
Setelah mendengar teriakan Shanum, sontak saja Cello dan juga Rean yang tengah bermain game langsung terlonjak kaget. Mereka sempat saling pandang sebelum akhirnya langsung melompat berlari ke dalam kamar.
Begitu membuka pintu kamar, terlihat tangan kanan Shanum sedang memegangi perut dan tangan kirinya berpegangan pada ujung tempat tidur. Dia terlihat sekali sedang menahan rasa sakitnya.
Cello dan juga Rean yang melihat hal itu langsung buru-buru menghampiri Shanum.
"Sa-sayang, ada apa? Apa yang kamu rasakan? Apa sudah mau melahirkan?" Tanya Cello panik. Dia bingung harus memegang bagian tubuh Shanum yang mana.
"Kak, apa mereka sudah mau lahir? Apa sudah waktunya? Aduh, bagaimana ini?" Rean tak kalah paniknya. Dia terlihat bingung harus melakukan apa.
"Auuhhhh, aduuuhhh, Mas. Sak-kitthhhh," rintih Shanum. Dia sudah merasa tidak kuat dan hampir melorot jatuh ke lantai jika tidak segera ditangkap oleh Cello.
"Sayaang!"
"Kaaakk!"
Teriak dua orang laki-laki tersebut saat melihat Shanum yang terlihat sudah tidak dapat menahan rasa sakitnya. Dia sudah duduk di pangkuan Cello sambil berusaha kuat menahan rasa sakit yang dirasakannya.
"Re, cepat siapkan mobil. Kita bawa Shanum ke rumah sakit!" Teriak Cello.
Seketika Rean langsung tersadar dan segera beranjak keluar dari dalam kamar. Dia segera berlari menuju garasi untuk menyiapkan kendaraan. Sementara Cello, dia langsung membopong tubuh Shanum dan berjalan pelan-pelan untuk keluar dari dalam kamar. Cello langsung berteriak-teriak memanggil bi Yam untuk menghubungi dokter Risma.
"Bi Yaaamm! Tolong segera hubungi dokter Risma! Shanum akan melahirkan!" Teriak Cello sambil berjalan.
"Massss, tu-turunkan aku. Rasanya tidak nyaman," pinta Shanum saat mereka sudah sampai di ruang tengah.
"Eh, kamu yakin, Sayang?" tanya Cello sambil menatap wajah Shanum.
"I-iya, Mas. Turunkan aku."
Pada saat itu, bi Yam yang baru saja datang dari arah belakang langsung terkejut saat melihat Shanum yang tengah kesakitan.
"Eh, non Shanum sudah mau melahirkan, Den?" Tanya bi Yam juga ikut panik.
"Iya, Bi. Tolong segera hubungi dokter Risma!"
"Baik, Den."
"Tolong bawakan keperluanku, Re. Sudah aku siapkan di dalam tas yang berada di kamar."
"Baiklah." Jawab Rean sambil segera beranjak ke dalam kamar Shanum untuk membawa perlengkapan Shanum melahirkan.
Beberapa saat kemudian, Rean sudah bolak balik membawakan perlengkapan melahirkan Shanum dan memasukkannya ke dalam mobil. Cello juga sudah berhasil memapah sang istri hingga memasuki mobil.
Rean mengambil posisi di balik kemudi sementara Cello berada di belakang dan berusaha untuk menenangkan Shanum.
"Aauuhhh, Maasss. Perutku, uuugghhh," pekik Shanum sambil mencengkeram tangan sang suami.
Cello menjadi semakin panik saat melihat wajah Shanum yang sudah sangat pucat tersebut. Dia benar-benar tidak tega melihatnya. Cello hanya bisa mengusap peluh yang mulai membasahi kening Shanum sambil berteriak-teriak meminta Rean agar lebih cepat mengendarai mobilnya.
"Cepat, Re! Ngebut, cepat!"
"Macet ini, Kak!
"Cari jalan pintas, putar balik!"
"Mana bisa begitu, ini kita di tengah-tengah!"
Ya, seperti itulah perdebatan kedua orang laki-laki tersebut. Mereka yang sudah cukup panik hanya bisa saling melontarkan teriakan.
Shanum yang merasa kontraksinya sudah lumayan reda berusaha untuk mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Dia menoleh menatap ke arah Cello.
"Nggak usah panik, Mas. Anak-anak kamu juga pasti akan sabar menunggu sampai rumah sakit baru akan lahir."
"Mana bisa begitu, Yang. Kamu kesakitan begini."
"Ini sudah sedikit berkurang, Mas. Mungkin nanti baru akan terasa lagi. Jangan panik begitu, ih."
"Nggak bisa, Yang."
"Harus bisa, dong. Masa dulu buatnya saja nggak panik, ini menunggu lahiran malah panik." Kata Shanum sambil tersenyum. Ya, dia berusaha menggoda sang suami agar tidak terlalu khawatir.
"Yang!"