The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 9



"Ya-Yang? A-apa ini hasil kuliah singkat dengan Miss Kinan tadi siang?" tanya Rean panik saat melihat Dena sudah memulai aktivitas di bawah sana.


Wajah Dena tampak memerah. Namun, dia menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan sang suami. Setelah itu, dia kembali melanjutkan niatnya. Dena mulai melakukan seperti apa yang diajarkan oleh Kinan. 


Meskipun masih tampak canggung, namun Dena berusaha untuk menghilangkan rasa tersebut. Dia berusaha menyenangkan Rean dengan menggunakan bagian-bagian tubuhnya.


Mendapat perlakuan yang baru dari Dena, Rean berusaha menyembunyikan desahann yang sudah siap lolos dari bibirnya. Rean terlihat antara sadar dan tidak. Dia masih berdiri dengan tangan berpegangan pada nakas, sementara sang istri sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Sshhhh, Yanggg. I-ini di sedoothhh sshhh?" Rean masih berusaha untuk tetap berdiri. "Aduuhhhh, gi-giii sshh,"


Rean masih berusaha menahan diri. Sebenarnya, dia sudah sangat tidak kuat menahan apa yang dilakukan oleh sang istri. Namun, Rean masih penasaran apa yang akan dilakukan istrinya tersebut.


Hingga sekitar lima belas menit kemudian, Rean sudah tidak sanggup lagi bertahan. Dia membawa tubuh sang istri, dan mulai melakukan apa yang sudah seharusnya mereka lakukan. 


Sebenarnya, Rean dan Dena sering melakukan hubungan suami istri. Namun, Rean benar-benar berusaha untuk tidak melakukannya secara langsung. Dia khawatir aktivitas tersebut akan mengganggu perkembangan ketiga calon buah hati mereka.


Cukup lama mereka beradu lemas di atas tempat tidur. Rean juga berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu kasar. Dena juga tampak menikmati aktivitas tersebut. Hingga, sekitar tiga puluh menit kemudian, Rean dan Dena sama-sama menggeram bersamaan. 


Napas keduanya tampak memburu setelah aktivitas panas yang baru saja selesai mereka lakukan. Dengan tubuh yang masih polos, Rean menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Rean dan Dena masih terbaring berhadapan. Keduanya tampak sangat puas dengan permainan yang baru saja mereka lakukan. Wajah Dena juga tampak malu-malu. Wajahnya terasa panas. Dia merasa malu saat mengingat apa yang baru saja dilakukannya.


Rean mengangkat tangan kanannya untuk membelai pipi sang istri. Sebuah senyuman terukir di bibirnya saat menatap lekat-lekat wajah Dena.


"Belajar dari Miss Kinan?" tanya Rean sambil masih mengusap pipi sang istri.


"Kenapa? Malu?" 


"Enggak, kok." Dena semakin menyurukkan wajahnya pada ceruk leher sang suami. Namun, tetap saja tidak bisa. Perut buncitnya menghalangi keinginan Dena untuk menempel erat sang suami.


Terdengar kekehan tawa dari bibir Rean. "Nggak usah malu, Yang. Aku suka, kok." Rean masih mengusap-usap rambut belakang sang istri.


Mendengar jawaban sang suami, Dena langsung mendongakkan kepala. Ditatapnya wajah suami brondongnya tersebut dengan wajah berbinar bahagia.


"Kamu suka, Mas?"


Rean mengangguk sambil mengulas senyumannya.


"Iya. Tapi, jangan terlalu dipaksakan, ya. Saat ini kandungan kamu kan sudah semakin besar. Nanti saja jika mereka sudah lahir. Aku pasti akan pasrah kalau mau kamu apa-apain." Rean menjawab sambil menaik turunkan alisnya.


Mendengar jawaban Rean yang asal, membuat Dena semakin geram. Dia langsung mencubit pinggang sang suami yang masih polos tersebut. Setelah itu, obrolan ringan pun mereka lanjutkan.


Dena sangat bersyukur memiliki suami yang sangat mengerti keadaannya. Meskipun usia Rean masih sangat muda, tapi dia sudah memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa dari usianya.


\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak buat Rean ya.


Oh iya, othor mau kasih tahu jika cerita Kinan mau othor selipin setelah ini. Tidak banyak, hanya sedikit. Mohon maaf jika membuat babnya jadi semakin banyak. 🙏