
Malam itu, setelah makan malam berakhir, mommy Fara sudah menyabotase Shanum. Mommy Fara bahkan sudah menarik Fara ke ruang tengah. Mommy benar-benar ingin mengajak ngobrol sang menantu.
Cello dan daddy El yang melihat tingkah mommy Fara hanya bisa menghembuskan napas beratnya.
"Dad, kenapa mommy bisa lupa sama anak dan suaminya begitu ya setelah Shanum datang ke rumah ini. Bahkan sejak tadi, mommy hanya mengajak ngobrol dan menanyakan apa makanan kesukaan Shanum. Bahkan, sampai alerginya pun ditanyakan. Apa rasa sayangnya ke kita sudah kadaluarsa, ya Dad?"
"Sembarangan. Mana ada seperti itu. Mommy kamu itu sudah cinta mati sama Daddy. Enak saja kadaluarsa." Jawab daddy El sambil menatap tajam ke arah sang putra.
Cello hanya bisa mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan sang daddy. Mereka berdua hanya bisa menatap kedua wanita yang tengah tertawa cekikikan tersebut dari meja makan.
"Kamu sudah punya rencana setelah ini, Cell?" tanya Daddy El sambil mencomot buah kelengkeng yang dibawakan oleh Shanum tadi.
"Sudah sih sebenarnya, Dad. Tapi aku tidak tahu apa mommy dan Daddy akan menyetujuinya," jawab Cello sambil mengupas buah kelengkeng tersebut.
Kening daddy El berkerut setelah mendengar perkataan Cello. Dia sama sekali belum bisa menebak apa rencana sang putra.
"Apa rencanamu?"
"Daddy kan tahu aku sekarang sudah menikah. Seperti yang daddy bilang waktu itu, aku sudah punya tanggung jawab sekarang. Aku akan mencoba untuk bekerja sambil kuliah."
Kening daddy El langsung berkerut setelah mendengar jawaban sang putra. Bukan ini yang dia dan sang istri inginkan. Daddy El dan juga mommy Fara tidak ingin jika kuliah Cello terganggu jika dia harus bekerja.
"Dengar Cell, kamu tahu benar alasan Daddy dan Mommy menjodohkan kalian di usia segini. Kamu juga tahu, kesepakatan antara kami dan orang tua Shanum terkait dengan hal ini. Jadi, Daddy minta kamu mengurungkan niatmu dulu kali ini."
Cello menatap ke arah sang daddy sambil menghembuskan napas beratnya.
"Aku tahu, Dad. Aku tahu persis dengan hal itu. Tapi, sebagai seorang laki-laki dan sekarang aku sudah menjadi seorang suami, tidak mungkin aku hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun untuk memberikan nafkah kepada istriku. Aku bukan orang seperti itu, Dad."
Daddy El tidak bisa membicarakan masalah ini sendirian. Dia harus meminta bantuan mommy Fara. Bahkan, jika perlu daddy El akan meminta bantuan Shanum.
Pukull sembilan sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Mommy Fara bahkan terlihat belum selesai ngobrol dengan Shanum. Daddy El yang sudah seperti cacing kepanasan saat itu pun langsung beranjak berdiri untuk menghampiri sang istri.
"Sayang, ini sudah malam. Kasihan Shanum pasti juga capek kamu ajak ngobrol terus dari tadi. Biarkan dia dan Cello istirahat dulu," kata Daddy El sambil mendudukkan diri di samping mommy Fara dan melingkarkan salah satu tangannya pada bahu mommy.
Mommy langsung menoleh ke arah daddy El. Keningnya berkerut sambil mendengus kesal.
"Ada apa sih, Mas. Jika kamu sudah ngantuk, sana tidur duluan. Aku masih mau ngobrol dengan Shanum."
"Ngobrolnya bisa dilanjutkan besok lagi, Sayang. Lihat itu, Shanum sudah mengantuk. Lagipula, apa kamu nggak kasihan sama Cello. Dia sudah capek nungguin istrinya dari tadi," kata daddy El.
Cello yang tengah berada di dapur pun mendengar perkataan sang daddy. Dia segera menyahut perkataan daddy El.
"Bukan aku yang capek nungguin, Mom. Itu Daddy yang sudah capek. Katanya tadi sudah ngantuk dan nggak akan bisa tidur jika belum mendapatkan vitamin!" teriak Cello dari dapur.
Seketika mommy Fara menoleh dan menatap tajam ke arah daddy El.
Glek.
\=\=\=\=\=
Untuk informasi terkait karya othor, akan othor sampaikan di igeh ya. Jika berkenan silahkan mampir di igeh othor @keenandra_winda. Terima kasih.