The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 147



"Davian Ardi Prambudi Sastrodiningrat."


"Eh, kamu putra Pak Pram?!"


Seketika Shanum dan Davian sama-sama bingung dengan perkataan Cello. Namun, Davian segera menganggukkan kepalanya setelah melepas jabatan tangannya dengan Cello.


"Kamu mengenal papaku?" tanya Davian dengan kening berkerut. 


Davian merasa bingung bagaimana bisa Cello mengenal papanya, dimana selisih usia mereka bahkan sangat jauh. Bahkan, bisa dibilang jika usia papa Davian sama seperti papanya Cello.


"Tentu saja aku mengenal Pak Pram. Bahkan, aku juga mengenal kakak kamu, Pak David Andria Prambudi Sastrodiningrat," jawab Cello sambil menyunggingkan senyumannya. 


"Eh, kamu kenal Kak Dave juga?" tanya Davian semakin bingung.


Lagi-lagi Cello menganggukkan kepalanya. "Iya. Aku juga mengenal Pak Dave. Beliau adalah orang yang berjasa kepadaku dan keluargaku tentunya. Tanpa bantuan Pak Dave, aku mungkin masih terjebak dengan rumor dan gosip dengan asisten dosen yang sedikit kurang sehat otaknya itu, hehehe."


Shanum menoleh menatap wajah suaminya yang tengah tersenyum tersebut. "Maksud kamu Pak Dave yang bekerja di tempat Om Zee, Mas?" tanya Shanum.


"Iya, Yang. Pak Dave memang bekerja di bawah naungan GC. Bahkan, papanya Pak Dave termasuk orang kepercayaan Om Vanno, papanya Om Zee."


"Kamu kenal mereka, Mas?"


"Tentu saja. Daddy beberapa kali mengajakku bertemu dengan mereka. Eh, nggak taunya di kampus kita juga bertemu dengan putra bungsu Pak Pram. Hehehe."


Davian yang mendengar perkataan Cello sedikit tersenyum. Ternyata, laki-laki di depannya ini lumayan ramah juga. Dia merasa tidak enak hati saat sempat merasa tertarik terhadap istrinya.


Setelah ngobrol beberapa saat, mereka akhirnya berpisah. Cello dan Shanum segera beranjak pulang. Mereka sudah sangat merindukan kedua jagoannya tersebut.


Sesampainya di rumah, Cello dan Shanum segera membersihkan diri. Mereka berusaha untuk tidak menemui kedua putranya karena takut tidak bisa lepas. Setelah selesai, Shanum dan Cello segera menemui kedua putranya yang ternyata juga baru selesai mandi.


Setelah makan malam, Shanum segera membawa twins ke dalam kamar. Dia harus menidurkan twins seperti biasanya.


Sementara di ruang kerja daddy El, mommy Fara meletakkan secangkir kopi diatas meja kerjanya.


"Mas, hari sabtu ada undangan untuk menghadiri acara pernikahan putri Pak Bastian Wiraguna. Bagaimana, bisa datang?" tanya mommy Fara sambil mengusap-usap bahu sang suami.


"Menurut kamu bagaimana, Yang?"


"Aku sih terserah kamu, Mas."


"Kamu sudah janjian sama Vina?"


"Janjian sih belum, Mas. Tapi tadi Vina sempat telepon dan menanyakan apakah kita juga dapat undangan dari Pak Bas."


"Jelas dapatlah, Yang. Masa iya Fajar yang asistenku saja dapat, akunya malah enggak," jawab daddy El sambil mengerucutkan bibirnya.


"Yyyee, gitu saja kesal. Aku sih nggak apa-apa nggak datang, Mas. Tapi aku hanya malas dengar omongan para kaum ghibah yang sering tidak pakai saringan kalau ngomong itu."


"Kaum ghibah? Maksudnya apa?"


"Itu, mereka yang biasa ngumpul saat ada kegiatan amal dan donasi, mereka sering nyindir-nyindir jika sekarang sudah jadi nenek itu harus diam di rumah, nggak boleh keluyuran. Memangnya kenapa jika sudah jadi nenek? Apa nggak boleh ikut kegiatan seperti itu? Apa nggak boleh tetap aktif di kerjaan? Apa nggak boleh tetap berkarya? Mereka pikir jika sudah jadi nenek itu harus diam saja di rumah begitu?!" kata mommy Fara dengan emosi menggebu-gebu. Jangan lupakan kedua tangannya yang refleks meremas bahu daddy El hingga membuat si empunya meringis kesakitan.


"Aduuhhh Yang, sakit ini. Jika mau remas yang bawah saja nih. Aku ikhlas lahir batin jika ini," kata daddy El sambil bersiap-siap membuka, ah sudahlah 🤦‍♀️


Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. Terima kasih.