
Malam itu, Vanya dan Kenzo tertidur lelap. Mereka kelelahan karena terlalu banyak bicara. Setelah aktivitas yang membuat lemas lutut Vanya di ruang kerja Kenzo tadi, Vanya menarik lengan Kenzo untuk langsung pergi ke kamar. Bukan untuk melanjutkan aktivitas mereka tadi, tetapi untuk membicarakan banyak hal tentang rencana pernikahan mereka ke depan.
Flashback on.
"Kita beneran nggak nyicil hokya-hokya nih?" Tanya Kenzo sambil merengut kesal.
Vanya menatap wajah suaminya yang kini tengah berada di depannya. Dia beringsut mendekat dan memberanikan diri memberikan kecupan pada pipi sang suami. Cup. Setelahnya, Vanya segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Kenzo. Bisa tambah panjang urusannya nanti jika dia mencoba memancing singa yang lapar.
"Nyicilnya besok saja Mas. Saat ini, ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Dan ini, semuanya serius. Aku nggak mau ada kesalahpahaman nanti di belakang." Kata Vanya dengan tatapan tegasnya.
Kenzo mengamati ekspresi Vanya yang terlihat serius. Dia mengangguk mengiyakan permintaan Vanya. Setelah berhasil membujuk Kenzo untuk menurutinya, Vanya mulai untuk membuka suara.
"Pertama, aku ingin membicarakan tentang kuliahku Mas. Mas Kenzo kan tahu jika aku nekad kuliah jauh dari orang tua karena memang aku ingin mengejar pendidikanku. Aku memang ingin belajar di kampus ini karena memang dari dulu cita-citaku seperti ini. Beruntung alhamdulillah, kedua orang tuaku memberikan izin dan mendukung. Yang jadi permasalahan sekarang, apakah mas Kenzo tidak apa-apa jika aku tetap melanjutkan kuliah?" Tanya Vanya.
Kenzo mengerutkan keningnya untuk mencerna pertanyaan Vanya.
"Kenapa harus keberatan? Aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Bahkan, aku sangat mendukung jika kamu melanjutkan kuliah sampai S-3. Aku masih sanggup membiayainya." Kata Kenzo. Dia masih belum bisa memahami arah pembicaraan Vanya.
Vanya mendengus kesal mendengar jawaban Kenzo. Bukan itu maksudnya.
"Bukan itu maksudku Mas." Dengus Vanya dengan kesal. "Maksudku, apakah mas Kenzo tetap akan mengizinkan aku untuk tetap kuliah ji-jika semisal na-nanti aku hamil?" Lanjut Vanya sambil menundukkan kepalanya. Entah mengapa dia merasa malu mengatakannya.
Sontak pertanyaan Vanya mengejutkan Kenzo. Dia mulai mengerti maksud pertanyaan Vanya. Seketika kedua sudut bibirnya tertarik. Bayangan hokya-hokya langsung memenuhi otaknya.
Entah mengapa setelah merasakan melon Vanya saat di Bali, otaknya sudah tercemar dengan kegiatan hokya-hokya. Dirinya bahkan sering gagal fokus. Kilatan adegan dari video pemersatu bangsa sering menyelinap masuk tanpa izin ke dalam otaknya. Bahkan, hanya dengan memandang wajah Vanya yang bersimbah peluh pun langsung bisa membuat otaknya travelling ke kegiatan antah berantah yang belum tahu kapan akan dieksekusinya.
Kenzo memandang wajah Vanya lekat-lekat. Diraihnya tangan yang sedang menumpu pada bantal di depannya itu kemudian di genggamnya dengan erat.
"Aku sama sekali tidak keberatan kamu tetap kuliah saat mengandung. Dengan catatan, semua kondisi kalian baik-baik saja." Kata Kenzo sambil menarik tangan Vanya untuk di kecupnya.
Vanya langsung tersenyum bahagia setelahnya.
"Terima kasih Mas. Aku sangat beruntung bisa menikah denganmu." Kata Vanya tersenyum hangat sambil membenahi posisi duduknya.
Kenzo mengangguk mengiyakan sambil masih mengamati Vanya. Dia yakin Vanya masih mempunyai hal lain yang ingin dibicarakannya.
"Ehm, untuk masalah pekerjaanku, aku akan segera meminta izin resign kepada mbak Erika, tapi pelan-pelan ya Mas. Aku tidak enak nanti." Kata Vanya.
Kenzo tersenyum sambil mengangguk.
"Sebenarnya, aku tidak melarang kamu untuk berhenti bekerja. Hanya saja, aku tidak mau kamu terlalu capek nanti. Apalagi jika nanti kamu sudah hamil, pasti akan sangat kelelahan." Kata Kenzo sambil mengusap pipi Vanya dengan lembut.
Setelah mendengar jawaban Kenzo,Vanya pun langsung tersenyum. Dia memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada wajah Kenzo. Semakin dekat, semakin dekat dan semakin dekat. Dan, Vanya pun mengambil sebuah bulu mata Kenzo yang jatuh tepat di bawah mata sang suami.
Kenzo pun mendengus kesal. Dia menatap wajah Vanya dengan tatapan tajamnya.
"Nggak ada apa-apa." Jawab Kenzo sambil merebahkan diri di atas tempat tidurnya.
Vanya tersenyum melihat tingkah sang suami. Dia ikut merebahkan dirinya di samping sang suami. Vanya memeluk tubuh Kenzo yang tengah tidur terlentang tersebut. Dia menempelkan wajahnya pada lengan sang suami.
"Jangan ngambek dong Mas. Tahan sampai besok malam ya." Kata Vanya.
Seketika Kenzo menoleh menatap wajah sang istri.
"Besok sudah boleh?" Tanya Kenzo dengan antusias.
"Semoga besok sudah selesai." Jawab Vanya.
Kenzo pun menggeser tubuhnya menghadap Vanya. Kedua tangannya pun melingkar pada punggung sang istri.
"Aku akan menunggu besok malam." Kata Kenzo sambil memberikan beberapa kecupan pada pucuk kepala Vanya.
Tak berapa lama kemudian, mereka sudah terlihat tidur terlelap.
Flashback off.
Keesokan pagi harinya, Vanya segera membuatkan sarapan untuk Kenzo. Dia memasak omelet untuk sarapan pagi itu. Hari itu, dia ada jadwal kuliah pagi. Jadi, setelah sarapan, Vanya berangkat bersama-sama dengan Kenzo, meski dengan menggunakan kendaraan yang berbeda.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mulai hari ini, insyaAllah diusahakan bisa up setiap dua hari sekali atau jika memungkinkan setiap hari. Yang sebelah sudah mau end.
Tetap mohon dukungannya ya teman-teman.
Untuk mengetahui kapan Up dan karya terbaru, bisa follow ig othor ya @keenandra_winda.
Thank you 🤗