The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 96



Setelah kepergian Cello dan juga Aldi, Danisha terlihat sangat kalut. Dia berteriak histeris sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Dia juga sempat menatap nanar kepada para pengunjung restoran yang sedang memperhatikannya. Danisha langsung beranjak pergi dari restoran tersebut dengan wajah memerah menahan amarah.


Daddy El dan juga Zee yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kini, mereka bisa bernapas lega setelah berhasil membalas tindakan Danisha. Mereka tinggal menyerahkan kepada pihak kepolisian tentang laporan pencemaran nama baik Cello.


"Gue benar-benar nggak menyangka wanita mendesah itu bisa melakukan hal seperti itu. Entah seperti apa jadinya itu lubang buaya," kata Zee sambil minum jus jeruknya.


"Lower, ndlower plus njleber."


"Lalu itu dia bawa plembungan (baca balon) sebesar itu kemana-mana apa nggak capek punggungnya. Gue bayanginnya sampai sakit punggung. Ya kali dia bisa jalan tegak, yang ada juga pasti bungkuk-bungkuk gitu." 


Daddy El yang mendengarnya hanya bisa mencebikkan bibirnya. Namun, tiba-tiba mereka tersentak saat mendengar sebuah suara menginterupsi.


"Jadi sejak tadi kamu buru-buru kembali keluar kamar hanya untuk memperhatikan plembungan perempuan tadi, Mas?!" tanya Kiara yang mendadak sudah berdiri di samping Zee.


Seketika dua orang laki-laki yang tengah bersantai tersebut langsung menegakkan tubuhnya. Terutama Zee. Dia terkejut saat mendapati sang istri sudah berada di dekatnya.


"Eh, bu-bukan begitu, Yang. Mana mungkin aku tertarik sama plembungan yang seperti mau meledak itu. Mau di uyel-uyel juga nggak enak rasanya, bantat." Kata Zee sambil buru-buru berdiri menghampiri sang istri. 


Tanpa tau malu Zee langsung memeluk tubuh sang istri dari arah samping dan memberikan banyak kecupan pada pelipisnya. Hal itu membuat daddy El yang melihatnya hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan sang sahabat. 


"Apaan sih, Mas. Malu tahu dilihat yang lainnya. Ada kak El juga ish!" Protes kiara saat masih merasakan kecupan bertubi-tubi dari sang suami.


"Biarkan saja, Ki. Suami kamu itu jika tidak dituruti pasti rese nanti. Bisa-bisa, orang-orang yang ada di sekitarnya akan kena imbasnya." Kata daddy El sambil beranjak berdiri.


"Enak saja. Emang gue seperti Lo!" Protes Zee tidak terima.


"Emang gue ngapain? Gue kan pendiam orangnya," kata daddy El membela diri.


"Hooeekkkkk." Iyuuuhhhh, pendiam? Fotonya kali El yang pendiam.


Setelahnya, daddy El segera berpamitan. Dia masih harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tak lupa juga daddy El mengucapkan terima kasih kepada sahabatnya tersebut atas bantuan yang diberikannya.


Sementara di rumah, Cello terlihat baru saja memarkirkan kendaraannya. Dia segera berjalan menuju ruang tengah rumahnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan sang istri. Namun, dia sama sekali tidak menemukan siapapun di sana.


"Astaga, Yang! Apa yang kamu lakukan? Ayo cepat turun. Bahaya." Kata Cello sambil buru-buru menghampiri sang istri.


Shanum yang melihat kedatangan Cello langsung tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk minta diturunkan. Mau tidak mau, Cello segera membantu Shanum untuk turun.


"Kamu ini jangan melakukan hal-hal berbahaya begitu, Yang. Ingat ada baby."


"Nggak tinggi kok, Mas. Tuh lihat pohonnya juga hanya setinggi siku, paling sekitar satu meter."


"Ya meskipun begitu, tetap saja bahaya, Yang. Jangan di ulangi lagi, ya."


"Iya, iya. Maaf, Mas."


"Bagaimana naiknya tadi?"


"Pakai kursi kayu itu, hehehe." Jawab Shanum sambil tersenyum nyengir.


Cello hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Memang ada ya tingkah wanita hamil seperti Shanum, batin Cello.


"Jangan diulangi lagi," kata Cello.


"Iya, iya, Mas. Tadi hanya bisa nungguin pak Mus."


Kening Cello berkerut setelah mendengar perkataan Shanum.


"Memangnya pak Mus kemana?"


"Itu, diatas pohon kelapa. Aku pengen minum air kelapa muda yang baru dipetik Mas. Hehehe."


"Astaga, pak Mus?!"


Semoga calon anak-anaknya Cello nggak mewarisi sifat orang tuanya yang, ah sudahlah.