
Tak terasa hari yang tunggu oleh Shanum dan juga Cello sudah tiba. Hari ini, Shanum akan berangkat ke Kanada beserta kedua buah hatinya. Jangan lupakan juga mommy Fara dan juga daddy El yang ikut mengantar mereka mereka ke Kanada.
Awalnya, Shanum menolak saat hendak di antarkan kedua mertuanya. Dia merasa tidak ingin merepotkan mommy Fara dan juga daddy El. Namun, dasarnya daddy El yang mau istirahat dari pekerjaannya sejenak, dia tetap memaksa untuk ikut ke Kanada. Daddy El beralasan tidak tega membiarkan Shanum berangkat sendiri hanya dengan ditemani Mbak Siti, sang baby sitter.
Sebenarnya, bukan hanya itu alasan daddy El ingin pergi ke Kanada. Dia ingin mengajak mommy Fara honeymoon. Daddy El masih menyembunyikan hal itu dari mommy Fara. Dia ingin membuat kejutan untuknya nanti.
Perjalanan yang sangat melelahkan untuk Shanum karena dia harus bergantian menjaga kedua buah hatinya yang berusia hampir empat bulan bergantian dengan kedua mertuanya dan baby Sitter bayinya.
Menjelang tengah malam, Shanum dan keluarganya tiba di rumah Cello. Cello sudah menunggu kedatangan mereka sejak sore hari. Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan dua jagoannya tersebut.
"Mommy dan daddy istirahat saja dulu. Kamarnya ada di lantai dua. Dan Mbak Siti, bisa istirahat di kamar yang berada di ujung itu," kata Cello sambil menunjuk ke arah pintu.
"Kalian tidur dimana?" tanya mommy Fara.
"Kamar kami di lantai satu, Mom. Aku sudah menyiapkan semuanya di lantai satu. Tidak mungkin nanti kami akan naik turun tangga untuk menjaga twins, kan."
Mereka semua mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelah itu, semuanya beranjak menuju kamar masing-masing. Mereka ingin segera membersihkan diri dan beristirahat. Penerbangan yang sangat lama membuat mereka mengalami jet lag.
Keesokan harinya, Shanum sudah selesai memandikan twins. Meskipun acara mandi hari itu agak terlambat karena jet lag yang dialaminya.
Kini, tiga hari sudah Shanum dan keluarganya berada di Kanada. Mereka sudah mulai bisa beradaptasi dengan kondisi serta lingkungan baru di sana. Pagi itu, Cello harus bersiap ke tempat pelatihan. Kedua orang tuanya sudah berangkat melakukan olahraga pagi di sekitar rumah.
"Mas, biasanya pulang jam berapa?" tanya Shanum sambil membantu sang suami merapikan pakaiannya.
"Jam 5, Yang. Kenapa? Ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Cello sambil mengusap pipi sang istri. Dia benar-benar merindukan wajah wanita yang sudah memberikannya dua orang putra tersebut.
Shanum menggelengkan kepalanya. Dia mengulas senyumannya sambil berjinjit dan memberikan sebuah kecupan untuk sang suami. Namun, saat Shanum hendak menjauh, kedua tangan Cello justru menahan tubuhnya hingga kini tubuh mereka saling menempel. Bahkan, Cello dengan penuh semangat menggerak-gerakkan tubuh Shanum hingga membuat sesuatu yang berada di bawah sana menggeliat resah.
Shanum yang menyadari tingkah sang suami segera mencubit lengannya agar dilepaskan. Dan benar saja, Cello langsung melepaskan pelukannya sambil meringis dan mengusap-usap lengannya bekas cubitan Shanum.
"Apa-apan sih, Yang? Sakit lho ini," protes Cello.
"Kamu yang apa-apa, Mas. Sudah mau berangkat juga masih saja suka usil. Itu apalagi yang bawah, disenggol sedikit langsung molet."
Molet? Num, Shanum. 🤦♀️