
"Ehm, miss Dena bisa nggak berhenti berjalan-jalan? Aku khawatir nanti capek. Miss Dena duduk manis saja di hatiku, boleh?"
Sontak saja terdengar suara gaduh di dalam kelas.
"Hhuuuuu. Maunya Rean saja itu mah,"
"Enak di dikau ndak enak di miss Dena, Re."
"Dasar, gombal saja kamu, Re!"
Dan, masih banyak lagi suara-suara dari teman Rean yang lainnya. Bukannya malu, Rean justru malah semakin bersemangat saat melihat miss Dena merengut kesal ke arahnya.
"Sekali lagi kamu berani berbuat ulah, aku pastikan kamu tidak akan lulus mata kuliah saya." Miss Dena tampak kesal saat menatap Rean.
Bukannya takut, Rean justru bersemangat menggoda miss Dena. "Nggak apa-apa saya nggak lulus mata kuliah Anda, Miss. Tapi, saya yakin bisa lulus di menuju pelaminan Anda."
"Huuuuu."
Suara riuh kembali terdengar. Namun, setelah mendapat peringatan dari miss Dena, seluruh mahasiswa tersebut langsung terdiam.
Perkuliahan siang itu berjalan seperti biasa. Hanya saat berada di akhir kelas, tiba-tiba miss Dena mengumumkan jika akan ada kuis hari itu. Sontak saja semua siswa yang ada di dalam kelas tersebut menjadi riuh. Meskipun begitu, mereka tetap melaksanakan tugas tersebut.
Bagi mahasiswa yang sudah selesai mengerjakan kuis, bisa langsung meninggalkan kelas. Namun, Rean lagi-lagi berulah. Meskipun dia sudah selesai, tapi dia memilih untuk tidak meninggalkan kelas lebih dulu.
Setelah memastikan semua temannya pulang, Rean langsung beranjak menuju meja miss Dena. Dia ingin mengumpulkan kuisnya.
"Ini punya saya, Miss. Sudah lengkap saya tulis identitas beserta nomor ponsel juga." Rean masih mengulas senyumannya.
Kening miss Dena berkerut. Dia menatap tajam ke arah Rean sambil menerima kuis Rean.
"Saya nggak butuh nomor ponsel kamu." Miss Dena menjawab dengan ketus.
"Simpan saja dulu, Miss. Saya takin nanti miss Dena bakal memerlukannya." Rean menjawab sambil mengerling ke arah perempuan tersebut.
Miss Dena mendengus kesal setelah mendengar perkataan Rean. Setelah itu, Rean segera pamit dan beranjak meninggalkan kelas tersebut. Dia ingin langsung pergi ke rumah Cello untuk meminta bantuan sang kakak ipar tersebut.
***
"Lho, Re ternyata di sini? Sejak kapan?" tanya Cello sambil mendaratkan tubuhnya di karpet dekat sofa. Dia baru saja pulang dari tempat futsalnya.
"Dari siang sih, Kak. Pulang dari kampus langsung ke sini."
"Malam ini menginap saja di sini, Re."
"Maunya juga begitu, Kak. Mama dan papa kan juga sudah berangkat ke Semarang sejak pagi."
"Jadi berangkat hari ini?"
"Iya. Acaranya kan besok, Kak. Jadi mereka harus mempersiapkan gladi bersih sebelum acara."
Cello hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia sudah tahu jika papa mertuanya tersebut harus menghadiri acara kantornya yang berskala internasional. Mau tidak mau, papa Bian harus turun tangan sendiri untuk memastikan kesiapan acara tersebut. Hal itu juga yang membuat mama Revina ikut serta ke Semarang.
Tak berapa lama kemudian, Shanum terlihat datang sambil membawa dua botol susu untuk Drew dan Dryn. Shanum menatap ke arah Cello sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya, iya, Yang. Aku bersih-bersih dulu," jawab Cello sambil langsung beranjak berdiri sebelum Shanum kembali berceramah.
