
Hari itu, El dan Zee bercerita banyak hal tentang pernikahan. Sebenarnya, Zee yang banyak cerita tentang awal-awal pernikahannya. Apa yang Zee dan istrinya lakukan untuk menumbuhkan rasa diantara mereka banyak diceritakan. Hal itu, sedikit banyak dapat memberikan gambaran kepada El.
"Gue nggak akan memberikan resep rahasia siang-siang. Jika lo mau, telepon gue habis tarawih. Jangan malam-malam. Gue pasti sedang beribadah jika malam." Kata Zee sambil mengiringi langkah kaki El menuju lobi.
Seketika El menolehkan kepalanya menatap wajah Zee dengan kening berkerut.
"Ibadah apa?" Tanya El.
"Lo kan masih kecil, belum seharusnya tahu hal itu." Jawab Zee sambil tergelak.
"Si*alan." Gerutu El sambil memukul bahu sang sahabat.
Setelahnya, mereka berpisah di tempat parkir. El langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah.
Hari itu, puasa pertama berjalan cukup lancar. El dan keluarganya berbuka puasa bersama. Setelah itu, mereka melaksanakan shalat tarawih di masjid komplek. Tarawih kedua tersebut berjalan dengan lancar.
Malam itu, Fara memakai baju yang normal. Dia tidak memakai baju yang seperti kemarin. Setelah tarawih tadi, Fara menyempatkan diri untuk tadarus Al-Qur'an di dalam kamar. Setelahnya, dia tidak keluar kamar lagi. Dia khawatir jika mommy Vanya melihatnya, dia akan diminta untuk memakai pakaian yang 'horor' lagi.
Tak berapa lama kemudian, El terlihat memasuki kamarnya. Kedua pasang mata El dan Fara saling bertemu. Mereka benar-benar masih canggung. El berjalan mendekati nakas untuk meletakkan air minum.
"Mau ganti baju sekarang, Mas?" Tanya Fara.
"Iya."
"Baiklah, aku siapkan baju gantinya, Mas." Kata Fara sambil beranjak berdiri untuk berjalan menuju walk in closet.
Tak berapa lama kemudian, Fara terlihat keluar sambil membawa kaos dan boxer seperti biasa. El menerimanya dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sambil menunggu El, Fara terlihat membuka ponselnya. Dia memang baru saja menyelesaikan ujian akhir semester. Jadi, dia masih menunggu hasilnya sekaligus menunggu jadwal registrasi semester depan.
Beberapa menit kemudian, El terlihat keluar dari kamar mandi. Dia sudah memakai kaos dan boxer andalannya dan berjalan menuju tempat tidur. Fara masih fokus pada layar ponselnya dan tidak memperhatikan El yang sudah merangkak naik ke atas tempat tidur.
"Lagi sibuk?" Tanya El. Dia menoleh menatap sang istri yang masih fokus pada layar ponselnya.
Fara menoleh menatap sang suami yang sudah berada di sampingnya.
"Enggak kok, Mas. Ini lagi ngecheck grup kampus ada info apa. Ternyata jadwal registrasi belum keluar." Jawab Fara. Dia kembali menoleh menatap layar ponselnya. Namun, beberapa menit kemudian, dia terlihat selesai dan meletakkan ponselnya di atas nakas yang ada di sampingnya.
El masih menunggu Fara hingga selesai. Dia ingin membicarakan sesuatu dengannya. Fara menolehkan wajahnya menatap wajah El.
"Ada yang mau mas El bicarakan?" Tanya Fara.
"Hhhmmm. Aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu." Kata El.
Fara mengangguk mengiyakan. Dia mengubah posisi duduknya hingga kini sedikit menghadap pada tubuh El.
"Ada apa, Mas? Kamu ingin membicarakan apa?" Tanya Fara.
"Ehm, tentang kita. Menurutmu, apa perlu kita melakukan honeymoon?" Tanya El.
"Eh, ho-honeymoon?" Fara cukup terkejut mendengarnya.
Yang ada dipikirannya, jika pasangan suami istri honeymoon, mereka pasti akan melakukan hal-hal yang ada di pikiran para reader semua. Fara masih belum bisa membayangkan hal lain selain itu.
"Iya, bagaimana menurutmu?" Tanya El.
"Ehm, apa itu perlu, Mas? Lagipula, ini masih bulan puasa. Mana mungkin kita melakukan honeymoon sekarang."
"Benar juga. Saat ini kan masih bulan puasa, jadi percuma juga jika kita honeymoon sekarang." Kata El.
Fara mengangguk setuju. Dia juga terlihat akan sangat tidak nyaman jika mereka pergi honeymoon disaat hati mereka belum saling terpaut.
"Besok, bisa temani aku belanja baju? Baju-bajuku sudah mulai tidak muat. Lagipula, setelah ini aku akan bekerja di kantor daddy. Aku juga membutuhkan baju kerja juga." Kata El.
"Iya, Mas. Aku akan menemani kamu besok." Jawab Fara sambil tersenyum.
El yang melihat Fara tersenyum manis seperti itu menjadi sangat gemas. Dia mendekatkan tubuhnya hingga kini wajahnya semakin dekat ke arah wajah sang istri. Fara sedikit terkejut mendapati tindakan El yang tiba-tiba.
"Eh, ma-mau apa, Mas?" Tanya Fara sambil beringsut hendak mundur.
Namun, usahanya sia-sia. El sudah mendorong tubuhnya hingga kini tubuh Fara sudah berada di bawah tubuh El. Keda pasang mata mereka saling mengunci. El sudah merasa sangat tidak sabar. Dia langsung mendekatkan bibirnya pada bibir Fara dan me*lu*mat*nya dengan lembut. Hingga, dorongan dan desakan itu semakin menggebu. Fara ikut menikmati apa yang dilakukan sang suami. Dia benar-benar memasrahkan dirinya dengan apa yang dilakukan sang suami.
Fara menelusupkan kedua tangannya pada rambut El saat bibir sang suami sudah berpindah dan kini sedang menjelajahi lehernya.
"Eeuughh Masshh. Mauuhh appaahh?"
"Mau tidur." Jawab El.
"Hhaah?"
Seketika El mengangkat wajahnya dan mendapati tatapan mata sayu dari Fara. Namun, El belum bisa melanjutkan aksinya. Dia tidak ingin terburu-buru. El ingin memberi waktu bagi mereka untuk saling mengenal.
Fara cukup terkejut saat El menghentikan aksinya. Padahal, apa yang dirasakannya tadi sudah mulai naik ke ubun-ubun. Mau tidak mau Fara menerima apa yang lakukan sang suami.
"Maafkan aku. Bisakah kita pelan-pelan melakukannya?" Kata El.
Fara menoleh menatap wajah El yang terlihat bersalah. Setelahnya, dia tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
"Iya, Mas. Kita akan pelan-pelan melakukannya." Jawab Fara.
Setelahnya, mereka berusaha untuk memejamkan mata. Rasa capek yang dirasakan tubuh mereka membuatnya cepat terlelap.
Keesokan harinya, El dan Fara benar-benar pergi ke mall untuk berbelanja baju. Mereka berjalan beriringan menuju gerai pakaian. Hingga kedua pasang mata El dan Fara menangkap sosok perempuan yang mereka kenal.
"Apa kabar hati?" Gumam Fara
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mumpung masih ada jatah vote, mohon bantuan vote untuk cerita ini ya. Jangan lupa klik like dan komen. Terima kasih.