The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Musim - 2 Aku Sudah Mengalaminya



"Ehm, sa-saya hanya masih belum terbiasa dengan perubahan ini Tuan." Jawab Reyhan.


"Perubahan? Perubahan apa maksud kamu, Rey? Kamu masih kaget mendapati bahwa kamu sudah tidak perjaka lagi?"


"Hhaaah?" Seketika Reyhan langsung cengo saat mendengar pertanyaan Kenzo. Dia benar-benar kaget mendengarnya. Mana ada laki-laki yang merasa seperti itu. Masih perjaka atau tidak, memang ada bedanya. Batin Reyhan. Eh, bener nggak sih, katanya begitu. 🤭


"Kok hah heh hah heh. Perubahan apa maksud kamu, Rey?" Desak Kenzo. Dia merasa penasaran dengan sikap Reyhan hari itu.


"Ehm, maksud saya perubahan status saya, Tuan. Sekarang saya sudah menikah. Kemarin-kemarin belum terlalu terasa karena masih cuti. Tapi, sekarang kan saya sudah kembali bekerja. Jadi, rasanya beda saja." Kata Reyhan berusaha menjelaskan.


Kenzo masih mengamati perubahan ekspresi wajah Reyhan. Dia bisa menebak maksud dari perkataan Reyhan. Semalam, Vanya memberi tahu Kenzo jika Fida akan memberikan kejutan kepada Reyhan. 


Kenzo pikir, kejutan Fida benar-benar direalisasikan semalam. Kenzo bisa melihat jejak-jejak perbuatan Fida di leher Kenzo meski dia sudah menutupinya dengan kerah kemejanya. Bahkan, di bagian bawah telinga kiri Reyhan terlihat sangat jelas jejak petualangan liar Fida. Reyhan pasti tidak menyadari jejak petualangan Fida itu. Jejak itu hanya terlihat saat Reyhan menoleh ke kanan. 


"Aku tahu apa maksud kamu yang sebenarnya, Rey." Kata Kenzo.


"Eh, maksudnya apa, Tuan?"


"Dulu, aku juga mengalami hal yang sama seperti apa yang kamu rasakan sekarang. Seperti yang kamu ketahui, pernikahanku dengan Vanya tidak dimulai seperti kebanyakan orang-orang, tidak ada pacaran. Kami menikah hanya kurang lebih dua minggu setelah kejadian pesta ulang tahun itu."


"Awal pernikahan kami juga banyak sekali perdebatan. Namun, kami sama-sama berkomitmen untuk menjalani pernikahan ini dengan serius. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral di mata hukum dan agama. Kita tidak bisa bermain-main dengan hal itu."


"Di awal pernikahan, kamu tahu sendiri apa yang aku alami. Aku juga sama sepertimu harus menunggu beberapa hari untuk berbuka puasa. Setelah benar-benar berbuka puasa, barulah aku menyadari jika aku memang menyesal." Kata Kenzo.


"Apa Tuan menyesal karena sudah tidak perjaka lagi saat itu?" Tanya Reyhan sok tahu.


Bug. 


Kenzo memukul lengan Reyhan dengan map yang ada di depannya.


"Enak saja. Mana ada aku menyesal untuk masalah itu. Yang ada aku menyesal mengapa tidak sejak dulu saja aku menikah dan berbuka puasa jika tahu rasanya seperti itu." Gerutu Kenzo.


"Hhaaa? Ma-mana ada yang seperti itu, Tuan?" 


"Tentu saja ada." Jawab Kenzo yakin. "Aku juga tahu apa yang sedang kamu pikirkan, Rey." Lanjut Kenzo.


"Memangnya apa yang saya pikirkan, Tuan?"


"Kamu semalam baru buka puasa, bisa dipastikan sekarang kamu masih kepikiran istri kamu dan ingin segera pulang untuk menyerangnya kembali."


"Eh, ti-tidak seperti itu, Tuan." Jawab Reyhan gugup. Dia benar-benar merutuki mulut Kenzo yang seenaknya saja berbicara. Dan parahnya lagi, perkataannya juga benar. Reyhan, kamu benar-benar tidak akan bisa membohongi Kenzo. Batinnya.


"Sudahlah, Rey. Tidak usah menyangkalnya lagi. Aku sudah pernah mengalaminya sendiri." Kata Kenzo. Dia sudah bisa menebak jika Reyhan masih memikirkan peristiwa semalam. 


"Ehm, i-itu…"


"Sudah, sekarang lebih baik kamu pulang saja. Aku memberimu izin untuk pulang cepat hari ini." Kata Kenzo.


"Pulang sekarang, Tuan?" Tanya Reyhan tidak percaya.


"Iya. Jangan sampai aku berubah pikiran lagi."


Reyhan langsung berdiri dan menundukkan tubuhnya sambil mengucapkan terima kasih kepada Kenzo. Setelahnya, Reyhan segera berjalan ke luar ruangan Kenzo untuk membersihkan meja kerjanya. Dia harus bersiap-siap untuk pulang.


Kenzo yang melihat tingkah Reyhan hanya bisa mencebikkan bibirnya sambil menggelengkan kepalanya. 


"Begitu yang katanya tidak kepikiran tentang semalam. Begitu diberi izin pulang cepat langsung saja di ambil. Dasar Reyhan." Gerutu Kenzo. Belum sempat Kenzo memeriksa kembali pekerjaannya, terdengar ponselnya berbunyi. Kenzo segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Mas, sudah kamu suruh Reyhan pulang cepat kan?" Sapa sebuah suara di seberang sana.


"Iya, sudah. Aku sudah menyuruh Reyhan pulang seperti perkataanmu tadi."


"Bagaimana reaksinya? Seperti apa yang aku katakan kan?" 


"Hhhmmm."


"Kok ham hem sih. Jawaban apaan itu."


"Ya memang aku harus jawab apalagi, Yang. Memang reaksi Reyhan seperti itu." Kata Kenzo. 


Ya, saat itu memang Vanya yang tengah menelepon Kenzo. Tadi, setelah Kenzo mengadakan pertemuan dengan klien, Vanya memang meneleponnya. Dia menceritakan obrolannya dengan Fida pagi itu. Vanya meminta Kenzo untuk menyuruh Reyhan pulang karena tidak tega terhadap Fida. Fida menceritakan jika dirinya sangat kesulitan bergerak. Rasanya sakit di bagian bawah tubuhnya. Alhasil, Vanya memaksa Kenzo untuk mengizinkan Reyhan segera pulang.


"Iya, baiklah, baiklah. Sekali lagi terima kasih ya, Mas. Aku hanya tidak tega dengan Fida."


"Hhhmmm, tapi aku ingin bayaran untuk apa yang telah aku lakukan."


"Bayaran? Kamu mau bayaran apa, Mas?"


"Full service sampai lemes."


"Mateng aku"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon dukungannya dengan klik like, komen dan vote. Mumpung masih awal minggu. Kasih hadiah buat othor juga boleh kok 🤗


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda


Thank you