
Pagi itu juga Rean bergegas ke Bandung. Selama dalam perjalanan, Rean juga berulang kali menghubungi Dena. Namun, panggilan teleponnya tetap tak tersambung. Bahkan, pesan yang dikirimkannya sejak kemarin pun belum dibaca. Rean benar-benar frustasi.
Meskipun begitu, Rean tetap mencoba untuk memahami sang istri. Mungkin memang istrinya tersebut memerlukan waktu untuk menenangkan diri. Apalagi, mereka juga baru saja saling mengenal. Hubungan yang masih beberapa hari ini, pastilah belum mempunyai ikatan yang terlalu kuat di antara mereka. Rean hanya bisa berharap jika Dena segera mengangkat panggilan teleponnya.
Rean tiba di Bandung saat makan siang. Dia langsung menuju ke sebuah restoran yang berada tak jauh dari distro barunya. Ya, Rean memang membuka cabang distro di Bandung. Saat ini, pembangunan distro tersebut sudah mencapai delapan puluh persen. Sudah terlihat dengan jelas model dan bentuk bangunan tersebut. Hanya tinggal memasang pintu, jendela dan pelengkap lainnya.
Rean segera mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang menghubunginya tadi. Ya, Rean mencari Arya, laki-laki yang menghubunginya tadi pagi.
Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahunan, terlihat melambaikan tangan ke arah Rean. Melihat hal itu, Rean segera bergegas menghampiri.
"Hallo, Bang Arya. Apa kabar?" sapa Rean sambil mengulurkan tangan.
"Baik, Re. Kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah baik, Bang."
"Duduk dulu. Makan siang dulu, ya? Aku yakin kamu pasti belum makan siang."
"Hehehe, iya, Bang."
Setelah itu, Bang Arya dan Rean mulai memesan makan siang untuk mereka. Sambil menunggu pesanannya datang, mereka mengobrol.
"Sebenarnya ada apa, Bang? Apa ada hal yang serius?" Rean tampak penasaran. Sepanjang perjalanan, Rean sempat menduga-duga hal apa yang membuat Bang Arya memintanya datang saat itu juga ke Bandung.
"Ini tentang lokasi distro. Begini Re, lokasi yang kamu beli untuk pembangunan distro kemarin sebenarnya bukan hanya milik satu orang saja. Ternyata, tanah itu masih milik bersama Gunawan dengan dua orang adiknya, bukan hanya milik Gunawan saja."
"Lalu bagaimana, Bang? Kita sudah hampir selesai membangun ini? Kenapa ini baru ketahuan sekarang?" Rean benar-benar bingung.
"Maafkan aku, Re. Aku juga tidak menyelidikinya terlebih dahulu." Bang Arya tampak merasa bersalah.
"Lalu ini bagaimana? Kita harus mengembalikan tanah tersebut?"
Bang Arya menggelengkan kepala. "Tidak, Re. Mereka tidak akan meminta tanah itu kembali jika kamu mau membeli sekalian tanah yang ada di sampingnya itu. Jika tidak mau, mereka baru akan meminta kembali."
"Hhaa? Aku harus membeli tanah itu, Bang?"
Bang Arya menganggukkan kepala dengan wajah bersalah. Biar bagaimanapun juga, kejadian ini juga karena kelalaiannya.
"Tapi tanah di sampingnya ini jauh lebih luas, dari tanah yang aku beli kemarin, Bang. Bisa jadi, dua kali lipat lebih besar dari kemarin."
"Iya, Re. Luas tanahnya dua setengah kali lipat lebih besar dari tanah kemarin."
Rean langsung merasa lemas saat itu juga. Dua setengah kali lipat? Dari mana dia mempunyai uang sebanyak itu untuk membeli tanah di samping distronya? Batin Rean.
"Mereka minta berapa?" Rean tak mampu lagi menahan rasa ingin tahunya.
"Sama seperti kemarin, Re. Tapi, mungkin masih bisa nego untuk bagian yang menghadap utara. Bagian itu milik adik Gunawan yang paling kecil," ucap Bang Arya.
Rean hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Sepertinya, masalah yang dihadapi Rean datang bertubi-tubi. Entah apa yang harus dilakukannya saat ini.