
Daffandra Anta Atmaja
Daffindra Anta Atmaja
Dayra Anta Atmaja
Itulah nama yang diberikan Rean kepada ketiga buah hatinya. Beruntung berat badan ketiga buah hati Rean cukup bagus, sehingga ketiga bayi tersebut tidak harus menjalani perawatan.
Menjelang petang, ruang perawatan Dena tampak heboh setelah kedatangan sahabatnya. Siapa lagi jika bukan Miss Kinan, dan sang suami. Saat itu, pertama kalinya Rean bertemu dengan suami Miss Kinan, Adrian Hanggara.
"Waahhh, imut sekali, Den. Mau gendong, tapi aku masih takut." Miss Kinan masih tampak membungkuk di atas box bayi Rean.
"Gendong saja nggak apa-apa kok," Dena menyahuti saat melihat sang sahabat tampak antusias.
Dena juga melirik suami Kinan yang tengah duduk di sofa sambil memperhatikan tingkah sang istri. Meskipun wajahnya tampak datar, terlihat sekali dia juga tampak penasaran.
"Nggak, ah. Nggak berani. Nanti saja jika sudah agak besar." Miss Kinan menolak tawaran menggendong triplet sambil beranjak menuju brankar Kinan.
Rean yang saat itu tengah menemani Adrian, suami Kinan, merasa bingung harus ngomong apa. Pasalnya, usia Rean terpaut hampir tiga belas tahun.
Untuk memecah kecanggungan, Rean memberanikan diri bersuara.
"Ehm, saya panggilnya Bapak, Om, atau bagaimana, ya?" Rean menggaruk tengkuknya sambil mengulas senyuman.
"Terserah kamu." Andrian menjawab singkat. Pasalnya, dia bukan orang yang suka berbasa basi. Adrian cenderung laki-laki yang kaku dan sulit bergaul.
"Ehm, saya panggil, Om saja, boleh?" Adrian mengangguk setuju.
Setelahnya, Rean dan Adrian terlibat obrolan ringan seputar pekerjaan mereka masing-masing. Adrian cukup terkejut saat mengetahui jika Rean adalah putra dari Bian. Pasalnya, Adrian cukup mengenal Bian yang merupakan orang kepercayaan Kaero di Als Corp.
Menjelang Maghrib, Kinan dan Adrian berpamitan. Kinan berjanji akan sering-sering mengunjungi baby triplet jika sudah pulang ke rumah nanti.
Sepeninggal Kinan dan suaminya, Rean berjalan mendekat ke arah sang istri. Dia membantu membenahi posisi yang nyaman untuknya.
Malam itu, orang tua Rean dan Dena sama-sama datang kembali. Namun, Rean melarang mereka menginap. Rean dan Dena tidak mau mereka terlalu capek. Rean dan Dena masih bisa mengurus baby triplet dengan bantuan perawat.
Tiga hari kemudian, Dena dan baby triplet sudah diperbolehkan untuk pulang. Mereka akan pulang ke rumah Rean dengan Mama Rida, mamanya Dena, akan tinggal sementara di rumah Rean untuk membantu mengurus baby triplet.
Seperti ibu menyusui lainnya, Dena juga merasa gampang sekali lapar. Beruntung asinya cukup lancar untuk ketiga buah hatinya. Papanya nggak dihitung lho ya.
Malam itu, Rean menemani sang istri untuk makan malam kedua kalinya. untuk menemani sang istri, Rean membuat kopi untuk dirinya sendiri. Sambil berjalan menuju meja makan, Rean menoleh pada sebuah stroller mewah hadiah dari Kinan.
"Yang, ini stroller mewah sekali. Apa tidak apa-apa Miss Kinan membelikan triplet hadiah semewah ini?" tanya Rean sambil mendudukkan diri di depan sang istri.
Dena menoleh ke arah stroller yang dimaksud oleh Rean. Dia menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa, Mas. Sebenarnya, itu suaminya yang belikan."
Rean cukup terkejut saat mendengar ucapan sang istri. "Eh, serius itu Om Adrian yang belikan?"
Dena menganggukkan kepala. "Iya."
"Kok bisa?"
"Kata Kinan, suaminya itu gemas lihat stroller triplet itu saat ke mall. Alhasil, dia belikan untuk anak kita."
Rean hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.
"Ehm, sebenarnya, bagaimana ceritanya Miss Kinan menikah dengan suaminya ini sih, Yang? Aku jadi penasaran."
