
"Kurungan?" Tanya Kenzo bingung. "Aku kan tidak beli ayam. Kenapa harus beli kurungan," lanjutnya sambil menatap Vanya.
"Bukan kurungan ayam, tapi kurungan burung emprit," jawab Vanya.
Kenzo yang mulai memahami arah pembicaraan Vanya langsung mendengus kesal.
"Enak saja emprit, gagak tahu," jawab Kenzo tidak terima. "Kamu akan memohon ampun jika sudah mendapat serangan gagak nanti," lanjut Kenzo sambil tersenyum smirk.
Melihat dua orang yang sedang berdebat, petugas minimarket pun mendekat.
"Ada yang bisa dibantu?" Tanya petugas minimarket tersebut.
Seketika Vanya dan Kenzo menoleh menatap petugas minimarket tersebut. "Oh iya, maaf mas dimana tempat underwear pria?" Tanya Kenzo.
Petugas minimarket tersebut tersenyum dan mengangguk. Dia menunjukkan bagian yang dicari Kenzo. Kenzo segera mengikuti petugas minimarket tersebut. Sementara Vanya hanya diam tanpa bergerak. Dia merasa malu jika harus ikut, jadi dia menunggu sambil memilih beberapa daging ayam yang ada di bagian makanan.
Kenzo yang merasa kehilangan Vanya pun segera menoleh. Dia mencari-cari keberadaan Vanya yang tidak nampak dari pandangannya. Setelah menemukan Vanya yang berada di bagian makanan, Kenzo segera memilih underwear yang diinginkannya. Sebenarnya dia merasa malu membeli underwear sendiri, karena selama ini yang mengurusi dan mempersiapkan kebutuhannya adalah sang asisten, Reyhan. Jika bukan karena dia tidak membawa underwear, dia tidak bakal mau bersusah payah seperti ini.
Setelah menemukan ukuran yang diinginkan, Kenzo segera berjalan menghampiri Vanya. Dia meletakkan benda yang dibawanya itu ke dalam trolley yang tengah di dorong oleh Vanya. Menyadari hal itu, Vanya langsung menoleh ke arah Kenzo.
"Iiiihh itu kenapa ditaruh di sini?" Gerutu Vanya sambil menunjuk underwear yang baru saja diletakkan oleh Kenzo.
"Kamu mau membawanya?" Tanya Kenzo balik.
Karena kesal, Vanya hanya mendengus dan berlalu meninggalkan Kenzo yang masih berdiri di tempatnya tadi. Vanya berlalu menuju tempat makanan ringan. Dia membeli beberapa makanan ringan dan beberapa potong daging ayam. Dia ingin membuat sup ayam.
Setelah semua keperluan yang di inginkan di peroleh, Vanya segera membawa belanjaannya menuju kasir. Sementara Kenzo mengekori dibelakangnya. Petugas kasir yang menghitung belanjaan mereka hanya senyum-senyum sendiri ketika melihat Kenzo. Vanya yang hendak membayar dilarang oleh Kenzo. Dia sudah mengeluarkan kartu dalam dompetnya.
"Aku yang bayar semua," katanya sambil memberikan kartu kepada petugas kasir.
Vanya hanya bisa diam. Dia sudah mulai hafal dengan sifat Kenzo yang tidak ingin dibantah.
"Silahkan tuan, selamat berbelanja kembali," kata petugas kasir sambil menyerahkan kartu dan belanjaan mereka.
Kenzo segera mengambilnya dan berjalan keluar minimarket. Sementara Vanya mengekori Kenzo di belakangnya. Setelah siap, Kenzo segera menjalankan motornya untuk kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Vanya segera membawa belanjaannya menuju dapur. Dia juga menyerahkan belanjaan Kenzo yang tadi sempat dijadikan satu oleh petugas kasir. Vanya bergidik ngeri ketika mengeluarkan benda itu dari dalam tas belanjaannya. Kenzo mengamati tingkah Vanya dari dekat pintu. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vanya.
"Tidak usah merasa geli seperti itu, mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan benda itu," kata Kenzo.
Vanya memutar badannya hingga kini menghadap ke arah Kenzo.
"Untuk apa aku harus terbiasa dengan benda seperti itu?" Tanya Vanya.
"Cccckkk masih tanya lagi. Sebentar lagi kita akan menikah, jadi semua keperluanku kamu yang urus," jawab Kenzo.
