The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 35



Entah Kinan sadar atau tidak saat menanyakan hal itu. Namun, ekspresi bingung langsung ditunjukkan oleh Adrian setelah mendengar pertanyaan Kinan.


"Maksudnya?"


Kinan langsung gelagapan. Dia segera menggeleng-gelengkan kepala sambil membenahi posisi duduknya. Setelah itu, dia berusaha meminta penjelasan tentang ucapan mama Adrian tadi.


"Bukan apa-apa. Lalu, ini maksudnya bagaimana? Apa maksud Mama Om mengatakan hal seperti itu tadi? Apa Om sudah berpikir kedepannya nanti jika sampai orang tua Om mengetahui kebohongan ini?" tanya Kinan.


Pasalnya, tadi saat melakukan panggilan video, Adrian mengatakan jika dia sedang makan siang bersama dengan Kinan. Dipesannya dengan sang mama, Kinan juga membaca jika Adrian ternyata tidak mengelak saat sang mama mengatakan jika Kinan adalah calon menantunya.


"Tenang saja. Aku sudah memikirkan hal itu," jawab Adrian sambil menggeser kursinya. "Sekali lagi, aku minta maaf karena terpaksa melibatkanmu dalam permainan ini. Kenapa aku semalam mengatakan jika kamu adalah kekasihku, karena aku sudah sangat hafal dengan mama. Beliau pasti akan segera mengenalkanku dengan kenalannya atau anak-anak sahabatnya yang masih lajang."


"Mama pasti memaksaku untuk melakukan kencan buta dengan dalih untuk segera mengakhiri status dudaku. Dan yang lebih parah lagi, mama pasti akan melakukan drama yang bisa membuatku tak berkutik untuk mengikuti semua keinginannya." Adrian terlihat gusar saat mengatakan hal itu.


Kening Kinan masih berkerut. Dia terlihat tidak setuju dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Adrian.


"Lalu, apa yang akan Om lakukan jika suatu saat mama Om meminta kita segera menikah?" tanya Kinan.


Adrian terlihat mengulas senyumannya sebelum menjawab pertanyaan Kinan.


"Untuk masalah itu, aku bisa memberikan alasan jika kita sudah putus. Kita bisa mencari alasan putus karena tidak ada kecocokan lagi diantara kita. Atau mungkin, kita bisa memberi alasan jika kita sulit membagi waktu karena kesibukan masing-masing." Adrian tampak santai saat mengatakan hal itu.


Namun, Kinan tidak serta merta menerima alasan Adrian. Tentu saja dalam hal ini dia yang paling banyak dirugikan. Apalagi, tadi dia sudah sempat di apa-apain meskipun tidak sengaja.


"Tapi, tentu saja aku yang dirugikan dalam hal ini, Om. Om seenaknya saja mengakui perempuan kinyis-kinyis seperti aku sebagai pacar tanpa bertanya terlebih dahulu. Hal itu bisa menurunkan pamorku, Om." Kinan mengerucutkan bibir kesal.


"Kinyis-kinyis?" ulang Adrian.


Dengan ekspresi kesal, Kinan hanya bisa mengangguk untuk membenarkan.


Adrian langsung menegakkan tubuh dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tatapan meremehkan langsung ditujukan kepada Kinan.


"Mana ada laki-laki yang akan tertarik dengan perempuan bar-bar seperti kamu?" Adrian melayangkan tatapan menyindir.


Sontak saja Kinan tidak terima dengan ucapan Adrian.


"Om jangan sembarangan kalau ngomong. Gini-gini, aku juga sudah pernah punya pacar!" Kinan hampir berteriak saking kesalnya.


"Cckkk, sudah lewat, kan? Sekarang, mana pacar kamu?"


Kinan yang semula hendak menjawab ucapan Adrian, langsung bingung harus menjawab apa saat pertanyaan Adria tersebut keluar dari bibirnya. Kinan hanya bisa menggerutu kesal sambil meletakkan ponsel mahal milik Adrian.


Melihat hal itu, Adrian hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia menggeser tubuhnya dan mendekat ke arah Kinan.


"Aku tahu jika kamu tidak punya pacar. Dan, aku akan memberikan sebuah penawaran untuk kamu. Bagaimana?" 


\=\=\=


Tawaran? Apa itu?