Dia menceritakan asal muasal panggilan sayang tersebut kepada Vanya.


Vanya yang mendengar penjelasan Fida pun masih mengangguk-anggukkan kepalanya. 


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" Tanya Vanya.


"Aku? Memang apa lagi yang mau aku lakukan?" Tanya Fida.


"Maksudku, rencana perjodohan itu. Kamu yakin ingin menolak rencana pernikahan itu?" Tanya Vanya.


Vida pun mengangguk dengan mantap. Dia sangat yakin dengan keputusannya. Fida merasa dirinya tidak akan cocok dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya itu. Fida meyakini jika laki-laki itu memang berniat serius dengannya, dia pasti akan berusaha untuk mendekatkan diri, minimal telepon atau mengirim pesan kepadanya. Namun, ini selama hampir empat bulan tidak ada komunikasi yang terjalin sama sekali.


"Iya. Aku sudah yakin untuk menolak perjodohan ini." Jawab Fida. "Aku sedang mencari cara agar orang tuaku membatalkan rencana perjodohan itu." Lanjutnya.


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Lalu, apa kamu sudah punya rencana?" Tanya Vanya.


Fida menggelengkan kepalanya.


"Belum. Itu dia masalahnya, aku sama sekali belum mempunyai rencana yang matang. Aku sempat akan kabur dari rumah. Namun, aku mengurungkannya karena takut orang tua ku khawatir." Jawab Fida sambil meluruhkan bahunya seperti sangat putus asa.


Vanya merasa kasihan sekali melihatnya.


"Ehm, bagaimana jika kamu bilang sudah punya pacar. Mungkin orang tuamu akan membatalkan rencananya untuk menjodohkanmu." Kata Vanya penuh antusias.


Setelah mendengar jawaban Vanya, Fida langsung  mendelik menatap wajahnya. 


"Kamu ini ngawur saja kalau bicara. Mana ada rencana seperti itu. Pacar saja aku tidak punya. Jangan dikira papa akan sangat mudah percaya hanya dengan omongan. Mereka pasti mau bukti. Lalu, dimana aku akan mencari pacar bohongan?!" Ketus Fida.


Vanya tersenyum bahagia. Dia sangat yakin bisa membantu Fida kali ini.


"Aku akan membantumu. Jika kali ini aku bisa mendapatkan pacar bohongan untukmu, apa kamu tetap mau menjalankan rencana ini?" Tanya Vanya.


Fida menimbang pertanyaan sang sahabat. Jika dipikir-pikir, tidak ada salahnya mencoba hal itu. Batin Fida.


"Baiklah, jika kamu bisa membantuku untuk mencari pacar bohongan, aku akan menjalankan rencana itu." Jawab Fida dengan yakin.


Vanya tersenyum mendengarnya. Belum sempat dia menanggapi perkataan Fida, terdengar suara dari luar.


"Sayang, ayo cepat kembali ke kamar. Ada yang ingin aku bicarakan."


Deg


Haduh, ngalamat besok ngesot ini. Batin Vanya sambil menepuk keningnya.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda


Thank you