
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Rean segera membawa pesanan Dena ke dalam kamar. Dia segera berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya.
Tok tok tok.
Dena segera membuka pintu kamar mandi, dan melongokkan kepala keluar. "Bagaimana? Ada?" tanyanya.
"Ini." Rean memberikan satu bungkus roti jepang yang masih baru kepada Dena. Dengan senyuman lebarnya, Dena menerima pemberian Rean tersebut.
"Terima kasih," ucap Dena sambil menutup pintu kamar mandi.
Setelah itu, Rean segera beranjak menuju tempat tidur. Tak berapa lama kemudian, Dena juga terlihat sudah keluar dari tempat tidur. Dia menatap Rean yang sudah terlelap di atas tempat tidur. Terlihat jika Rean benar-benar lelah. Dia bahkan tidak terusik saat Dena merebahkan tubuhnya pelan-pelan ke atas tempat tidur.
Malam itu, Rean dan Dena langsung terlelap begitu saja. Tidak ada aktivitas adu mulut dan adu argumen tentang pembagian tempat tidur. Keduanya benar-benar terlelap karena kecapekan.
Hingga pagi menjelang, Dena sudah bangun terlebih dahulu. Dia segera membersihkan diri dan membangunkan Rean untuk sholat subuh. Pagi itu, seluruh anggota keluarga Rean berkumpul untuk sarapan bersama.
Hari itu juga, Rean dan Dena harus berangkat ke apartemen Dena. Dena membantu Rean untuk membereskan perlengkapan yang dibutuhkan oleh Rean. Tidak banyak, hanya seperlunya saja. Jika nanti ada yang dibutuhkan, Rean bisa mengambilnya. Beruntung jarak rumah orang tua Rean dan apartemen Dena tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit.
Setelah makan siang, Rean dan Dena berangkat menuju apartemen. Kali ini, Rean membawa mobil barunya yang dibelikan oleh papa Bian, karena mobil Dena berada di basement apartemen.
"Nanti mampir dulu di minimarket, Re. Aku belum belanja," ucap Dena saat baru memasuki mobil Rean. Mereka bahkan belum keluar dari halaman rumah orang tua Rean.
Rean menoleh sekilas, saat mendengar jika sang istri masih memanggilnya dengan panggilan nama saja. Rean akan tetap berusaha untuk meluluhkan hati Dena yang keras kepala tersebut pelan-pelan.
"Baik, Miss. Mau mampir di minimarket mana?"
"Ehm, dekat sini saja. Biar agak jauh dari kampus."
Rean menganggukkan kepala. Rupanya, istrinya tersebut masih takut jika ada yang memergoki mereka.
Setelah itu, Rean segera menjalankan mobilnya menuju minimarket terdekat. Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil Rean sudah memasuki area parkir sebuah minimarket. Dia menghentikan mobilnya dan berniat untuk membuka seat belt. Dena yang melihat hal itu langsung mencegah Rean.
"Biar aku saja yang belanja. Kamu tunggu saja disini." Dena melarang saat Rean hendak keluar.
"Eh, mana bisa begitu, Miss. Aku juga akan membeli kebutuhanku. Yakin mau membelikan semua barang yang aku butuhkan?"
Dena terlihat mengerucutkan bibir tidak suka. Dia mendengus kesal sambil menatap Rean. "Baiklah. Kamu beli sendiri barang kebutuhanmu."
Rean tersenyum dan segera menganggukkan kepala. Dia langsung melepas seat belt dan keluar dari mobil untuk mengikuti Dena. Rean mengekori Dena yang sedang mendorong trolley dan memilih barang kebutuhan dapur.
Dena melirik ke arah Rean. "Kenapa kamu mengikutiku?"
Rean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku mau membantu, Miss. Sini, biar aku yang mendorong trolleynya." Rean merebut trolley yang sedang didorong oleh Dena. Meski protes, namun Dena tetap membiarkan Rean mendorong trolley tersebut.
Dena memilih beberapa sayuran, bumbu dapur, buah, telur, makanan ringan dan masih banyak lagi. Rean juga melakukan hal yang sama, saat melihat barang yang dibutuhkannya. Hingga kini, trolley yang sedang didorong oleh Rean sudah penuh semua. Dena menoleh ke arah rean dengan kening berkerut.
"Kenapa jadi sebanyak ini belanjaannya?"
"Eh, mana aku tau, Miss. Aku hanya beli ini," tunjuk Rean pada barang-barang kebutuhannya. Melihat hal itu, Dena hanya menghembuskan napas berat.
Setelah itu, Dena mengajak Rean ke kasir. Mereka harus segera membayar barang belanjaan mereka. Saat hendak membayar, Dena dibuat terkejut saat melihat Rean sudah menyerahkan kartunya kepada petugas kasir.
"Eh, kenapa kamu yang bayar semuanya?" Dena bertanya dengan kening berkerut.
"Lho, apa salahnya suami membayar belanjaan istri?"
"Eh?"