The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 130



Setelah mendengar perkataan sang suami, Shanum merasa sedikit lebih tenang. Memang benar apa yang dikatakan oleh Cello. Tidak semua ukuran kedewasaan seseorang diukur dari usia. Shanum akan berusaha untuk menghormati apa yang sudah menjadi keputusan sang adik.


Malam itu, semua anggota keluarga Cello sudah berkumpul di ruang makan. Mereka makan malam bersama sambil membahas tentang acara lamaran Cello esok hari.


"Kamu sudah tahu rencana ini ya, Mas?" Kini giliran mommy Fara yang bertanya kepada daddy El. Dia juga sama kesalnya dengan Shanum saat menjadi orang terakhir yang mengetahui rencana tersebut.


"Kalau rencananya mentahnya sih sudah tahu sejak Shanum melahirkan dulu. Papanya Shanun sudah menceritakan keinginannya dan sahabatnya tersebut untuk menjodohkan Rean dan putrinya. Tapi ternyata, Rean sudah lebih dulu jatuh hati dengan gadis itu," jawab daddy El sambil terkekeh.


"Eh, jadi ini perjodohan, Dad?" Shanum menolehkan kepalanya menatap ke arah daddy El.


"Ehm, bisa dibilang begitu. Tapi, Rean sendiri menyetujui rencana perjodohan tersebut."


"Kok begitu, Dad?"


Setelahnya, daddy El menceritakan apa yang diketahuinya dari papa Bian tentang rencana perjodohan Rean dengan dosennya tersebut hingga Rean menyetujui rencana perjodohan yang direncanakan oleh orang tua mereka.


"Jadi, begitu mengetahui rencana perjodohan tersebut, Rean sendiri justru menawarkan diri dan langsung melamar kepada orang tua dosen tersebut?" tanya Shanum terkejut.


"Lebih tepatnya, Rean langsung menyatakan perasaannya kepada ayah dosen tersebut."


"Waahhh benar-benar nggak menyangka jika Rean langsung bergerak cepat seperti itu," gumam Shanum.


"Nggak apa-apa, Yang. Laki-laki itu yang dilihat bukti langsung dari ucapannya, bukan hanya janji-janji manis yang lama-lama bisa berubah jadi pahit jika kelamaan." Kata Cello sambil mengusap lengan sang istri.


Cello bisa melihat jika Shanum masih terlihat khawatir dengan rencana lamaran Rean.


Setelah acara makan malam tersebut, Shanum segera beranjak ke dalam kamar untuk menyusui kedua buah hatinya. Sebenarnya, dia ingin menghubungi mama Revina, namun Shanum mengurungkan niatnya. Biarlah besok saja dia bertanya kepada orang tua dan adiknya langsung.


"Yang, kira-kira nanti setelah twins tidak minum asi lagi, apakah pabrik nutrisi ini masih berproduksi?" Tanya Cello sambil memainkan pabrik nutrisi satunya yang sedang menganggur hingga membuat baju tidur bagian bawah Shanum basah karena ulah sang suami.


Seketika Shanum menampik tangan nakal sang suami dan menoleh dengan berkerut menatap ke arah Cello. 


"Jangan nakal deh, Mas. Apa maksudnya itu?"


"Ya, siapa tahu nanti jika sudah habis masa kontrak twins, giliran daddynya yang mengontrak."


"Kamu itu kontraknya kelamaan, Mas. Jika twins hanya sekitar dua tahun, kalau kamu seumur hidup. Aku jadi ngeri membayangkan seperti apa nanti bentukannya. Kamu kan suka rakus, Mas."


"Sembarangan! Mana ada rakus untuk urusan begituan."


"Masih saja ngeles," cibir Shanum.


"Eh, aku nggak ngeles, Yang. Coba kamu lihat sendiri. Aku selalu diam anteng hanya tangan dan jariku yang bekerja di bawah sana. Lha kamu sendiri yang ah uh ah uh di atasku dan menyodorkan pabrik nutrisi itu ke wajahku. Sebagai orang yang sangat-sangat normal, tentu saja aku menerima dengan ikhlas hati."


Seketika wajah Shanum memerah setelah mendengar perkataan Cello. Entah mengapa dia selalu lepas kendali saat bergulat dengan sang suami.


"Apa-apaan sih itu!" Gerutu Shanum dengan setengah hati. Wajahnya masih terlihat merona sambil mengusap surai putranya.


Cello yang melihat jika sang putra telah terlelap pun segera beranjak untuk memindahkannya pada box bayi.


"Sini, biar aku yang pindahkan Drew ke box bayi. Setelah itu, giliran Daddynya yang dapat asupan nutrisi," goda Cello sambil tersenyum smirk ke arah Shanum.


Bugh.