
Hari itu, Cello dan Shanum memang ingin memiliki waktu untuk keluarga. Aldi yang memang mengetahui hal itu, langsung pergi undur diri. Dia tidak ingin mengganggu waktu yang memang dibutuhkan oleh Cello dan juga Shanum.
"Mas, jadi weekend besok ke rumah Rean?"
"Jadi, Yang. Besok ada acara kecil-kecilan untuk syukuran karena Dena sudah sembuh, kan?"
Shanum mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, Mas. Tapi, nanti bagaimana dengan twins? Acaranya kan malam. Mommy dan daddy juga harus ke Malaysia hari itu."
"Kita akan menginap di tempat Rean nanti. Jadi, Drew dan Dryn kita ajak sekalian," ucap Cello sambil menciumi perut Dryn yang sejak tadi bermain bersamanya.
"Benarkah? Waahh, aku senang sekali, Mas. Aku bisa banyak cerita sama Dena, Nih." Shanum sudah terlihat sangat berbinar bahagia.
"Benar. Nanti, biar aku dan Rean yang jaga twins. Kalian bisa ngobrol sepuasnya."
"Eh, yakin bisa jaga twins?" Shanum tampak ragu dengan perkataan Cello.
"Tentu saja, Yang. Aku kan ayah mereka." Cello menepuk dadanya dengan bangga.
Melihat hal itu, Shanum hanya bisa mencebikkan bibir. Bukannya dia tidak mempercayai Cello. Namun, Shanum yakin jika sang suami pasti akan kesulitan untuk menjaga kedua buah hati mereka. Maklum saja, keduanya sekarang sedang aktif-aktifnya merangkak.
Cello yang melihat Shanum masih meragukan kemampuannya, langsung menghembuskan napas beratnya ke udara. "Kamu masih belum percaya kepadaku, Yang?"
"Bukannya belum percaya, Mas. Tapi, kamu kan suka bingung sendiri jika Drew dan Dryn menangis bersamaan."
"Ya, itu gunanya ada Rean. Kami kan bisa saling bagi tugas menjaga mereka. Sekaligus, biar Rean belajar untuk menjaga bayi sebelum memilikinya sendiri," ucap Cello.
Kening Shanum berkerut. Dia menoleh untuk menatap wajah sang suami. "Memang Rean merencanakan mau punya anak secepatnya, Mas?" tanya Shanum penasaran.
"Katanya sih mau secepatnya jika sudah berhasil membobol gawang," jawab Cello sambil terkekeh.
"Kata Rean kemarin sih, belum. Dena kan masih sakit, Yang. Rean tidak tega melakukannya meskipun Dena sudah menawarkan beberapa kali."
Shanum mengangguk-anggukkan kepala. Dia memang tidak mengetahui hal itu. Untuk masalah seperti itu, Rean lebih banyak cerita dengan Cello, sang kakak ipar.
"Waahh, kuat sekali si Rean bisa tahan nggak main bobol membobol gawang. Tidak bisa seperti seseorang, yang sering merasa tidak tahan," gumam Shanum sambil melirik ke arah Cello.
Menyadari dirinya telah disindir, Cello langsung menoleh ke arah Shanum dan mencebikkan bibir. "Wajar saja jika sudah merasakan mencetak gol dan ingin selalu melakukannya, Yang. Coba tanya yang lainnya yang sudah pernah merasakannya. Pasti mereka juga akan melakukan hal yang sama."
Shanum hanya bisa mencebikkan bibir saat mendengar alasan sang suami. Hari itu, Shanum dan Cello benar-benar menghabiskan waktu untuk keluarga. Mereka memang sering meluangkan waktu untuk jalan atau sekedar pergi ke suatu tempat dan menghabiskan waktu seharian bersama kedua jagoan mereka.
Tak terasa hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kini, Cello, Shanum, dan juga twins sudah bersiap ke tempat Rean. Mama Revina sudah sejak pagi menanyakan kapan Shanum akan berangkat. Dia sudah sangat kangen dengan kedua cucunya.
Menjelang makan siang, Cello, Shanum, dan kedua putranya sudah sampai di apartemen Dena. Ya, mereka masih tinggal di apartemen tersebut.
Sebenarnya, Rean sudah membeli rumah sederhana yang berada di dekat distro barunya. Meskipun hanya rumah sederhana yang mempunyai dua kamar tidur, namun rumah tersebut terlihat sangat nyaman. Mereka belum memutuskan untuk pindah, karena rumah tersebut masih dalam tahap renovasi.
"Waahhh, cucuku sudah datang. Ganteng-ganteng banget sih, ini. Sini, cium dulu." Mama Revina sudah langsung heboh saat melihat kedatangan mereka.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Dena. Dia terlihat sangat antusias sekali menggendong Dryn yang langsung mengulurkan tangan ke arahnya. Melihat tingkah Dena, Rean langsung berjalan mendekatinya dan berbisik, "Nanti aku buatkan juga yang tak kalah gemoy dari Dry."
Seketika tubuh Dena meremang saat merasakan hembusan napas Rean mengenai telinga dan lehernya. Wajahnya mendadak merah karena malu.
\=\=\=\=\=
Selamat malam semuanya, disini othor akan menyampaikan jika cerita Rean akan digabung jadi satu disini. Karena banyak pertimbangan dan banyak juga yang minta digabung (di vote igehnya othor @keenandra_winda), othor memutuskan dijadikan satu disini, tidak di aplikasi sebelah 🙏