Pasalnya, Rean tahu jika Kinan menikah karena suatu kebetulan. Namun, dia tidak mengetahui cerita sebenarnya tentang pernikahan yang dialami oleh salah dosennya tersebut.
Dena menoleh ke arah sang suami. Dengan kening berkerut, dia bertanya, "Kamu mau tahu ceritanya, Mas?"
"Iya."
Nah, setelah ini cerita tentang Kinan, ya. Jangan lupa kasih dukungan buat othor.
\=\=\=\=\=\=
Bagi yang belum mampir di 'Mendadak Istri 2', cuss kepoin. Othor kasih bocorannya sedikit nih.
Ken menoleh ke arah kolam renang papa Evan. Terlihat sudah banyak sekali ikan berbagai jenis berenang bebas di dalamnya. Ken hanya bisa menghembuskan napas beratnya saat melihat keadaan kolam renang yang sudah tidak bisa diselamatkan tersebut.
"Zee Sayang, kenapa beli ikan sebanyak ini, hhmmm?" tanya Ken sambil menoleh ke arah sang putra.
"Ji au unya itan anyak, Ted. (Zee mau punya ikan banyak, Dad.)"
Ken hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Dia tidak akan pernah bisa menolak keinginan putranya. Selama itu baik dan dia masih mampu mewujudkannya, Ken pasti akan melakukan apapun permintaan sang putra.
"Baiklah, tadi Zee beli ikan apa saja?"
"Anyak, Ted. "itan yeye icam, itan toi meyah, itan apus-apus, itan bantal, itan cupi-cupi yang tecil itu, Ted, cama itan capung."
Hhhhhh. Lagi-lagi Ken merasa bingung bagaimana menjelaskan nama-nama ikan kepada putranya tersebut.
"Sayang, namanya buka ikan apus-apus, tapi ikan sapu-sapu. Tuh, yang kecil-kecil banyak di pinggiran, namanya bukan ikan cupi-cupi, tapi ikan Gupi. Itu, yang bergerombol namanya ikan buntal, Dan yang di dekat bola itu, namanya ikan cu*pang, bukan capung."
Zee tampak menatap wajah sang daddy. Entah apa yang dipikirkannya. Namun, Zee kembali melanjutkan bermainnya tanpa menggubris nama-nama ikan yang disebutkan oleh sang daddy.
Melihat sang putra tengah berjalan kembali menuju kolam renang yang kini airnya hanya tinggal setinggi lima puluh sentimeter, Ken segera menyusul sang putra.
"Mau apa?" tanya Ken sambil berjongkok di samping Zee yang sedang membawa serokan ikan.
"Ji au cewoki itan, Ted." 😩😩
"Serok, Zee. Namanya serok."
Berhubung Zee belum bisa mengucapkan huruf 'R', dia hanya bisa mengucapkan kata seadanya.
Tak berapa lama kemudian, Gitta terlihat datang dengan membawa baju ganti untuk Zee. Dia yang sudah mendengar kedatangan Ken, segera menyiapkan air untuk sang suami mandi sekalian.
Menjelang pukul sepuluh malam, Ken dan Gitta sudah tiba di rumah. Zee yang saat itu sudah terlelap, langsung dibawa oleh Gitta ke tempat tidurnya. Setelah itu, dia segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ken yang saat itu baru saja menerima panggilan dari sang daddy, segera beranjak menuju tempat tidur. Dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Sebuah senyum terbit dari bibirnya. Otaknya sudah mulai menyusun adegan-adegan film yang akan dimainkannya. 🙄
Belum sempat Ken berjalan mencapai pintu, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Gitta baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
"Lho, kok sudah selesai, Yang?" Wajah Ken terlihat ditekuk.
"Memangnya harus ngapain lama-lama di kamar mandi, Mas? Jika sudah selesai yang keluar. Nggak seperti kamu, sudah selesai tapi masih saja 'dijejel-jejelne', Mas." Gitta langsung berjalan melewati Ken menuju walk in closetnya.
Sementara Ken hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malam itu, Ken dan Gitta langsung beristirahat. Tubuh mereka benar-benar kelelahan.
Keesokan harinya, ternyata Zee sudah bangun terlebih dahulu. Semalam, dia kehausan dan merengek tidur dengan Gitta dan juga Ken. Alhasil, Gitta menidurkan Zee di ranjangnya setelah menyusui.
"Tedi, ao angun. Ji au yihat heyicopel."
Zee yang saat itu sudah nangkring di atas perut sang daddy, langsung menepuk-nepuk pipi Ken. Balita tersebut masih berusaha untuk membangunkan sang daddy.
