
Kenzo benar-benar marah saat mengetahui keinginan Fida. Dia tidak habis pikir dengan keinginan sahabat istrinya itu.
"Nggak mau!" Teriak Kenzo. "Ada-ada saja meminta orang untuk membuatkan nasi goreng sambil memakai daster. Memang dia pikir aku apaan. Lagian, yang jadi ayahnya siapa, yang harus nurutin ngidamnya siapa. Ada-ada saja." Lanjut Kenzo masih berkacak pinggang. Dia masih benar-benar kesal.
Vanya yang melihat sepertinya sang suami enggan melakukan permintaan sahabatnya harus mengubah rencana. Dia harus benar-benar memasang wajah sedihnya agar bisa membujuk Kenzo untuk melakukan permintaan Fida.
"Baiklah, Mas. Maafkan aku. Seharusnya aku menolak keinginan Fida. Seharusnya aku tadi bilang kepada Fida untuk melupakan keinginannya. Yang menjadi suaminya kan Reyhan, jadi harus dia sendiri yang menuruti keinginannya saat ngidam. Bukannya malah menyuruh orang lain untuk memenuhi ngidamnya."
"Maafkan aku, Mas. Aku akan menelepon Fida dan meminta Reyhan saja yang memasakkan nasi goreng untuknya." Kata Vanya sambil beranjak pergi untuk mengambil ponselnya.
Kenzo benar-benar tersindir saat mendengar perkataan Vanya. Dulu, selama Vanya hamil, dia sering sekali merepotkan Reyhan. Bahkan hampir setiap hari dia merepotkan asistennya itu. Bukan hanya Vanya yang mengalami gejala ngidam saat itu, namun dia sendiri juga mengalami perubahan mood dan selera makan yang sangat drastis. Dan itu semua, selalu berimbas kepada Reyhan.
Kenzo meraup wajahnya dengan kasar sambil menghembuskan napas beratnya. Dia melirik wajah sang istri yang terlihat sedih sambil mulai mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Kenzo benar-benar geram melihatnya. Dia sama sekali tidak ingin melihat sang istri sedih.
"Baiklah. Ayo kita ke rumah Reyhan." Kata Kenzo akhirnya. Dia berjalan mendekati sang istri sambil merebut ponselnya.
Seketika Vanya menoleh menatap wajah Kenzo dengan tatapan berbinar bahagia.
"Benarkah, Mas? Kamu beneran mau melakukannya?" Tanya Vanya dengan wajah berseri-seri.
Kenzo benar-benar tidak bisa berkutik saat bersama dengan Vanya. Entah mengapa dia selalu sulit untuk menolak keinginan sang istri. Dia selalu tidak tega saat melihatnya bersedih seperti itu.
"Hhhmmm. Tapi aku tidak mau memakainya sekarang." Kata Kenzo.
"Iya, iya. Dipakainya nanto saja saat sudah sampai di rumah Reyhan. Ya sudah, ayo berangkat sekarang. Aku akan menggendong El." Kata Vanya dengan wajah cerianya.
"Ccckkk, cepat sekali dia bisa berubah ceria seperti itu. Apa tadi hanya akting saja. Benar-benar menyebalkan." Gerutu Kenzo.
Setelah siap, Kenzo dan Vanya segera berangkat menuju rumah Reyhan. Mereka terpaksa menggunakan mobil, karena El harus ikut. Tidak sampai lima menit kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Kenzo sudah terparkir di depan rumah Reyhan. Mereka terkejut saat melihat Reyhan sudah menyiapkan alat barbeque di taman depan rumahnya lengkap dengan segala keperluannya. Bahkan, Reyhan sudah mulai memanggang sesuatu di atasnya.
Kening Kenzo dan Vanya mengernyit saat melihat pemandangan itu. Mereka menoleh saling pandan. Tanpa disuarakan, isi pikiran mereka berdua sama.
"Kenapa Reyhan menyiapkan segala keperluan memasak di depan rumahnya? Jangan bilang jika Fida ingin aku membuatkan nasi goreng di sini?" Tanya Kenzo sambil menatap wajah Vanya.
"Nggak mungkin, Mas. Fida tadi tidak bilang begitu kok. Dia hanya ingin dibuatkan nasi goreng saja. Dia tidak bilang jika harus membuatnya di depan rumah."
Belum sempat Kenzo mendebat sang istri, terdengar suara ketukan di pintu mobil Kenzo. Ternyata Reyhan yang melakukannya. Kenzo segera membuka pintu mobil tersebut dan mendapati Reyhan tengah tersenyum lebar.
"Maafkan kami jika harus mengganggu istirahat anda, Tuan." Kata Reyhan.
"Tidak apa-apa, Rey. Kami senang bisa membantu." Kali ini Vanya yang menjawab Reyhan sambil berjalan keluar dari mobil. Dia mendekap tubuh El yang terbungkus selimut tebal tersebut dengan erat.
Kenzo yang mendengar perkataan Vanya langsung mendelik tajam menatapnya. Namun, hal itu tidak membuat Vanya takut. Dia malah mencebikkan bibirnya sambil mengedikkan bahu.
"Dimana Fida?" Tanya Vanya.
"Oh, dia di dalam. Sedang mengambil daging lebih banyak lagi." Jawab Reyhan.
Belum sempat Fida dan Kenzo menjawab, terdengar suara Fida menyapa mereka.
"Jelas sangat mengganggu." Gerutu Kenzo. Namun, Vanya langsung menoleh dan menatapnya dengan tatapan tajam. Seketika Kenzo hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Kamu mau buat barbeque?" Tanya Vanya sambil berjalan mendekati Fida.
"Iya. Maaf ya, jadi membuat kalian datang kesini dini hari seperti ini. Tadi, saat menunggu kalian, aku melihat TV. Ada yang sedang memasak barbeque. Tiba-tiba aku sudah tidak ingin makan nasi goreng lagi." Kata Fida dengan wajah bersalahnya.
Seketika wajah Kenzo berbinar setelah mendengar perkataan Fida.
"Benarkah? Kamu sudah tidak ingin makan nasi goreng buatanku lagi?" Tanya Kenzo.
Fida menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah Kenzo dan Vanya.
"Maaf ya, Kak. Aku sekarang ingin makan daging panggang itu." Jawab Fida sambil menunjukkan daging yang ada di atas alat pemanggang.
"Bagus. Itu lebih baik. Aku akan membantumu memanggang daging-daging itu Rey." Kata Kenzo penuh semangat. Dia lebih memilih untuk membantu Reyhan memanggang daging daripada memasak nasi goreng sambil menggunakan daster.
Setelahnya, Fida mengantar Vanya untuk masuk ke dalam rumah. Vanya harus menidurkan El yang saat itu berada di dalam gendongannya.
"Kenapa tiba-tiba berubah keinginan?" Tanya Vanya setelah menidurkan El.
"Nggak tahu, Van. Tadi saat melihat televisi aku rasanya ingin sekali menikmati olahan barbeque. Aku jadi tidak tertarik dengan nasi goreng lagi. Apalagi, saat membayangkan nasi goreng yang dibuat oleh suami kamu. Tiba-tiba aku merasa ngeri."
"Ngeri? Maksudnya?"
"Ngeri membayangkan pedasnya nasi goreng ditambah lagi dengan tatapannya yang tak kalah pedas. Hahahaha."
"Dasar bumil." Gerutu Vanya.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Selamat, selamat. Batin Kenzo.
Jangan lupa dukungan buat othor ya. Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda
Thank you