Rean kembali menatap ke arah Cello yang sudah beranjak menuju kamarnya. Keningnya berkerut saat melihat bagaimana Cello benar-benar mengikuti perkataan Shanum.
"Kak, kenapa kak Cello jadi penurut begitu setelah menikah? Sepertinya, dia selalu menuruti permintaan Kakak," tanya Rean penasaran.
"Memangnya ada yang salah, Re?" tanya Shanum.
"Ya nggak begitu juga maksudnya, Kak. Hanya saja, aku heran jika melihat hal itu. Bukan hanya kak Cello saja sih. Sepertinya, kakek, papa dan daddy El juga melakukan hal yang sama. Mereka juga sering menuruti permintaan istri."
"Nggak selalu, Re. Mereka tahu mana yang memang harus dituruti dan tidak. Sebenarnya, bukan hanya para suami saja yang melakukannya. Aku, mama, mommy, bahkan nenek pun juga akan melakukan hal yang sama, kok. Kami menikah dan berkeluarga, bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa atau siapa yang lebih berhak mengatur. Tapi, kami sama-sama bahu membahu menjalani ini dengan saling melengkapi."
"Ada kalanya aku lali terhadap sesuatu, dan aku tidak akan marah jika mas Cello menegurku. Hal itu juga berlaku sebaliknya. Meskipun, terkadang kami harus berdebat dulu sebentar, hehehe."
Rean hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
Beberapa saat kemudian, Cello terlihat sudah selesai membersihkan diri. Rambutnya terlihat masih basah dan kaosnya juga basah di beberapa bagian. Cello segera mendudukkan diri di samping Shanum sambil memberikan beberapa kecupan pada pipi sang istri.
Rean yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal, meskipun dia sudah sering melihatnya. Cello dan Shanum hanya bisa terkekeh geli saat melihat wajah ditekuk Rean.
"Bagaimana distro kamu, Re?" tanya Cello beberapa saat kemudian.
"Alhamdulillah lancar, Kak."
"Di Surabaya ada dua cabang, kan?"
"Iya, Kak. Rencananya mau menambah satu lagi. Masih nego sama papa sih, minta bantuan. Hehehe."
"Bagus itu. Apalagi, jika dilihat yang di Jakarta prospeknya bagus."
"Lumayan bagus, Kak. Aku benar-benar berterima kasih kepada daddy El karena membantu menyewakan tempat itu. Lokasi yang dekat dengan tempat tongkrongan anak-anak muda itu benar-benar menjanjikan."
Cello dan Shanum hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka cukup bangga dengan Rean yang sudah memiliki usaha distro sejak SMA tersebut. Kini, dia sudah mempunyai tiga distro yang dikelola oleh beberapa temannya. Dua berada di Surabaya, sedangkan satu di Jakarta.
"Kalau nafkah sudah bisa dicari, kenapa calon istri belum juga mulai dicari, Re?" kali ini Cello kembali bertanya kepada Rean.
"Eh, siapa bilang belum dicari. Aku bahkan sudah mau menandainya, kok," jawab Rean sambil tersenyum puas.
"Serius, Re?!"
"Serius, dong. Lihat saja, sebentar lagi kakak pasti akan punya adik ipar."
"Dia nyata kan Re? Bukan halusinasi kamu saja?" Shanum benar-benar meragukan perkataan Rean.
"Memang Kakak kira aku suka sama makhluk halus apa?!"
Shanum dan Cello langsung tergelak dengan kencang. Mereka lupa dengan keberadaan Drew dan Dryn. Sontak saja kedua bayi tersebut kaget dan langsung menangis dengan kencang. Rean yang saat itu sedang memangku Dryn langsung memberikannya kepada Shanum.
"Ckk, dasar. Kalian ini selalu heboh sendiri. Aku jadi bingung bagaimana nasib twins jika malam hari harus keganggu dengan suara berisik kalian."
Shanum dan Cello hanya bisa mendengus kesal.