
"Hallo."
"Hallo, hallo. To-tolong, mas Reyhan kecelakaan!" Kata Fida panik di seberang sana.
"Apa?!" Kenzo berteriak tak kalah paniknya. "Bagaimana kejadiannya? Kalian dimana?" Tanya Kenzo.
Vanya yang tengah mengganti popok sang putra pun menoleh menatap wajah sang suami. Dia terlihat bingung saat memperhatikan wajah Kenzo yang terlihat tegang sambil menempelkan ponselnya di telinga.
"Ka-kami di rumah. Bisa tolong bantu membawa mas Reyhan di rumah sakit?"
Kening Kenzo berkerut setelah mendengar perkataan Fida. Mereka di rumah? Lalu, apa maksudnya dengan Reyhan kecelakaan? Batin Kenzo.
Setelah mendengar perkataan Fida, Kenzo segera mengiyakan permintaan Fida. Dia setuju untuk membantu membawa Reyhan ke rumah sakit.
"Ada apa, Mas?" Tanya Vanya setelah Kenzo mematikan panggilan teleponnya. Dia berjalan mendekat ke arah sang suami sambil menggendong El.
"Reyhan kecelakaan. Fida meminta bantuan untuk mengantarkannya ke rumah sakit."
"Kecelakaan? Bagaimana kejadiannya?" Vanya mendadak panik. Dia khawatir jika Fida kenapa-napa.
"Jangan khawatir dulu. Tadi Fida bilang, mereka sedang ada di rumah. Mungkin Reyhan hanya jatuh atau apa. Aku akan kesana dulu." Kata Kenzo sambil beranjak berdiri.
"Aku ikut."
"Kalau kamu ikut, nanti bagaimana dengan El?"
Vanya terlihat menggigiti bibir bawahnya. Dia bingung bagaimana menjawab pertanyaan sang suami. Kenzo yang melihatnya menjadi tidak tega. Akhirnya dia memutuskan untuk mengajak Vanya. Setidaknya, hanya sampai di rumah Reyhan.
Dan, disinilah mereka berada. Mereka semua berada di dalam kamar tidur Reyhan dengan Reyhan berada di tepi tempat tidur sambil memegangi pelipis kepalanya yang masih terlihat mengeluarkan darah segar.
Ya, ternyata Reyhan terjatuh dan kepalanya mengenai siku nakas yang berada di dalam kamarnya sehingga pelipisnya robek lumayan panjang. Fida yang memang tidak tahan melihat darah sudah merasa lemas dan mual sendiri. Akhirnya, dia terpaksa menelepon Vanya tadi.
Kenzo dan Vanya masih melongo mendengar penjelasan Fida.
"Astaga Fid. Kalian ini benar-benar ya. Apa yang kalian lakukan sampai kepala Reyhan seperti itu?" Vanya benar-benar tidak habis pikir.
Fida masih menggigiti bibirnya karena malu. Reyhan, jangan ditanya lagi. Wajahnya sudah merah padam seperti udang goreng.
"Memangnya gaya apa yang kalian pakai sampai kepala Reyhan kejedot seperti ini? Ini lagi, kenapa banyak tali di kamar tidur kalian? Kalian mau gantung diri berjamaah?" Gerutu Kenzo.
Dia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh dua orang di depannya ini. Bisa-bisanya Reyhan kejedot sampai pelipisnya robek seperti itu saat hokya-hokya, memangnya seganas apa permainan mereka. Kenzo benar-benar geram. Dirinya saja yang suka mengoleksi video pemersatu bangsa tidak sampai segitunya. Lha ini yang masih sama-sama amatir malah lebih ganas. Benar-benar tidak bisa dibiarkan.
Meskipun Kenzo menggerutu kesana kemari, namun dia tetap membantu Reyhan untuk pergi ke rumah sakit. Selain darah yang masih mengucur deras, Reyhan juga merasa sedikit pusing. Jadi dia tidak berani menyetir kendaraan.
Fida memutuskan untuk tetap ikut ke rumah sakit menemani sang suami meskipun dia merasa pusing dan tidak nyaman saat melihat darah. Sementara Vanya, dia segera pulang setelah memesan ojek online.
Malam harinya, Fida membantu Reyhan untuk berbaring. Pelipisnya yang sudah mendapat jahitan kini sudah tidak mengeluarkan darah lagi.
"Sudah, nggak apa-apa. Jangan dipikirkan lagi. Yang penting luka kamu sudah diobati, Mas."
"Ya, tetap saja aku masih merasa malu. Lagian, kenapa harus mengikuti ide konyol video bar-bar itu sih. Buat orang malu saja."
"Yyee, tadi siang siapa juga yang menunjukkan video itu dan bersemangat empat lima untuk praktek." Gerutu Fida.
Sementara Reyhan hanya tersenyum nyengir mendengarkan perkataan sang istri. Setelahnya, mereka segera beristirahat.
***
Dua minggu sudah setelah peristiwa memalukan Reyhan dan Fida berlalu. Hari ini Reyhan terlihat sedang mencuci mobilnya di depan rumah mumpung libur. Sementara Fida, dia tengah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Namun, belum selesai memasak Fida sudah merasakan mual yang sangat hebat. Entah mengapa beberapa hari ini dia sama sekali tidak menyukai bau bawang putih. Rasanya sungguh mual saat aroma bawang putih tersebut menyelinap masuk ke dalam hidungnya.
Reyhan yang mendengar suara Fida tengah muntah-muntah pun segera beranjak menemuinya. Reyhan terlihat panik saat mendapati Fida sedang berada di dalam kamar mandi dan mengeluarkan semua makanan yang ada di perutnya. Reyhan membantu Fida dengan memijat tengkuknya.
Saat mereka masih berada di dalam kamar mandi, terdengar suara Vanya dan celotehan baby El di depan. Reyhan sedikit berteriak untuk memberitahu Vanya jika mereka berada di kamar mandi.
Tak berapa lama kemudian, Vanya terlihat menghampiri Reyhan dan Fida sambil menggendong baby El.
"Kenapa Fida?" Tanyanya saat melihat Reyhan memapah Fida keluar dari kamar mandi.
"Saya tidak tahu, Nona, dari tadi dia muntah-muntah terus." Jawab Reyhan. Fida merasa lemas, bahkan untuk bersuara pun dia enggan.
"Kamu hamil, Fid?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Kira-kira hamil nggak ya?
Dukung othor dengan klik like, komen dan vote ya. Kasih bunga buat othor juga boleh banget lho 🤗
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda
Thank you