The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 67



Cello yang merasa kaget saat tiba-tiba sang istri memanggil dirinya dengan sebutan 'yang' pun mengernyitkan keningnya.


"Yang?"


"Iya, ada apa?" Tanya Shanum sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Cello.


"Eh, tumben-tumbenan manggil gitu. Lagian, ini apaan sih. Nggak malu memangnya begini di kantin?" Bisik Cello.


"Enggak. Memangnya kenapa harus malu. Peluk suami sendiri ini."


Cello hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Saat itu, Cello baru menyadari penyebab perubahan tingkah sang istri. Cello melihat keberadaan Danisha tak jauh dari tempatnya. 


"Oh, ada dia ternyata," gumam Cello yang langsung dijawab dengan cubitan oleh sang istri.


Belum sempat Cello memprotes tindakan Shanum, terdengar suara deheman dari arah samping mereka.


"Ehemm. Hallo, Cell."


Shanum dan Cello langsung menoleh. Shanum tidak melepaskan tangannya pada lengan sang suami. Namun, dia tetap memasang wajah sesopan mungkin di hadapan Danisha.


"Hallo, Miss."


"Ehm, ini siapa?" Tanya Danisha sambil menatap ke arah Shanum.


Shanum yang menyadari jika Danisha menatap ke arahnya pun langsung mengulurkan tangan kanannya.


"Perkenalkan, Miss. Saya Shanum Abram, istri dari mas Cello."


Mendengar perkataan Shanum, sontak saja kedua bola mata Danisha membulat. Namun, dia berusaha untuk mengubah ekspresinya agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Ehm, saya Danisha Anjani, dosen Cello." Balas Danisha sambil menyambut uluran tangan Shanum.


"Iya, saya tahu kok, Miss. Mas Cello selalu menceritakan apa saja yang terjadi di kampus kepada saya. Jadi, saya sudah tidak kaget lagi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya." Kata Shanum sambil masih memasang wajah cerianya.


Lagi-lagi Danisha dibuat terkejut dengan perkataan Shanum. Dia melirik sebentar ke arah Cello sebelum kemudian pamit untuk meninggalkan kantin. Danisha bahkan meninggalkan makan siangnya yang masih menyisakan separo bagian.


"Dia kenapa, Mas?"


Cello hanya mengedikkan bahunya untuk menjawab pertanyaan Shanum. Dia lebih tertarik dengan bakso yang sudah dipesankan oleh sang istri. Cello buru-buru menggeser kursi dan mulai menyantap baksonya.


"Ccckkk, kamu ini Mas." Gerutu Shanum sambil mengikuti sang suami yang tengah menyantap baksonya tersebut.


Tak jauh dari mereka duduk, nampak beberapa mahasiswa angkatan Shanum yang turut memperhatikan. Mereka yang awalnya berbisik-bisik karena kedatangan Danisha, kini justru berbisik-bisik karena melihat interaksi Shanum dan Cello. Meskipun begitu, baik Shanum dan juga Cello tidak menggubrisnya.


Hari berganti hari, kini ujian akhir semester sudah berakhir. Hari itu adalah hari terakhir ujian. Cello sudah lebih dulu menyelesaikan jadwal ujiannya. Dia hendak menjemput Shanum yang baru akan selesai satu jam lagi.


Ketika tengah berjalan menuju tempat parkir, Cello mendengar sebuah suara memanggil namanya. Cello pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Keningnya pun berkerut saat mendapati seseorang berjalan cukup cepat ke arahnya.


"Ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan." Kata Danisha. Ya, dialah yang telah memanggil Cello tadi.


"Ada apa, Miss? Maaf saya harus menjemput istri saya." Kata Cello. Dia bahkan terlihat enggan menanggapi perempuan tersebut. Berhubung saat itu mereka tengah berada di kampus dan lumayan ramai, Cello tidak ingin mempermalukan dosennya tersebut.


"Sebentar saja. Bisa ikut saya ke perpustakaan? Sekalian saya mau mengembalikan buku ini."


Cello menimbang-nimbang sebentar sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. Cello berpikir, semakin cepat dia menuruti permintaan dosennya tersebut, semakin cepat pula dia bisa pergi untuk menjemput Shanum.


Kedua orang tersebut berjalan menuju perpustakaan. Jangan kira mereka akan berjalan beriringan. Cello justru berjalan lumayan cepat di depan Danisha menuju perpustakaan.


"Aku mengembalikan buku dulu. Setelah ini, kita bisa bicara." Kata Danisha hendak masuk ke dalam perpustakaan.


"Bisa katakan saja sekarang, Miss? Aku harus menjemput istriku sebentar lagi."


Danisha mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam perpustakaan. Dia berbalik dan menatap wajah Cello lekat-lekat.


"Kamu yakin tidak mau poligami? Aku siap menjadi istri keduamu."


••


Hayo, kira-kira jawaban Cello apa ya?