The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.87



"Dari bojo. Apa itu bojo? Warna hijau maksudnya?"


"Lhah," Revina menolehkan kepalanya untuk menatap Angga.


"Bojo? Itu nama warna kan?" Tanya Angga dengan wajah polosnya. Ya, Angga memang orang Jakarta asli. Jadi, dia memang benar-benar tidak mengerti bahasa Jawa. Hanya saja, dia pernah mendengar beberapa kata dalam bahasa Jawa yang menurutnya hampir mirip.


"Sembarangan. Kalau warna ijo itu hijau. Abang itu merah. Ireng itu hitam. Jangan sok tau, Ngga." Gerutu Revina sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Eh, iya kah? Lalu, apa tadi artinya bojo?" Angga benar-benar masih penasaran.


"Tau, ah. Tanya saja sana sama pacar kamu yang masih SMA itu. Kamu bilang dia dari Solo, kan?" Kata Revina sambil berjalan menuju lift. Mereka harus sedikit buru-buru karena Bian sudah menunggu.


"Kami sudah putus." Gerutu Angga sambil mengekori Revina memasuki lift.


Revina langsung menoleh menatap Angga saat mendengar perkataannya. Dia mengernyitkan keningnya sambil mengamati wajah laki-laki yang berdiri di samping tersebut.


"Putus? Yakin kamu sudah putus?" Tanya Revina penasaran. Pasalnya, dia cukup hafal dengan sifat Angga.


"Hhhmmm."


"Yakin ini seriusan putus? Kamu nggak sesang tarik ulur hati anak gadis orang kan?" 


"Dikira layangan kali tarik ulur." Gerutu Angga.


Revina terkekeh mendengar gerutuan Angga. Belum sempat Revina menyahuti perkataan Angga, pintu lift yang mereka tumpangi sudah terbuka. Baik Revina maupun Angga segera berjalan keluar dari sana untuk menuju tempat parkir. 


Namun, saat Revina dan Angga hendak menuju tempat parkir, terdengar suara klakson sebuah mobil berbunyi tak jauh dari mereka. Angga dan Revina yang sudah sangat hafal dengan mobil tersebut segera berjalan mendekat ke arahnya. Mereka melihat Bian yang berada di dalam mobil tersebut sudah menurunkan kaca jendela kendaraannya.


"Kalian ikut di mobil saya." Kata Bian yang segera diangguki oleh Angga dan Revina.


Entah karena sengaja atau merasa sudah terbiasa, Revina segera membuka pintu mobil bagian depan dan segera memasukinya. Sementara Angga yang melihat hal itu hanya bisa melongo sambil mengernyitkan keningnya. Namun, dia segera tersadar saat Bian membunyikan klakson kendaraannya. Angga segera membuka pintu mobil bagian belakang dan segera memasukinya.


Belum selesai rasa terkejut Angga, tiba-tiba sebuah adegan yang diperlihatkan dua orang di depannya tersebut lagi-lagi membuatnya membuka mulut dan matanya lebar-lebar. Bagaimana tidak, entah disengaja atau tidak, Bian menarik seat belt yang ada di samping Revina dan memasangkannya dengan tepat pada kursi Revina. Mereka terlihat sudah biasa dan sangat dekat. Angga benar-benar terkejut melihatnya.


Menyadari saat ini dirinya tidak hanya berdua dengan sang istri di dalam mobil, Bian langsung menegakkan tubuhnya. Dia pura-pura seperti tidak melakukan apapun. Hal yang sama juga segera di sadari oleh Revina. Kedua orang tersebut sama-sama salah tingkah. 


Namun, Bian segera bersuara untuk menghindari kecurigaan Angga. Ya, Bian juga masih belum memberitakan kabar berita tentang pernikahannya, mengingat Revina saat ini masih berstatus sebagai karyawan magang. Baik Revina dan Bian sepakat untuk tidak memberitahukan pernikahan mereka setidaknya sampai Revina sudah menjadi karyawan tetap.


"Iya, Pak. Maafkan saya." Kata Revina.


Angga yang mendengar percakapan Bian dan Revina hanya bisa menatap bahu keduanya. Dia memilih untuk tidak banyak bertanya. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan pak Reon. Saat itu, mereka tengah mendiskusikan proyek yang akan dikerjakan dua bulan lagi.


Pertemuan tersebut berakhir saat jam makan. Bian, Revina dan juga Angga segera berpamitan. Mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Dan, disinilah mereka berada. Di sebuah rumah makan padang. Mereka memutuskan untuk makan siang di sana.


"Rev, kapan-kapan ajari aku bahasa Jawa, ya." Kata Angga sambil menyesap minumannya.


"Eh, aku nggak begitu bisa, Ngga. Hanya bisa sedikit. Itupun karena nenek memang asli Jawa. Jadi, aku bisa tahu beberapa kata." Jawab Revina.


Bian yang tertarik dengan obrolan Angga dan Revina pun ikut menyahuti.


"Memangnya apa yang membuat kamu tertarik dengan bahasa Jawa, Ngga?" Tanya Bian.


"Ehm, saya hanya ingin bisa saja, Pak. Saya hanya tidak mau saat kumpul-kumpul dengan teman-teman nongkrong mereka selalu ngobrol menggunakan bahasa Jawa. Sedangkan saya, sama sekali tidak mengerti." 


"Jika ingin belajar, lebih baik langsung praktek saja, Ngga." Kata Revina.


"Ah, kamu benar, Rev. Ehm berhubung sekarang kita sedang makan, aku mau tahu apa bahasa Jawanya makan?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Apa ya? Bisa kumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya untuk membantu Angga? 🤭


Jangan lupa kasih vote buat othor ya.