
Cello hanya bisa pasrah saat sang istri menyeretnya berjalan menuju tempat parkir. Mereka meninggalkan Aldi yang masih mengomel di kantin karena ulah absurd mereka tersebut.
"Kenapa harus buru-buru sih, Yang?" Tanya Cello sambil membukakan pintu untuk sang istri. Dia juga membantu Shanum memasuki mobil dan memasangkan seatbelt hingga Shanum merasa nyaman.
Setelahnya, Cello langsung memutar dan berjalan menuju kursi kemudi.
"Aku sudah nggak sabar mau mainan sosis," jawab Shanum sambil menaik turunkan alisnya. Jangan lupakan tangannya yang juga sudah nangkring sempurna pada sosis yang dimaksudnya tersebut.
Sontak saja Cello hanya bisa mendesis sambil berusaha menelan salivanya dengan kasar.
"Yang, bahaya ini. Mau jalan, jangan digoda terus. Takut ada tilangan polisi nanti." Kata Cello berusaha untuk tidak membuat sang istri tersinggung.
Maklum saja, mood wanita hamil gampang meledak-ledak. Bagi Cello sih nggak apa-apa jika meledak di saat yang tepat, tapi jika di saat yang tidak tepat, jangan harap dia bisa tenang sepanjang sisa hari itu.
Shanum langsung menoleh menatap wajah sang suami. Namun, tangannya sudah berpindah dari tempat kejahilannya. Kening Shanum berkerut saat menatap wajah Cello. Dia masih belum mengerti apa maksud perkataan sang suami tersebut.
"Apa hubungannya dengan tilangan polisi? Jangan suka ngawur deh, Mas. Bilang saja kamu nggak suka!" Kata Shanum dengan ketus. Dan lihat saja, wajahnya sudah terlihat sangat kesal.
Cello yang melihat tanda bahaya tersebut langsung berusaha menenangkan sang istri.
"Bukan begitu, Yang. Ketika berkendara kan tidak boleh mengeluarkan anggota tubuh, bisa kena tilang nanti." Jawab Cello sambil tersenyum. Dia sudah mulai menjalankan mobilnya menuju rumah.
"Memangnya kamu mau mengeluarkan dimana itu alat pompa alamimu, Mas? Mau kamu umbar di luar mobil begitu?!" Tanya Shanum dengan wajah semakin kesal.
Cello yang semula hanya berniat untuk menggoda sang istri pun sekarang menjadi semakin bingung.
"Bu-bukan begitu, Yang. Mana mungkin aku melakukannya. Enak saja di umbar keluar. Aku maunya hanya diumbar di depan kamu saja, nggak mau di tempat lain, hehehe." Jawab Cello sambil tersenyum nyengir.
"Awas saja jika kamu macam-macam, Mas! Aku pastikan kamu akan tinggal di dalam kamar sampai besok!" Ancam Shanum.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Cello sudah memasuki halaman rumah. Cello langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Dia juga segera membantu Shanum untuk melepas seatbelt dan turun dari dalam mobil.
Saat mereka hendak berjalan memasuki rumah, terdengar suara seseorang memanggil namanya.
"Kak Cello! Kak Shanum!"
Seketika Cello dan Shanum menghentikan langkah kakinya. Mereka menoleh menatap ke arah sumber suara. Bibir mereka langsung menyunggingkan senyuman saat melihat siapa yang telah memanggil mereka.
"Rean?! Kapan kamu datang?" Tanya Shanum saat tiba-tiba sang adik memeluknya dengan cukup erat.
"Tadi pagi," jawab Rean sambil melepaskan pelukannya. Kini, dia gantian memeluk sang kakak ipar.
"Sendirian?"
"Enggak, Kak. Sama mama dan juga papa. Tapi, mereka langsung ke kantor setelah dari bandara. Ada acara perkenalan atau apa gitu tadi. Nanti malam mereka mau ke sini, kok." Jawab Rean.
"Benarkah?!" Tanya Shanum dengan wajah berbinar bahagia. Sudah lama dia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Tentu saja dia sangat kangen dengan mama dan papanya.
"Tentu saja. Ehm, nanti malam aku nginep disini ya, Kak. Ada yang mau aku obrolin dengan kak Cello tentang pilihan kampus." Kata Rean meminta ijin kepada Shanum.
"Boleh! Tentu saja boleh. Kamu bisa tidur di sini malam ini." Jawab Cello dengan cepat.
Selamat, selamat. Aku tidak harus berada di dalam kamar semalaman, batin Cello lega. Dia tersenyum dengan penuh rasa puas. Namun, seketika senyumannya tersebut langsung luntur saat mendengar perkataan sang istri.
"Boleh. Tapi tidak boleh mengganggu suami Kakak nanti malam. Kedua calon anaknya mau main billiard sama daddynya." Kata Shanum.
"Astaga? Masih doyan juga main kodok-kodokan meski sudah sebesar itu kandungannya?!"