
Hari itu, Cello dan juga Shanum sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah orang tua Cello. Rumah kakek dan nenek Shanum memang berada cukup jauh dari kampus tempat Shanum akan menuntut ilmu.
"Ma, beneran kan, tahun depan setelah Rean lulus SMA kalian akan pindah lagi ke Jakarta?" Tanya Shanum saat melipat baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam koper.
Mama Revina yang sedari tadi membantu sang putri untuk bersiap-siap pun langsung berbalik dan mendudukkan diri di samping Shanum.
"Iya, Sayang. Kami akan pindah ke Jakarta setelah Rean lulus SMA. Lagipula, papa kamu memang mendapat pemindahan tugas kembali ke Jakarta awal tahun depan."
"Lalu, sekolah Rean bagaimana? Dia kan masih satu semester lagi sebelum kelulusan."
"Ya, mama dan papa bisa bolak balik Surabaya-Jakarta. Toh juga hanya sebentar ini," jawab mama Revina.
Shanum hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelah itu, mereka kembali membereskan barang-barang yang akan dibawa oleh Shanum ke rumah Cello. Sementara Cello, dia memang tidak membawa apa-apa. Baju yang beberapa hari yang lalu dibawanya ke rumah kakek Shanum, memang sengaja ditinggalkan agar nanti jika mereka berkunjung ke rumah itu, Cello tidak akan kesulitan.
Sore hari, Shanum dan Cello berangkat ke rumah orang tua Cello. Awalnya, mama dan papa Shanum hendak mengantar mereka. Namun, Shanum melarangnya karena dia tidak mau kedua orang tuanya bolak-balik. Shanum ingin mama dan papanya beristirahat, mengingat jatah cuti papa bian sudah habis dan mereka harus kembali ke Surabaya nanti malam.
Cello mengendarai mobilnya sendiri yang sudah diantarkan oleh supir sejak kemarin. Shanum yang berada di sampingnya terlihat menatap ke sepanjang perjalanan sambil berpikir. Cello yang menyadari tingkah Shanum pun langsung menoleh ke arahnya.
"Ada apa? Ada yang ingin kamu beli?" Tanya Cello.
"Ehm, kita tidak mungkin pulang dengan tangan kosong, Mas. Kira-kira bawa oleh-oleh apa, ya?"
"Nggak usah bawa apa-apa. Cukup kita datang saja kedua orang tuaku juga pasti akan senang."
"Ccckkk, ya kali kita hanya datang dengan tangan kosong, Mas. Aku nggak enak. Kita mampir beli kue ya." Pinta Shanum.
Shanum yang baru saja tersadar pun hanya bisa menepuk keningnya. Ya, dia benar-benar lupa dengan hal itu.
"Iya, maaf Mas. Aku benar-benar lupa. Ehm, kita beli buah saja ya." Pinta Shanum.
Cello hanya bisa menghembuskan napas beratnya setelah mendengar permintaan Shanum. Meskipun begitu, dia tetap menuruti keinginan sang istri. Hhmm, harus membiasakan diri dengan status baru nih babang Cello ðŸ¤
Cello menghentikan kendaraannya di sebuah toko buah yang berada tak jauh dari rumahnya. Dia membiarkan Shanum membeli apapun yang diinginkannya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Cello dan Shanum segera melanjutkan perjalanan menuju rumah.
Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah orang tua Cello. Mommy Fara langsung heboh menyambut kedatangan putra dan menantunya tersebut. Bahkan, Fara langsung memeluk dan menggandeng Shanum untuk berjalan menuju kamar Cello yang memang sudah dirombaknya sedikit.
"Mom, ini anaknya datang masa iya di anggurin," protes Cello.
"Mommy sudah hafal sama wajah kamu, Cell."
"Isshh, kok gitu sih. Masa iya nggak dipeluk dan dicium juga seperti Shanum sih."Â
"Minta peluk dan cium daddy kamu sana." Jawab mommy Fara sambil berjalan dan menarik lengan Shanum agar mengikuti langkah kakinya.
"Idiihhh, ogah."
\=\=\=\=\=
Satu-satu dulu ya. Jangan lupa kasih dukungan buat othor, agar semangat lanjutin ngetiknya.