Ken mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia menatap wajah Zee yang sudah berada tepat di depan wajahnya.
Cup. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zee sudah mendaratkan kecupan basahnya pada pipi Ken.
"Ceyamat padi." Zee sudah tersenyum lebar menatap sang daddy.
Sebuah senyuman langsung terbit pada bibir Ken. Rupanya Zee mengikuti apa yang selalu dilakukannya kepada Gitta setiap kali bangun tidur.
"Selamat pagi, Boy. Jam berapa ini? Kenapa sudah bangun, hhmmm?" Ken dengan suara seraknya meraup Zee dalam dekapannya sambil menciumi pipi gembul tersebut.
Ken menolehkan kepalanya dan mengerjap-ngerjapkannya. Apa aku tidak salah lihat? Ini masih setengah empat? Batin Ken.
"Ji au yihat heyicopel, Ted. Ke yumah papa, yuk."
Ken yang mendengar permintaan sang putra hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Apa yang akan mereka lakukan jika pergi ke rumah daddy Vanno jam segini? Ken bisa memastikan kedua orang tuanya juga pasti masih tidur. Atau mungkin, masih cangkul-mencangkul.
Namun, jika keinginan Zee tidak dituruti, dia pasti akan merengek semakin keras. Salahkan saja daddy Vanno karena kemarin sempat mengiriminya foto mainan helikopter yang sebesar anak remaja tersebut. Catat, mainan helikopter. Daddy Vanno mengurungkan niatnya untuk membelikan Zee helikopter asli karena takut dengan ancaman mommy Retta.
Ken segera menurunkan Zee. Dia menoleh ke arah Gitta yang masih terlelap tersebut. Setelahnya, dia meninggalkan sebuah kecupan pada pipi sang istri sebelum beranjak dari tempat tidur.
Zee langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Ken untuk minta di gendong. Ken segera meraup Zee ke dalam gendongannya. Setelah itu, kedua laki-laki beda generasi tersebut langsung beranjak keluar dari kamar.
"Zee sudah tidak ngantuk lagi?" tanya Ken sambil menuruni tangga.
"Indak. Ji au ain heyicopel," jawab Zee dengan penuh semangat.
Saat itu, Ken bertemu dengan asisten rumah tangga mereka. Setelah meninggalkan pesan untuk Gitta jika bangun, Ken segera berjalan menuju rumah kedua orang tuanya.
Hari yang masih belum subuh itu pun terasa dingin. Zee memeluk leher sang daddy dengan erat untuk menghalau rasa dingin.
Ken menyadari jika sang putra sedang kedinginan. Dia mengusap-usap punggung Zee untuk menghalau rasa dingin.
"Dingin?"
"Ja. Ingin, Ted."
"Tadi di ajak bobo lagi nggak mau?"
"Au ain heyicopel."
Ken hanya mendesahkan napas beratnya setelah mendengar jawaban sang putra. Setelah itu, Ken segera mengambil kunci cadangan rumah orang tuanya. Dia segera membuka kunci pintu tersebut.
"Tenapa geyyap, Ted?" Zee mengeratkan pelukannya saat memasuki rumah dan hanya ada sedikit cahaya dari ruang dalam rumah tersebut.
"Ini masih malam, Sayang. Jadi semua masih bobok."
"Papa?"
"Papa juga masih bobok."
"Tayo Mama?"
"Mama juga masih bobok."
"Tenapa acih bobok?"
Hadeuuhh, apakah anak kecil selalu begini jika bertanya? Apa aku dulu juga begitu? Gumam Ken.
Ken tidak menjawab pertanyaan Zee. Dia langsung menggendong sang putra menuju kamar kedua orang tuanya. Namun, saat melewati kamar tamu, Ken berhenti. Terdengar sebuah suara dari dalam sana.
"Uuuhhhh, auuuhhhhh, Maassshhh. Aaaauuuhhh."
Zee yang juga mendengar suara tersebut langsung menatap wajah sang daddy.
"Tedi, mama tenapa? (Daddy, mama kenapa?)"
Belum sempat Ken menjawab pertanyaan sang putra, terdengar suara balasan dari daddy Vanno di dalam sana.
"Yaanngg, aduuhhh, kejepit, Yang. Kenceng banget ini, auuhh."
Zee yang sudah paham maksud kejepit pun langsung heboh.
"Aaaaa, Tedi antu papa tedepit. Papaaa! (Aaaaa, Daddy, bantu papa kejepit. Papaaa!)"
Bugh bugh bugh.
\=\=\=
Ada yang sudah mampir? 🤭