
"Kenapa harus pasangan pura-pura jika aku sudah punya yang resmi?" Dena menoleh ke arah Kinan.
"Eh?" Kinan cukup terkejut mendengar perkataan Dena. "Maksud kamu apa, Den? Pasangan resmi? Kamu sudah punya pacar? Kok aku nggak tahu?" Cecar Kinan.
Dena mendesahkan napas ke udara. Mungkin, ini saatnya dia mengatakan statusnya kepada Kinan. Dia ingin sedikit mengurangi beban pikirannya. Setidaknya, Dena bisa menceritakan semuanya kepada sahabatnya tersebut.
"Sebenarnya, aku sudah menikah sekitar dua minggu yang lalu, Kin." Dena akhirnya berhasil mengatakan hal itu kepada Kinan.
Sontak saja kedua bola mata Kinan membulat dengan sempurna. Mulutnya juga membuka dan menutup seolah hendak mengatakan sesuatu.
"Se-serius kamu sudah menikah, Den?"
Dena menganggukkan kepala sambil mengangkat tangannya untuk menunjukkan cincin pernikahan di jarinya. "Iya, aku sudah menikah."
"Kok bisa? Kenapa kamu tidak mengundangku? Kamu jahat banget, ih." Kinan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Maaf, acaranya memang hanya untuk keluarga dan kerabat dekat. Jadi, kami tidak mengundang banyak tamu undangan."
Kinan masih mencebikkan bibirnya. Dia masih belum mempercayai apa yang dikatakan oleh Dena.
"Lalu, siapa suami kamu, Den? Apa aku mengenalnya?"
Dena menggigit bibir bawahnya. Tentu saja Kinan mengenal Rean. Kinan juga mengajar di kelas Rean. Dena masih tampak ragu mengatakan siapa suaminya. Namun, dia sudah mengatakan jika sudah menikah. Tidak baik rasanya jika menyembunyikan siapa suaminya yang sebenarnya.
"Ehm, iya kamu mengenalnya."
"Dia, dia adalah Rean mahasiswa kita."
"Eh? Rean? Rean yang mana?" Kinan tampak memikirkan sebuah nama sementara Dena masih mengamati reaksi Kinan. Beberapa saat kemudian, lagi-lagi kedua bola mata Kinan membulat sambil menoleh ke arah Dena. "Maksud kamu Rean Aksa mahasiswa semester satu?"
Kali ini Dena menganggukkan kepala. Entah bagaimana ekspresinya saat itu. Dia masih fokus memperhatikan reaksi Kinan. Dan benar saja. Kinan langsung heboh saat mendapatkan jawaban dari Dena.
"Oh My God! Beneran kamu menikahi Rean Aksa? Seriusan, Den? Berondong ganteng itu? Astaga, ini benar-benar berita besar. Serius ini, Den?" Kinan masih terus heboh hingga membuat berisik taksi tersebut. Entah apa yang dipikirkan sopir taksi tersebut saat melihat kedua penumpangnya benar-benar heboh.
Setelah itu, Dena mulai menceritakan semua kejadian yang dialaminya mulai dari rencana perjodohan hingga proses akad nikah. Dena juga menceritakan tingkahnya saat meminta Rean menjaga jarak setidaknya, sampai Rean lulus kuliah.
Obrolan mereka masih terus berlanjut hingga keduanya berada di dalam pesawat.
"Ckckck, kamu benar-benar keterlaluan, Den. Mana ada pernikahan yang seperti itu. Meskipun aku belum menikah, tapi aku juga tahu arti pernikahan itu sendiri. Ketika janji sakral itu sudah terucap, kalian berdua sudah disatukan dalam ikatan suci. Sudah seharusnya juga kalian mulai menjalani kehidupan pernikahan secara normal. Saling memberi dan saling menerima."
"Aku setuju dengan apa yang dikatakan mami kamu, Den. Jangan karena Rean masih muda, kamu seenaknya memperlakukan dia seperti itu. Rean juga punya perasaan. Dia punya hati yang juga harus kamu jaga."
Dena mengangguk-anggukkan kepala. Dia meresapi benar apa yang dikatakan oleh Kinan tadi. Setelah itu, obrolan kembali mereka lanjutkan hingga keduanya harus berpisah setelah pesawat landing dan mereka harus kembali ke rumah masing-masing.
Saat itu, Dena tidak tahu jika Rean juga sudah kembali ke Jakarta. Rean ingin memberikan kejutan kepada Dena dengan kedatangannya.
\=\=\=
Ehm, siapakah yang akan terkejut nanti?