The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 79



Setelah merasa cukup beristirahat, Dena bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Dia melirik jam pada ponselnya yang menunjukkan pukul 07.20 pagi. Panas matahari pagi, sudah mulai terasa hari itu.


Dena menyeruput kopinya sebelum beranjak berdiri. Setelah itu, dia segera berjalan menuju mobilnya terparkir. Pikiran Dena, lagi-lagi masih menerawang kepada Rean. Sekali lagi, sebelum menyalakan mobilnya, Dena mencoba menghubungi Rean. Seperti sebelum-sebelumnya, ponsel tersebut masih belum bisa dihubungi. Entah mengapa Dena menjadi semakin gelisah.


Setelah menyimpan ponselnya, Dena segera bersiap menyalakan mobil. Dia langsung mengendarai mobil tersebut keluar dari rest area. Baru beberapa saat mobil tersebut keluar dari rest area, tiba-tiba ada mobil dari arah belakang yang melaju dengan cukup kencang.


Dena yang kurang fokus tidak menyadari hal itu. Dena masih mengendarai mobilnya sedikit lebih ke tengah. Hingga, serempetan mobil pun tak bisa dihindari. Mobil Dena diserempet hingga membuat kaca spion bagian kanannya lepas. 


Saking terkejutnya, Dena membanting setir ke arah kiri dan langsung menabrak ujung pembatas jalan. Mobil tersebut sempat berputar dua kali hingga akhirnya berhenti saat menabrak tiang penunjuk jalan, tepat mengenai pintu bagian setir. Seketika Dena langsung tak sadarkan diri karena ada benturan tersebut.


Sementara di Bandung, Rean sudah dipaksa bangun oleh sang mama. Mau tidak mau, dia hanya bisa menuruti perkataan mama Revina. Rean segera beranjak menuju kamar mandi, sementara mama Revina menunggunya sambil menyiapkan sarapan.


Siang itu, Rean dan papa Bian ada janji dengan pemilik lahan untuk membicarakan rencana pembelian lahan tersebut.


Saat mama Revina sedang menyiapkan sarapan untuk Rean, tiba-tiba papa Bian berjalan memasuki kamar Rean dengan terburu-buru. Wajahnya pucat dan panik dengan ponsel di tangannya. Mama Revina yang melihat ekspresi papa Bian mengerutkan keningnya.


"Dimana Rean?" tanya papa Bian tergesa-gesa sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kamar hotel tersebut.


"Dia sedang mandi, Mas. Ada apa? Kenapa panik begitu?"


Papa Bian belum menjawab pertanyaan mama Revina. Dia melihat ponsel Rean yang tergeletak di atas nakas dan berjalan menghampirinya. Papa Bian langsung mengambil ponsel tersebut dan memeriksanya. Ternyata ponsel tersebut mati.


Papa Bian menoleh ke arah mama Revina dengan ekspresi paniknya. "Ponsel Rean tidak bisa di hubungi."


"Eh, mungkin kehabisan baterai, Mas. Ada apa?"


"Mertuanya menghubungi Rean tapi tidak bisa. Dena kecelakaan."


"Istri kamu kecelakaan di jalan tol saat hendak kemari, Re?"


Seketika tubuh Rean merasa lemas. Dia bahkan harus berpegangan pada dinding untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh. Pikirannya seolah buntu. Dia merasa tidak bisa berpikir apa-apa lagi saat itu.


Beruntung papa Bian dan mama Revina ada untuk membantunya. Pagi itu juga, Rean dan kedua orang tuanya bergegas menuju rumah sakit tempat Dena dirawat. Sementara kedua orang tua Dena, sedang dalam perjalanan menuju Bandung.


Rean benar-benar kalut hari itu. Dia merutuki kebodohannya yang tidak memeriksa ponsel. Setelah mengambil powerbank, Rean langsung mengisi daya ponselnya tersebut. Dia mengusap wajahnya dengan kasar saat mendapati puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari sang istri. Rean benar-benar menyesal.


Hari itu juga, Dena menjalani operasi pada bahunya yang retak karena benturan. Dena juga menjalani tindakan pada pergelangan kakinya yang pada saat kecelakaan terjepit.


Kedua orang tua Dena pun juga sudah tiba di rumah sakit. Rean berulang kali meminta maaf kepada kedua mertuanya. Dia benar-benar merasa bersalah saat menyadari jika Dena pasti berangkat ke Bandung untuk menyusulnya, saat pesan dan telepon Dena tidak mendapat respon dari Rean.


Beberapa saat kemudian, operasi Dena sudah selesai dan berhasil dengan baik. Dia bahkan juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


"Maafkan aku, Pi, Mi." Rean tak henti-hentinya meminta maaf kepada kedua mertuanya.


"Sudah, Re. Jangan meminta maaf terus. Mungkin memang sudah seperti ini jalannya. Yang terpenting sekarang, Mayang sudah ditangani. Operasinya juga sudah berjalan dengan baik. Papi dan mami hanya bisa meminta kamu menjaga Mayang setelah ini."


Rean mengangguk-anggukkan kepala dengan mantab. Dia berjanji akan menjaga Dena dengan baik setelah ini.


\=\=\=


Sambil menunggu up, bisa mampir di cerita Geraldy's Family ya. Ada si gemoy Zee yang suka main heyicopel 🤭