The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 104



"Eh, Mas? Ngapain disini? Sudah nggak sabar mau unboxing, ya? Ayuk, sekarang aku sudah siap, kok."


Adrian masih diam mematung karena cukup terkejut mendengar ucapan Kinan. Namun, setelah beberapa saat kemudian, dia baru menyadari posisinya yang sangat tidak aman tersebut. Maksudnya, tidak aman buat jantung dan otaknya.


Adrian segera menegakkan tubuhnya dan berusaha mengatur detak jantungnya yang cukup bisa membuatnya hilang kendali.


"Jika sedang bermimpi, bangun dulu," ucap Adrian.


Kinan yang mendengar ucapan suaminya tersebut, langsung berusaha duduk kembali. Dia masih menatap wajah Adrian di tengah rasa kantuknya.


"Kok nggak bangunin jika sudah pulang?" tanya Kinan.


"Kamu tidur nyenyak sekali. Aku nggak mau ganggu tidur kamu."


"Oh." Kinan mengangguk-anggukkan kepala.


"Ya sudah. Lanjutkan lagi tidurnya. Aku juga akan beristirahat."


Kinan masih menatap wajah Adrian sambil memicingkan mata.


"Nggak mau tidur disini saja? Masih muat kok kalau tidurnya miring," ucap Kinan sambil menepuk-nepuk bagian samping tempat tidurnya.


Terdengar helaan napas dari Adrian. Sebenarnya, dia sudah cukup kebal mendengar ucapan absurd Kinan. Namun, entah mengapa dia masih sering terkejut ketika mendengarnya.


"Aku tidur di kamar sebelah saja," jawab Adrian sambil berbalik. 


Lagi pula, diperbolehkan juga apabila seorang istri meminta hal itu lebih dulu kepada suaminya, kan? Hal itu yang membuat tekad Kinan semakin besar.


Kinan bertekad akan membuat Adrian berubah statusnya sebelum mereka kembali pindah ke apartemen. Dan, untuk melancarkan aksinya itu, Kinan harus menyiapkan semuanya dengan baik. Dia tidak boleh gagal hanya karena ada gangguan kecil.


Malam itu, Kinan memikirkan apa saja yang bisa dilakukannya untuk membujuk Adrian melakukan hal itu. Hingga tak terasa, Kinan sudah benar-benar terlelap setelahnya.


Keesokan hari, Kinan memang sudah tidak ada jadwal ke kampus. Setelah menyiapkan sarapan untuk Adrian fan menunggunya berangkat ke kantor, Kinan dan para tetangga wanita lainnya datang ke rumah Pak RT untuk menyampaikan bela sungkawa.


Pagi itu, masih banyak para pelayat yang menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga Pak RT. Pak RT dan keluarganya memang terkenal ramah. Jadi, tidak mengherankan jika banyak sekali para warga sekitar yang datang untuk menyampaikan bela sungkawa.


Menjelang siang, Kinan sudah kembali ke rumah. Dia segera beres-beres rumah dan sekalian mencuci baju. Sambil menunggu bajunya dicuci, Kinan membuka laptop dan mulai mengerjakan laporan untuk nilai para mahasiswanya.


Beruntung Kinan bukan termasuk orang yang suka menunda-nunda pekerjaan, jadi dia tidak mempunyai tanggungan pekerjaan yang cukup berat di akhir semester seperti sekarang ini.


Siang itu, Kinan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Baik membuat laporan, mencuci baju, maupun beres-beres rumah. Kinan memilih untuk membeli rujak untuk makan siangnya hari itu. Dia sudah beberapa hari ini ingin sekali mencicipi rujak langganannya yang ada di dekat kantor pos tersebut.


Beruntung ada aplikasi pesan antar yang bisa Kinan andalkan untuk mengatasi magernya siang itu. Hingga tak sampai tiga puluh menit kemudian, rujak pesanan Kinan sudah datang. Dia segera menyantap makan siangnya tersebut sambil mulai menyusun rencana apa yang bisa dilakukannya untuk memulai membujuk sang suami.


•••


Hhhmmm, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Kinan?