Vanya mendengus kesal. "Enak saja, itu kan area pribadi, harus diurus sendiri-sendiri dong,"
"Lalu apa gunanya punya istri jika semua harus diurus sendiri?" Tanya Kenzo yang tidak mau kalah. "Bukanya istri yang harus melakukannya," Lanjut Kenzo.
"Lhah, memang Mas mau cari istri atau cari pembantu sih," jawab Vanya.
"Bukan begitu, tapi seorang istri kan memang harus menyiapkan kebutuhan suaminya. Mama juga selalu seperti itu kepada papa," kata Kenzo.
Vanya tidak mau menyahuti perkataan Kenzo. Dia benar-benar malas meladeninya. Vanya masih sibuk mengeluarkan belanjaannya dari dalam tas. Sementara Kenzo masih berdiri sambil mengamati Vanya. Vanya yang merasa diperhatikan segera menoleh menatap Kenzo.
"Kenapa masih disini, mau bantu masak?" Tanya Vanya.
Vanya mencebik sambil memperhatikan kepergian Kenzo. Setelahnya, dia segera menyiapkan bahan yang diperlukan untuk membuat sup ayam. Dia tidak menunggu sang ibu untuk memasak, karena bisa dipastikan ayah dan ibunya akan pulang malam untuk menunggu proses pemakaman.
Hampir satu jam lamanya Vanya memasak. Vanya juga membuat pisang goreng. Setelahnya, Vanya segera menata makan malamnya di atas meja makan. Vanya segera beranjak untuk membersihkan diri ketika semua makanan sudah siap di atas meja makan.
Setengah jam kemudian, Vanya segera mengetuk pintu kamar Kenzo. Dia ingin mengajak Kenzo makan malam. Namun, setelah beberapa saat mengetuk pintu kamar, tidak ada sahutan dari Kenzo. Vanya mengerutkan keningnya bingung. Vanya hendak membuka pintu kamar Kenzo ketika mendengar suara panggilan dari arah pintu depan. Seketika Vanya menoleh. Dia terkejut ketika melihat Kenzo datang sambil membawa galon air.
"Dari mana?" Tanya Vanya sambil berjalan mendekat.
"Nggak lihat ini bawa galon. Tadi aku mau minum, tapi air galonnya habis. Jadi aku beli ke warung dekat pos ronda itu," jawab Kenzo sambil berlalu menuju dapur. Sementara Vanya mengekori Kenzo dari belakang.
"Maaf, aku tidak lihat tadi jika galon kosong," kata Vanya sambil melihat Kenzo memasang galon air tersebut. Setelah selesai, Vanya langsung mengajak Kenzo untuk makan malam.
"Ayah dan ibu belum pulang?" Tanya Kenzo sambil mengamati Vanya yang sedang mengambilkan makanan untuknya.
"Sebentar lagi kata ibu. Ibu baru saja telepon," jawab Vanya sambil meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya di depan Kenzo.
Mereka makan malam dengan tenang sambil sesekali mengobrol singkat. Kenzo terlihat menikmati masakan yang dibuat oleh Vanya. Ini lumayan enak. Tidak buruk, batin Kenzo.
Setelah makan malam, Vanya segera membereskan piring kotor. Sementara Kenzo masih mengutak atik ponselnya di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Ternyata itu motor ayah yang berhenti untuk mengantar ibu.
Ibu terlihat berjalan memasuki rumah, sementara ayah terlihat pergi lagi. Kenzo yang melihat kedatangan ibu segera mengulurkan tangannya setelah menjawab salam ibu. Ibu menyambutnya sambil tersenyum.
"Ayah kemana Bu?" Tanya Kenzo.
"Ayah balik ke rumah pak Dayat lagi. Mungkin akan sampai malam," jawab ibu sambil berjalan masuk. Kenzo yang mendengar jawaban ibu hanya manganggukkan kepala mengiyakan.
"Sudah makan Nak?" Tanya Ibu. "Zizi dimana?"
"Sudah Bu. Vanya ada di dapur," jawab Kenzo.
Ibu segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya, ibu menyusul Vanya ke dapur. Vanya menemani ibu makan malam sambil mengobrol tentang rencana pernikahannya akhir minggu ini.
"Sebagai istri, jangan sampai menolak ajakan suami ya Zi," kata ibu.
Vanya yang masih belum mengerti maksud ibu hanya menatap ibunya sambil mengernyitkan dahi. "Ajak kemana Bu?" Tanya Vanya dengan polosnya.
"Ke surga," jawab ibu sekenanya.
"Hhhaaahhh, mau bunuh diri?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Adakah yang masih menunggu next part?