
Fara mengambil lima jenis test pack dan mengujinya pagi itu. Dia masih berdiri di dalam kamar mandi. Kedua matanya terpejam saat menunggu hasilnya. Beberapa saat kemudian, Fara memberanikan diri untuk membuka kedua matanya.
Dan, saat kedua netra Fara terbuka, keduanya langsung membulat dengan sempurna. Seketika perasaan hangat langsung menyusup dalam hatinya. Mulut Fara pun secara refleks langsung berteriak memanggil sang suami.
El yang pagi itu tengah berguling ke salah satu sisi tempat tidur, merasakan ruangan kosong di sana. Tangannya bergerak kesana kemari untuk mencari keberadaan sang istri. Begitu tangannya tidak menemukan keberadaan Fara, El sedikit membuka kedua matanya. Namun, kedua netranya langsung terbuka dengan lebar saat mendengar teriakan sang istri dari dalam kamar mandi.
"Maaassss!"
El langsung terduduk dari tidurnya. Kepalanya celingak celinguk untuk memastikan keberadaan sang istri. Setelah mengetahui Fara berada di dalam kamar mandi, El langsung melompat dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi.
Ceklek.
"Ada apa, Yang? Kenapa?" Tanya El panik. Dia langsung menyerobot masuk ke dalam kamar mandi begitu pintu tersebut sudah terbuka.
"Ma-maasss."
Fara menoleh menatap wajah sang suami dengan wajah berkaca-kaca. Senyum bahagia pun sudah mengembang di bibirnya. El yang masih belum menyadari tingkah sang istri pun semakin panik saat melihat wajah Fara berkaca-kaca.
"Hei, ada apa? Kenapa menangis? Apa kamu terluka? Ada apa?" Tanya El semakin panik.
Dia masih mengamati tubuh Fara dari atas hingga bawah. Bahkan, bukan hanya tatapan mata El saja yang memeriksa kondisi tubuh Fara. Namun, kedua tangannya pun ikut berpartisipasi memeriksa tubuh sang istri. El ingin memastikan jika istrinya tidak terluka. Itu mah modus kamu saja, El.
"Mas, El, isshhh. Apa-apaan sih ini." Elak Fara sambil melepaskan kedua tangan El yang sudah nangkring pada, ah sudahlah.
"Ada apa? Kenapa menangis?" Tanya El setelah melihat Fara mengusap kedua pipinya yang basah.
Seketika Fara tersenyum sambil menunjukkan semua alat tes kehamilan yang sudah dicobanya. Kelimanya benar-benar menunjukkan tanda positif. Fara benar-benar bersyukur karena telah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengandung.
El langsung mengernyitkan keningnya bingung. Dia tidak mengerti dengan tanda yang ada di sana. El menerima kelima alat tes kehamilan tersebut dan memeriksanya dengan kening berkerut.
"Ini hasilnya bagaimana, Yang?" Tanya El sambil menunjukkan salah satu alat tes kehamilan tersebut kepada Fara.
Fara hanya bisa menghembuskan napas beratnya saat menyadari sang suami masih belum mengerti.
"Ini semua artinya positif, Mas. Aku benar-benar hamil." Jawab Fara yang tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.
Seketika El langsung menoleh sambil membulatkan mata dan mulutnya. Dia benar-benar tidak salah dengar, kan?
"Ka-kamu tidak bercanda kan, Yang?" Tanya El sambil menatap tajam ke arah Fara.
"Tidak, Mas. Aku tidak bercanda. Aku benar-benar hamil." Jawab Fara sambil mengusap perutnya yang masih rata tersebut.
"Aaarrrgghhhh." El langsung berteriak dan menggendong Fara di depan. Dia memutar-mutar tubuh Fara hingga membuat Fara langsung mencengkram rambut El dengan keras.
"Awas Mas, nanti jatuh. Bahaya. Ini di dalam kamar mandi." Kata Fara.
Seketika El langsung tersadar. Dia segera menurunkan Fara dan langsung berjongkok di depan perut Fara. Kedua netranya tampak berkaca-kaca. Namun, senyum bahagia pun nampak pada raut wajahnya.
"Hello, Baby. I'm your Dad." Kata El tepat di depan perut Fara sambil mengusap-usapnya dengan lembut.
Fara yang melihat hal itu langsung merasakan hatinya menghangat. Dia merasa sangat bahagia saat mengetahui sang suami ternyata sangat senang dengan berita kehamilannya.
Pagi itu, mommy Vanya dan daddy Kenzo juga sangat heboh dengan berita kehamilan Fara. Daddy Kenzo berharap jika cucu pertamanya adalah laki-laki. Berbeda dengan mommy Vanya yang menginginkan cucu perempuan. Mereka berdebat sepanjang pagi hingga menjelang sarapan.
"Memangnya kamu mau apa sih, Mas jika cucu pertama kamu laki-laki?" Tanya mommy Vanya sambil menatap tajam ke arah daddy Kenzo.
"Ya di ajak hangout dong. Kita kaum laki-laki juga butuh waktu untuk bersenang-senang. Iya, nggak El." Kata daddy Kenzo. Namun, daddy benar-benar tidak menyadari perkataannya.
"Apa? Jadi menurut kamu, selama ini kamu masih kurang bersenang-senang, Mas? Kamu merasa tertekan berada di rumah? Iya, begitu?" Tanya mommy Vanya dengan tatapan mata tajamnya.
"Eh, bu-bukan begitu maksudnya, Yang. Aku tidak tertekan, kok. Sungguh. Kan biasanya aku yang menekan. Hehehehe."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf slow up 🙏