
Malam itu, El dan Fara langsung terlelap. Tidak ada adegan iyes-iyes yang dilakukan. Rasa capek karena acara seharian tadi membuat tubuh mereka meminta untuk segera diistirahatkan.
Pagi harinya, Fara sudah berusaha membangunkan El berkali-kali. Namun, tubuh laki-laki itu hanya bergerak sedikit. Bahkan, El justru semakin mengeratkan selimutnya pada tubuhnya.
Fara hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Dia meninggalkan El dan segera beranjak ke dapur untuk membantu mommy Vanya. Ya, mommy Vanya memang sering turun tangan sendiri untuk memasakkan sarapan untuk keluarganya. Bahkan, hampir setiap hari mommy Vanya memasak untuk keluarganya.
"Masih belum bangun juga El nya?" Tanya mommy Vanya saat melihat Fara memasuki dapur.
"Iya, Mom. Apa memang seperti itu setiap hari?" Tanya Fara. Dia memang tidak terlalu memperhatikan aktivitas pagi hari El.
"Nggak juga sih. Biasanya, jika capek El memang susah banget bangunnya. Mungkin karena kemarin capek banget, jadi dipuas-puasin tidurnya."
Fara mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, dia segera membantu sang mertua untuk menyiapkan sarapan. Sekitar satu jam kemudian, mereka sudah menyelesaikan kegiatan memasaknya. Fara membantu menyiapkan makanan di atas meja makan.
"Biar dilanjutkan bi Sur saja, Ra. Kamu segera naik bangunkan El." Kata mommy Vanya.
"Tinggal sedikit, Mom. Aku selesaikan dulu sebentar." Jawab Fara.
"Baiklah, jangan lama-lama." Kata mommy Vanya sambil beranjak menuju kamarnya.
Tak berapa lama kemudian, Fara telah menyelesaikan aktivitasnya. Dia segera beranjak menuju kamar El untuk membangunkannya.
Ceklek.
Pintu kamar pun terbuka. Fara masih melihat El yang tengah bergelung di dalam selimutnya.
"Mas, sudah siang ini. Bangun yuk, sarapan." Kata Fara sambil mengguncang-guncang lengan El.
"Hhhmmm." El masih enggan membuka matanya.
"Mas, acara hari ini dimulai dari pagi. Memang kamu yakin nggak mau ikut?"
"Hhhmmm." Lagi-lagi El hanya bergumam.
"Baiklah, nanti aku akan pergi dengan mang Iwan saja kalau begitu. Silahkan dilanjut lagi tidurnya." Kata Fara sambil beranjak pergi meninggalkan El.
Namun, belum sempat Fara melangkahkan kakinya, tangan kirinya sudah ditarik oleh El hingga dirinya jatuh kembali di atas tempat tidur.
"Eh,"
"Awas saja jika kamu berani pergi sama si Iwan." Kata El.
"Habisnya kamu susah banget dibanguninnya, Mas. Aku juga nggak enak ngerepotin daddy nanti." Jawab Fara.
"Iya, iya. Ini juga bangun. Kasih morning kiss dulu dong." Kata El sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
"Eh, ap-apaan itu morning kiss. Semalam kan sudah dirapel." Jawab Fara. Dia masih terlihat malu saat membahas masalah itu. Wajahnya saja sudah terasa panas saat membayangkan aktivitas mereka semalam. Padahal hanya adu mulut. Bagaimana jika, ah sudahlah.
Fara terlihat masih malu untuk melakukannya. Namun, jika dia tidak melakukannya, bisa dipastikan El tidak akan beranjak dari tempat tidurnya. Fara memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya. Dia melihat wajah El yang semakin dekat. Cup. Fara mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan El, bukan di bibir seperti permintaan sang suami. Setelahnya, Fara segera berlari keluar kamar menahan malu.
"Ccckkk. Masih malu-malu saja dia." Gumam El sambil meraba pipinya.
Sebuah senyuman menghiasi bibir El. Entah mengapa dia suka menggoda sang istri. Ditambah lagi saat melihatnya malu seperti tadi. Kehidupan baru yang berwarna, sepertinya tengah menantinya. Semoga saja.
Sementara di kamar Fara yang dulu, terlihat Fara sedang memegangi jantungnya yang berdetak tak karuan. Wajahnya juga masih memerah karena menahan malu.
"Astaga, begini amat rasanya mencium suami." Gumam Fara. Dia masih berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup sangat kencang.
Setelah cukup tenang, dia segera membersihkan diri. Seluruh barang-barang pribadinya masih berada di kamar bawah dan sebagian di rumah oma Tari. Mommy Vanya sudah meminta para asisten rumah tangga oma Tari untuk mengemasinya.
Sekitar satu jam kemudian, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan sarapan bersama. Tak terkecuali El dan daddy Kenzo.
"Nanti kita ziarah bareng-bareng ke makam Opa. Setelah itu, kamu antar Fara ke makam orang tuanya. Daddy dan mommy akan ke makam kakek dan nenek." Kata daddy Kenzo.
"Iya, Dad." Jawab El.
"Ingat, pulangnya jangan kesorean. Nanti malam sudah tarawih pertama. Awas saja jika bolos." Mommy Vanya ikut menimpali.
"Iya, Mom. Memang sekolah apa bolos segala." Gerutu El.
Tak berapa lama kemudian, mereka sudah bersiap-siap ke makam opa. Oma Tari dan keluarga Kezia juga sudah siap menunggu. Sore itu juga, oma Tari dan Kezia akan kembali ke Singapura. Oma sudah ada jadwal pemeriksaan kesehatan rutin satu minggu lagi. Jadi beliau ikut kembali hari itu.
Tak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk sampai di makam opa Mike. Mereka segera berdoa bersama di sana. Setelah cukup, mereka segera berpisah karena memiliki tujuan masing-masing yang berbeda.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Alhamdulillah akhirnya othor is back. Banyak banget yang dm kemarin, sebenarnya othor juga nggak mau pindah, sudah banyak banget babnya sayang jika harus pindah.
Othor minta maaf kemarin agak baper 🥺🥺
Othor juga manusia biasa yang kadang suka makjleb jika baca komen yang buat down seketika. Terima kasih untuk yang masih sabar menunggu up othor. Mohon maaf, othor sanggupnya juga ngetik segitu-segitu saja di sela-sela aktivitas. Untuk menyiasatinya, othor usahakan up 2x sehari jika memungkinkan.
Sekali lagi, terima kasih untuk yang masih sabar menunggu othor. Masih di suasana idul fitri, mohon maaf lahir dan batin. 🙏