
Malam itu, daddy El tengah bermain-main dengan kedua cucunya di ruang tengah. Cello saat itu belum pulang dari cafe karena ada acara di sana. Cello harus memastikan jika acara tersebut berjalan lancar, menunggu hingga acara tersebut berakhir.
Mommy Fara ikut bergabung dengan daddy El setelah membereskan makan malamnya bersama dengan Shanum dan juga bi Yam. Sementara Shanum sendiri, dia segera beranjak ke kamar untuk membereskan pakaian si kembar.
"Mas, nanti jika Cello dan mereka pergi ke Kanada, bagaimana?" tanya mommy Fara dengan wajah sedihnya. Dia sudah mulai menciumi pipi gembul kedua cucunya yang tengah bermain-main tersebut.
"Ya nggak apa-apa, Yang. Paling juga hanya sekitar satu tahun."
"Itu lama, Mas. Aku kan sudah sayang banget sama mereka."
"Iya, aku juga sama. Tapi, apa kamu tega membiarkan Cello sendirian di sana?"
Mommy Fara langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan daddy El. Ya, mana mungkin dia tega membiarkan putra semata wayangnya sendirian di Kanada. Mommy Fara sudah sangat tahu jika Cello memiliki sifat sama persis dengan sang daddy. Jadi, bisa dipastikan dia tidak akan mungkin jauh dari sang istri.
"Kalau aku kangen bagaimana, Mas?" kata mommy Fara dengan wajah sendunya.
"Ya, jika kangen kita susul saja ke sana."
"Aiissshhh, kamu in Masi. Yakin jika aku boleh nyusul mereka ke sana?" tanya mommy Fara sambil menatap tajam ke arah daddy El.
"Tentu saja boleh. Tapi, aku harus ikut." Jawab daddy El sambil menciumi pipi sang cucu.
Mommy Fara mencebikkan bibirnya setelah mendengar jawaban sang suami. Tentu saja daddy El pasti akan ikut. Mana mau dia ditinggal sendirian. Dan, itu yang tidak ingin dilakukan oleh mommy Fara.
Mommy Fara yakin, jika dia menyusul putranya ke Kanada, suaminya itu pasti akan mengikutinya. Lalu, semua urusan kantor pasti akan diserahkan kepada Fajar. Itu yang membuat mommy Fara tidak suka. Daddy El pasti akan membuat pekerjaan Fajar menjadi lebih berat. Apalagi, daddy El pasti akan ogah-ogahan nanti jika di ajak kembali ke Indonesia.
Melihat wajah sang istri yang tengah cemberut, daddy El langsung menarik tubuh mommy Fara dan memeluknya. Tak lupa juga beberapa kecupan ditinggalkannya di kening mommy Fara.
"Jangan terlalu dipikirkan, biarkan Cello dan Shanum belajar mandiri dengan keluarganya. Toh, itu juga tidak terlalu lama."
"Kata kamu satu tahun, Mas?" tanya mommy Fara sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah daddy El.
"Tidak harus satu tahun, Yang. Bisa jadi enam bulan, bahkan bisa juga lebih cepat dari pada itu. Semua tergantung dengan hasil yang ditunjukkan oleh Cello nantinya. Anggap saja Cello sedang kursus mengemudi. Dia mendapat jatah untuk melakukannya selama dua belas kali pertemuan. Namun, jika Cello sudah berhasil menguasainya dalam empat kali pertemuan, tentu saja dia bisa berhenti kapanpun dia mau," jelas daddy El.
Seketika wajah mommy Fara berbinar bahagia setelah mendengar penjelasan daddy El.
"Benarkah, Mas?"
"Tentu saja. Sistem di sana memang dibuat seperti itu."
Mommy Fara mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia melepaskan pelukan sang suami dan menatap wajah daddy El lekat-lekat.
"Lalu, untuk berangkatnya kapan, Mas?"
"Nggak jadi bulan depan?"
"Bulan depan untuk gelombang pertama. Itu dikhususkan untuk bagian produksi dan operasional," jelas daddy El.
Mommy Fara mengangguk-anggukkan kepalanya. Belum sempat mommy Fara menanggapi perkataan daddy El, terdengar suara Cello dari arah depan. Rupanya dia sudah pulang.
"Twins belum tidur, Mom?" tanya Cello begitu sudah mendekati kedua putranya.
"Belum. Mereka baru menyusu tadi. Kok sudah selesai?" tanya mommy Fara.
"Sudah. Acaranya untuk ulang tahun anak SMP Mom. Nggak mungkin juga acaranya sampai malam."
Daddy El dan juga mommy Fara hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu sana."
Cello yang sudah sangat gemas sekali dengan kedua putranya tersebut harus mengurungkan niatnya untuk mencium mereka. Cello segera beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri sebelum Shanum mengomelinya.
Ceklek.
Betapa terkejutnya Cello saat membuka pintu kamarnya. Dia melihat Shanum sedang mengeluarkan seragam dinas malamnya.
"Kenapa dikeluarkan, Yang?" tanya Cello dengan wajah penuh harap.
"Aku mau pakaias," jawab Shanum sambil tersenyum.
"Eh, nanti aku bisa sesak napas Yang. Memang sudah boleh?"
Tanpa bersuara, Shanum hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Cello. Sontak saja hal itu membuat wajah Cello berbinar bahagia. Cello buru-buru keluar kamar lagi dan menemui kedua orang tuanya.
"Mom, aku titip twins malam ini. Stok asi juga masih penuh kan?"
"Eh, memangnya kenapa?" Tanya mommy Fara bingung.
"Aku mau buatkan adik buat twins."
😱😱😱
Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. 🤧