The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 102



Kini, dua bulan pun sudah berlalu. Hari ini, Shanum sedang berada di rumah mama Revina. Ya, keluarga Shanum memang sudah pindah ke rumah baru mereka yang ada di Jakarta. Beruntung jarak rumah baru tersebut tidak sejauh rumah kakek dan nenek Shanum.


Shanum sudah berada di sana sejak pagi. Dia diantar oleh Cello saat hendak pergi ke cafe miliknya. Cello membantu Shanum turun dari kendaraan dan mengantarkannya masuk ke dalam rumah sebelum berangkat.


"Assalamualaikum, Ma." Sapa Shanum saat berjalan menuju dapur. Dia melihat sang mama tengah membersihkan dapur bersama seorang asisten rumah tangga.


"Waalaikumsalam. Eh, kalian sudah datang,"


Setelah saling tegur sapa, Cello segera pamit untuk pergi ke cafe. Sementara Shanum akan ditinggal di rumah mama Revina.


"Papa sudah berangkat, Ma?" Tanya Shanum sambil mendudukkan diri di kursi yang berada di ruang makan.


"Sudah. Papa kamu bahkan berangkat sebelum sarapan tadi. Dia harus menemani pak Kaero ke Bogor hari ini."


"Lho, pak Kaero sudah kembali ke Jakarta?"


"Sudah, lah. Memangnya pak Kaero mau menetap di Jepang?"


"Ya, aku kan nggak tahu, Ma. Setahuku, pak Kaero memang sering ke sana."


"Iya, itu karena putra pertamanya memang ada di Jepang dengan istrinya."


Shanum hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tak mendapati keberadaan Rean.


"Rean kemana, Ma?" Tanya Shanum sambil meletakkan gelas yang baru saja diteguk isinya.


"Sedang siap-siap."


"Memangnya mau kemana?"


"Mau ke kampus. Hari ini adik kamu mau mengurus apa gitu, mama lupa."


"Sudah fix mau ambil kuliah di sana, Ma?"


"Iya. Adik kamu nggak mau satu kampus sama kakak-kakaknya. Katanya takut nggak bebas." Jawab mama Revina sambil terkekeh geli.


Shanum hanya bisa berdecak kesal saat mendengar perkataan sang mama.


"Ccckkk, memangnya dia mau bebas ngapain, Ma? Awas saja jika dia sampai aneh-aneh."


Belum sempat mama Revina menjawab pertanyaan Shanum, dari arah tangga terdengar suara Rean.


"Memangnya aku mau ngapain sampai diawasi segala sih, Kak?" Tanya Rean sambil berjalan menuruni tangga.


"Ya, awas saja jika kamu bertingkah nanti. Kakak pasti akan tetap ngawasin kamu meski tidak satu kampus." Jawab Shanum.


Rean hanya bisa mencebikkan bibirnya sambil menarik kursi yang ada di depan Shanum.


"Aku sudah besar, Kak. Jangan disamakan dengan anak kecil lagi." Protes Rean.


Setelahnya, perdebatan absurd kedua kakak adik tersebut kembali terjadi hingga mama Revina harus menghentikan perdebatan tersebut. 


Tak berapa lama kemudian, Rean segera berangkat ke kampus. Beruntung Rean sudah mempunyai kenalan yang akan kuliah di kampus yang sama dengannya. Dia adalah Dandi Yasuna, tetangga kakek dan neneknya.


Beberapa saat kemudian, Rean sudah memarkirkan motor besarnya di parkiran kampus. Dia sudah melihat banyak sekali para calon mahasiswa baru yang sudah berada di sana. Rean masih berada di parkiran dan sedang mengirimkan pesan untuk Dandi. 


Tak berapa lama kemudian, ponselnya langsung berdering menampakkan nama Dandi di sana. Rean langsung menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.


"Hallo, Dan. Dimana ini?"


"Sorry, Re. Gue masih di bengkel. Motor gue kena paku. Lo duluan saja."


"Yakin nih gue tinggal?"


"Iya, nggak apa-apa. Gue masih lama ini. Kasihan lo kelamaan nanti nunggunya."


Rean akhirnya menyetujui perkataan Dandi. Setelah mematikan panggilan teleponnya, Rean segera berjalan menuju tempat registrasi mahasiswa baru. Dia lebih menyelesaikan registrasi langsung daripada online. Beruntung lokasi kampusnya juga lumayan dekat dengan rumah.


Rean masih harus antri dan menunggu giliran. Dia menunggu di tempat yang agak sepi dari lalu lalang mahasiswa. Rean menunggu sambil bersandar di dinding dekat tangga dekanat sambil memainkan ponselnya.


Saat sedang fokus pada ponselnya, tiba-tiba kepala Rean kejatuhan dua buah buku setebal kamus. Apalagi cover buku tersebut sangat tebal. Alhasil dia bisa merasakan nyut-nyutan di kepalanya.


Brukk.


"Aauuwwhhh," pekik Rean sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja kejatuhan buku.


"Eh, aduh. Maaf-maaf, tanganku licin jadi peganganku terlepas. Maaf, sakit ya? Ada yang bisa aku bantu?" Kata seorang gadis yang tiba-tiba berdiri di depan Rean dengan wajah bersalahnya.


Rean masih membatu saat melihat gadis tersebut. Dia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Iya, ada. Bantu aku mengetikkan nomor ponsel kamu di sini," kata Rean sambil menyodorkan ponselnya.


"Hhaaah, apa?"


Ya elaaahhh, apa lagi ini? 😩