
Siang itu, mommy Fara mengajak Cello dan Shanum untuk berbelanja. Mommy pura-pura tidak tahu dengan aktivitas yang dilakukan oleh Cello dan Shanum di balkon kamar mereka. Bahkan, mommy merasa sangat senang mengetahui jika Cello dan Shanum sudah sedekat itu. Mommy hanya bisa berharap jika putra dan menantunya tersebut bisa segera memberikannya cucu.
Baru saja mommy beserta Cello dan Shanum turun dari kendaraan dan berjalan menuju pintu masuk sebuah pusat perbelanjaan, ponselnya berdering. Mommy segera mengambil ponselnya dan segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut.
"Hallo, Mas."
"Kamu sudah sampai?"
"Iya, ini baru saja sampai. Ada apa?"
"Ccckkk, ini semua gara-gara Fajar yang memajukan jadwal meeting jadi hari ini, aku jadi gagal pulang cepat," gerutu daddy El.
"Apaan sih, Mas. Itu semua kan sudah jadi kewajiban kamu. Kasihan juga Fajar jika kamu limpahin pekerjaan terlalu berat. Sesekali, beri dia kelonggaran atau beri dia jatah liburan. Fajar itu manusia Mas, bukan robot. Dia pasti juga butuh bareng anak dan istrinya." Kata mommy Fara panjang lebar.
"Eh, aku sudah kasih dia gaji dan bonus tinggi banget, Yang. Bahkan, hampir tiap enam bulan sekali dia selalu aku kasih jatah liburan. Kurang baik apalagi sih aku, Yang? Sudah ganteng maksimal, bule, baik, besar, panjang dan pastinya tahan lama. Hahaha."
Wajah mommy Fara mendadak merona mendengar celetukan daddy El. Entah mengapa dia selalu saja malu mendengar hal itu dari bibir sang suami.
"Apaan sih, Mas. Memangnya 'genter' (galah) apa sampai dibilang panjang," gerutu mommy Fara.
"Hahaha, aku jadi membayangkan wajah kamu yang merona merah, Yang. Ehm, jadi nggak sabar pengen cepet pulang dan segera 'main billiard',"
"Iisshhh, apaan sih kamu, Mas. Tuh, omongan kamu di dengar anak sama menantu kamu. Sudah tua juga kelakuan masih saja nggak berubah."
"Biarin, biar mereka jadi tambah semangat untuk bersaing dengan kita."
Mommy Fara hanya bisa mendengus kesal saat mendengar perkataan daddy El. Beberapa saat kemudian, mommy Fara mematikan ponselnya dan mengajak Cello serta Shanum untuk belanja barang kebutuhan rumah tangga. Mommy Fara dan Shanum saling berbagi informasi tentang makanan kesukaan masing-masing dan alergi keluarganya. Sementara Cello, dia harus berpuas diri menjadi pengawal sekaligus bertugas mendorong trolly belanjaan mereka.
Tak cukup sampai di situ, mommy Fara membawa mereka ke sebuah butik dengan salah satu brand ternama. Baik Cello dan Shanum yang mengetahui butik jenis apa yang mereka datangi langsung bergidik ngeri. Dari jenis pakaian yang dipakaikan pada manekin di etalase depan butik tersebut saja sudah bisa diketahui apa yang dijual di butik tersebut.
"Mom, ngapain sih kesini? Mana perempuan semua lagi isinya. Aku keluar saja, risih berada di sini," gerutu Cello sambil menatap kesal ke arah sang mommy.
Jangan kira mommy Fara akan mengizinkan Cello pergi dari tempat tersebut. Mommy bahkan menarik lengan Cello dan memintanya untuk duduk di kursi yang berada di samping ruang ganti.
"Nggak usah kemana-mana. Kamu duduk disini saja. Tugas kamu hanya mengangguk dan menggeleng untuk barang apa saja yang akan ditunjukkan oleh Shanum."
Cello hanya bisa membulatkan kedua bola mata dan mulutnya setelah mendengar perkataan sang mommy. Setelahnya, dia melihat mommy Fara menarik lengan Shanum untuk memilih barang yang diinginkannya.
\=\=\=\=
Satu dulu ya, ngetiknya sambil nunggu antrian vaksin. Mumpung hari senin, jangan lupa kasih vote buat othor. Jika votenya sampai jebol, othor jadi semangat buat crazy up ðŸ¤