
"Jangan khawatir. Bukankah kalian sudah berpacaran? Mama akan memberikan restu kepada kalian. Kalau perlu, kalian segera menikah saja," ucap mama Adrian.
Mendengar ucapan mama Adrian, Kinan langsung membulatkan mulut dan kedua bola matanya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Adrian. Dia cukup terkejut dengan apa yang disampaikan oleh sang mama.
"Ma?" Adrian memprotes sang mama.
Mendengar panggilan sang putra, mama Adrian langsung menoleh. Dia menatap wajah putranya tersebut dengan ekspresi kesal.
"Kenapa? Kamu menolak jika Mama minta kalian segera menikah? Apa kamu punya niat hanya untuk memacari Kinan tanpa menikahinya, begitu?!" Mama Adrian menatap tajam ke arah sang putra. Dia begitu kesal dengan putranya yang benar-benar lelet tersebut.
"Apaan sih, Ma? Bukan begitu juga maksudku."
Ya, kini Adrian benar-benar tengah bingung. Entah kenapa kini dia merasa telah termakan omongannya sendiri. Maksud hati hanya ingin menghindari rencana sang mama untuk menjodohkannya dengan anak-anak temannya, eh malah dia sendiri kena batunya.
"Jika bukan seperti itu, lalu seperti apa? Mama dan Papa tidak pernah mengajarkan kamu menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab, Yan. Jika sudah berani berbuat, kamu harus berani bertanggung jawab. Jadilah laki-laki yang gentle, bukan laki-laki yang meletoy begitu," mama Adrian langsung mendengus kesal sambil menatap tajam ke arah sang putra.
Adrian hanya bisa meraup wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar bingung sekarang. Adrian cukup tahu jika sang mama tidak akan pernah bisa menyerah sampai keinginannya berhasil.
"Ma, kami masih belum lama pacaran, tidak mungkin jika kami segera menikah dalam waktu dekat. Meskipun kami sudah lama mengenal, tapi kami harus benar-benar mengenal kepribadian masing-masing, kan?" Adrian berusaha mengelak.
Dalam rencana Adrian, dia akan meminta tambahan waktu satu atau dua tahun kepada sang mama. Dengan begitu, Adrian bisa punya alasan untuk putus dengan Kinan karena merasa tidak cocok. Begitulah rencana yang sudah ada di dalam kepala Adrian.
"Kamu mau minta mengulur waktu agar punya alasan bisa putus dengan Kinan karena tidak cocok begitu?"
Duaarrr.
Kali ini, terbaca lagi maksud Adrian. Mamanya tersebut benar-benar sudah seperti seorang cenayang saja. Adrian hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Sementara Kinan, masih kebingungan dengan apa yang dihadapinya tersebut. Mau bertanya pun rasanya belum ada waktu yang tepat.
"Bukan begitu, Ma. Kami memang perlu waktu lebih lama untuk sampai pada tahap pernikahan. Pernikahan itu tidak main-main, Ma. Kami harus benar-benar saling mengenal agar bisa menjalani pernikahan ini dengan baik."
"Mama tau itu. Makanya, mama mau kawal kalian sampai ke jenjang pernikahan. Tidak ada lagi alasan untuk saling menolak. Kalian mengerti?" Mama Adrian menatap wajah Kinan dan Adrian bergantian.
Mau tidak mau, Adrian hanya bisa menganggukkan kepala. Sementara Kinan, dia hanya bisa terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
Ketika hendak bersuara kembali, ponsel mama Adrian berbunyi. Ternyata telepon tersebut dari papanya Adrian. Mama Adrian diminta untuk segera pulang karena suaminya tersebut sudah dalam perjalanan menuju rumah.
Dengan berat hati, akhirnya mama Adrian berpamitan. Beliau juga masih sempat memberikan wejangan macam-macam kepada Kinan dan Adrian. Sebelum pulang, mama Adrian juga sempat meminta nomor telepon Kinan agar lebih mudah untuk berkomunikasi.
\=\=\=
Nah lho, bagaimana cara mengelak sekarang? ðŸ¤