The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 101



Adrian cukup terkejut mendengar ucapan Kinan. Maksudnya apa coba ngapa-ngapain? Apa dia berharap aku berbuat aneh-aneh? batin Adrian.


"Ngapa-ngapain? Maksudnya ngapa-ngapain yang bagaimana ini?" tanya Adrian. 


Sebenarnya, bukan berarti Adrian tidak mengerti maksud Kinan. Namun, dia hanya ingin memastikan sesuatu. Biasanya, perempuan akan malu-malu dan sedikit khawatir jika akan melakukan itu untuk pertama kali. Dan, Adrian tidak mau memaksa atau menuntut untuk segera melakukan itu.


Namun, sepertinya untuk kasus mereka, justru Kinan yang terlihat memaksa dan menuntut. Entah apa ada yang salah dengan isi kepala Kinan hingga membuatnya sedikit bar-bar seperti itu. Sedikit lho, ya.


Sedikit saja seperti itu? Banyaknya seperti apa thor? Huaa, othor juga nggak tahu. Hiks.


Kinan beringsut mendekat ke arah Adrian. Dan, dengan cukup berani Kinan sedikit menempelkan tubuhnya pada lengan Adrian.


"Kita bahkan belum berdekatan seperti ini sejak setelah menikah," ucap Kinan sambil melingkarkan kedua tangannya pada lengan Adrian.


Tentu saja tindakan tiba-tiba Kinan tersebut cukup membuat Adrian terkejut. Bahkan, Adrian bisa merasakan ada sesuatu yang kenyal menempel dengan ketat pada lengannya.


"Ma-maksudnya?" Entah mengapa jantung Adrian mendadak berdegup kencang. Dia juga mulai merasakan desiran aneh pada tubuhnya.


"Ya, seperti ini. Aku kan juga mau merasakan apa yang Dena rasakan," ucap Kinan. 


Jangan lupakan gerakan tiba-tiba Kinan yang sudah berpindah tempat. Saat ini, Kinan bahkan sudah duduk miring di pangkuan Adrian. Kedua tangan Kinan juga sudah nangkring pada leher suaminya tersebut.


Belum selesai keterkejutan Adrian, Kinan tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada wajah Adrian. Tanpa aba-aba, Kinan menempelkan bibirnya pada bibir Adrian.


Adrian masih diam mematung saking terkejutnya. Merasakan Adrian tidak merespon, Kinan mulai menggoda dan merayu suaminya tersebut agar membalas apa yang dilakukannya.


Kinan mulai meelumat, meemagut, hingga mendesak bibir Adrian agar terbuka. Dan, setelah mencoba beberapa saat, apa yang dilakukannya membuahkan hasil. Adrian mulai membuka bibirnya. Kali ini, dia tidak tinggal diam.


Adrian mulai memejamkan mata. Bahkan, tangan kanan Adrian sudah mendarat pada paaha Kinan. Sedangkan tangan kirinya, sudah mulai naik hingga mendarat pada tengkuk Kinan dan menekannya dengan lembut.


Hhmmmmmpphhh, eehhmmmmppphh.


Suara pertemuan benda kenyal tersebut tampak bersahut-sahutan dengan suara televisi yang ada di ruang tengah tersebut. Kinan dan Adrian, bahkan sudah mulai bergerak berirama. Gerakan bibir mereka seolah merayu untuk saling memberikan kenikmataan. 


Kinan dan Adrian sempat melepaskan pertemuan bibir mereka untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Napas keduanya tampak memburu dan cepat. Tatapan mata keduanya tampak sayu dan saling menuntut.


Entah dapat bisikan dari mana, keduanya kembali larut dalam keinginan alam bawah sadar mereka. Lagi-lagi, pertemuan kedua bibir tersebut langsung terjadi. Kali ini, tidak ada keraguan antar mereka. Bahkan, Adrian sudah berani sedikit lebih agresif.


Tangan kanan Adrian sudah tidak tinggal diam. Refleks, tangan tersebut merambat naik hingga mencapai perut Kinan. Entah sadar atau tidak, kini tangan Adrian bahkan mulai menyusup ke dalam kaos jumbo yang dipakai oleh Kinan.


Semakin naik, dan semakin naik. Hingga tangan tersebut terhenti saat menabrak gunung. Dan tentu saja efek tabrakan tersebut, membuat suara yang langsung menyulut api yang ada di dalam tubuh Adrian.


Suara apa itu?