The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Kejutan untuk Fida



Vanya segera mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi sang suami. Namun, secara tak sengaja netra matanya menangkap seorang wanita yang tengah berjalan di atas panggung. Terlihat dia sedang mempersiapkan sesuatu sebelum acara pembukaan tersebut dimulai. Vanya mengerutkan keningnya saat menyadari siapa wanita yang berada di atas panggung tersebut. 


"Celina?!"


Vanya mengerutkan dahinya sambil menatap wanita yang tengah wara wiri di atas panggung tersebut. 


"Mengapa wanita itu ada di sini? Apa yang sedang dilakukannya?" Gumam Vanya. Namun beberapa saat kemudian, kepingan ingatan akan pertemuannya dengan Celina kemarin membuatnya dapat menyimpulkan sesuatu.


Ya, Celina pasti menjadi model untuk produk terbaru perusahaan papa Mike. Vanya dapat menyimpulkan hal itu karena kemarin dia sempat melihat beberapa paper bag dengan label Abram Corp, selain paper bag yang berasal dari butik tentunya.


Vanya yakin si Celina ini pasti akan bertemu dengan sang suami. Mengingat papa Mike adalah pemilik perusahaan ini. Vanya segera menghubungi Kenzo dan memberitahukan jika dirinya sudah tiba dan sedang menunggu meja khusus yang ada di sana.


Kenzo mengatakan jika dirinya masih menemani sang papa untuk menyambut kedatangan para tamu dari Singapura. Vanya memaklumi hal itu dan membiarkan Kenzo melakukannya. 


Saat masih menelepon, Vanya melihat kedatangan Fida di sana. Vanya langsung melambaikan tangannya agar Fida dapat melihat keberadaannya. Dan benar saja, Fida langsung berjalan mendekat ke arah Vanya. 


"Sendirian?" Tanya Vanya sambil mematikan sambungan teleponnya.


"Iya lah. Memang sama siapa lagi. Calon bapaknya anak-anak juga sudah ada di sini." Jawab Fida sambil mendudukkan diri di kursi dekat dengan Vanya.


"Memang sudah yakin dengan calon bapaknya anak-anak?" Tanya Vanya.


"Ehm, belum yakin juga sih. Habisnya sudah hampir empat bulan ini dianya masih lempeng-lempeng saja. Jadi gregetan aku tuh, Van." Jawab Fida.


"Orang tua kamu?" Tanya Vanya.


"Ya, mereka sih mendukung seratus persen. Aiissshhh sampai kapan aku harus menunggu sih, Van. Gregetan aku. Boleh nggak sih jika aku saja yang melamar dia." Geram Fida.


Vanya hanya melongo mendengar perkataan Fida. Bisa-bisanya sahabatnya itu memiliki pikiran untuk melamar Reyhan.


"Ngebet banget pengen dinikahin sama Reyhan, Fid." Cibir Vanya.


"Iya lah. Aku kan juga pengen seperti kamu Van." Jawab Fida.


"Seperti aku bagaimana maksudnya?" 


"Ya yang itu. Setiap hari bisa beribadah bareng-bareng." Jawab Fida sambil menaik turunkan alisnya.


Vanya yang sudah paham dengan maksud Fida pun langsung mendengus kesal.


"Itu yang ada di otak kamu apa hanya hokya-hokya sih, Fid? Menikah itu bukan hanya sekedar masalah hokya-hokya, bukan hanya masalah aku dan kamu saja, tapi menjadi kami dan kita. Keluarga juga harus kamu libatkan." Kata Vanya.


"Hehehe iya, papa juga sudah menjelaskan banyak hal tentang itu kok, Van. Aku hanya bercanda tadi. Menikah itu membutuhkan banyak tanggung jawab. Dan itu yang sedang aku pelajari mulai sekarang." Jawab Fida.


"Baguslah jika kamu sudah mengerti tentang hal itu." Kata Vanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Setelah itu, Vanya melihat Kenzo berjalan ke arahnya bersama dengan mama Tari dan juga Reyhan. Vanya langsung tersenyum lebar saat melihat sang suami berjalan mendekat. Fida yang duduk membelakangi arah kedatangan mereka pun tidak menyadari jika Reyhan juga mendekat ke arahnya.


"Sudah selesai, Mas?" Tanya Vanya saat Kenzo memeluk bahunya dan menghadiahi sebuah kecupan pada pucuk kepala Vanya sebelum mendaratkan tubuhnya pada kursi di samping Vanya.


"Mas, nggak pengen seperti itu juga?" Tanya Fida sambil menaik turunkan alisnya.


Seketika tubuh Reyhan langsung menegang. Dia bingung harus bersikap bagaimana menghadapi godaan Fida. Apalagi saat itu ada mamanya Kenzo.


"Ehemmm. Kita belum muhrim." Jawab Reyhan sambil menarik kursi yang berada di dekat Fida.


"Kalau begitu muhrimin aku dong. Aku sudah siap." Kata Fida dengan antusias.


"Ma-mana bisa seperti itu." Jawab Reyhan sambil melirik orang-orang yang ada di depannya. Dia masih merasa salah tingkah.


"Tentu saja bisa. Mau di coba sekarang?" Tantang Fida.


"Eh, memangnya apaan pakai coba-coba. Aku tidak mau coba-coba. Aku maunya serius." Jawab Reyhan sambil mendengus kesal. Memang Fida pikir dirinya laki-laki yang tidak bertanggung jawab apa, batin Reyhan.


"Lalu seriusannya itu seperti apa?" Tanya Fida.


Seketika Reyhan menoleh menatap wajah Fida. Mungkin memang ini saatnya dia harus mengambil sikap. Dia juga tidak mau di anggap mempermainkan anak gadis orang. Reyhan juga sudah menganggap orang tua Fida, terutama papanya seperti orang tuanya sendiri. Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Kenzose dengan tatapan meminta pendapat.


Kenzo yang sudah tahu maksud Reyhan langsung menganggukkan kepalanya. Dia akan mendukung Reyhan sepenuhnya. Reyhan kembali menatap wajah Fida. Dia masih berusaha menenangkan debaran jantungnya yang sudah seperti naik trampolin. Reyhan berdehem untuk melonggarkan tenggorokannya.


"Nanti malam saya akan menemui papa Surya untuk melamar kamu secara resmi." Kata Reyhan.


"Apa?! Kamu serius, Mas?!" Tanya Fida dengan teriakan tertahannya.


Reyhan masih menatap wajah Fida dan mengangguk mengiyakan. Setelah melihat anggukan kepala Reyhan, seketika Fida langsung berdiri dari duduknya. Dia menyambar lengan Reyhan dan langsung menariknya.


"Aku nggak mau harus menunggu nanti malam. Sekalian saja sekarang menemui papa." Kata Fida.


"Eh, eh lho kok.."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Satu part lagi end ya


Othor e belum selesai ngetik 🙏