
Seketika Vanya merasakan tubuh Kenzo menegang. Dia menoleh menatap wajah sang suami yang tengah menahan amarahnya. Dia harus menenangkan suaminya.
"Tentu saja makan nasi, Tante. Masa iya dikasih makan beling." Kata Vanya sambil melingkarkan tangannya pada lengan Kenzo.
Sontak Celina langsung menoleh menatap wajah Vanya. Dia merasa tidak suka saat Vanya memanggilnya dengan sebutan tante.
"Enak saja kamu memanggilku tante. Emang kamu siapa?!" Kata Celina dengan wajah geramnya.
"Kenalkan, saya Vanya istrinya mas Kenzo." Jawab Vanya sambil mengulurkan tangannya kepada Celina.
Celina menatap uluran tangan Vanya tanpa berniat untuk membalasnya. Vanya yang menyadari hal itu pun langsung menarik tangannya sambil mencebikkan bibirnya. Sementara Kenzo terlihat masih menahan amarahnya melihat sang istri yang diperlakukan seperti itu oleh Celina.
"Kamu yakin memilih istri seperti ini, Zo?" Tanya Celina. "Tapi, wajar sih. Sepertinya dia sangat cocok denganmu." Cibir Celina.
Vanya meremas tangan Kenzo seolah mencegahnya untuk membalas perkataan wanita yang ada di depannya tersebut.
"Memangnya kenapa jika mas Kenzo menikah dengan saya, Tante? Ada masalah? Saya kira tidak ada urusannya dengan Tante jika mas Kenzo menikah dengan siapapun." Jawab Vanya.
Celina begitu geram saat mendengar Vanya memanggilnya dengan sebutan tante.
"Jangan memanggilku tante!" Bentak Celina.
Kali ini Kenzo tidak tinggal diam. Dia tidak terima jika ada orang lain yang membentak sang istri.
"Jaga mulutmu, Cel. Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah membentak istriku. Jika tidak, aku pastikan kamu akan merangkak untuk memohon ampun." Kata Kenzo dipenuhi dengan amarah.
Bukannya takut, Celina malah tersenyum mencibir perkataan Kenzo.
"Ccckkk. Jangan sok-sok an berkuasa, Zo. Aku? Memohon ampun? Jangan mimpi. Hahahaha." Suara tawa Celina bahkan menarik perhatian beberapa orang yang sempat melewati mereka.
Sebenarnya Kenzo hendak membalas, namun Vanya menarik lengannya agar tidak meladeni perempuan di depannya tersebut. Vanya melirik paper bag yang sedang dibawa oleh Celina. Seketika senyum tipis terbersit pada bibirnya.
"Maaf Tante, sebaiknya Tante jaga sikap. Tidak ada salahnya kan berbicara baik-baik dengan orang lain. Kita bahkan tidak saling mengenal. Aku hanya khawatir jika omongan Tante nanti justru akan menjadi bumerang bagi Tante." Kata Vanya sambil menyelipkan senyuman.
"Apa maksud kamu?" Tanya Celina. Dia terlihat tidak senang dengan perkataan Vanya.
Vanya hanya bisa mencebikkan bibirnya sambil menarik lengan sang suami.
"Ayo pergi dari sini, Mas. Aku lapar." Kata Vanya sambil menarik lengan sang suami untuk menjauhi Celina.
Tanpa berpamitan, Kenzo menuruti perkataan sang istri. Mereka segera berlalu dari hadapan Celina.
Sementara Celina masih mematung di tempat yang sama. Dia menggeram kesal dengan tingkah Kenzo dan Vanya. Ketika Celina hendak memburu Kenzo dan Vanya, terdengar bunyi ponselnya yang berada di dalam tas. Celina segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan telepon tersebut.
"Hallo, pak Irwan. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Celina begitu panggilan telepon tersebut sudah terhubung.
"....."
"Oh iya, benar. Saya baru dari griya butik Als. Saya sudah mengambil wardrobe untuk acara peluncuran produk terbaru Abram Corp." Kata Celina.
"....."
"Ah, benar sekali pak Irwan. Saya juga sangat senang sekali mendapat kepercayaan untuk berpartisipasi dalam peluncuran produk terbaru dari perusahaan besar seperti Abram Corp. Saya mengucapkan banyak terima kasih untuk kepercayaannya Pak." Kata Celina.
"....."
"Baiklah. Selamat siang."
Celina menutup panggilan telepon tersebut dengan wajah berbinar. Dia merasa sangat beruntung sekali bisa bertemu dengan pak Irwan dari Abram Corp. Celina memang seorang model, namun karirnya tidak semulus yang dibayangkan. Dia hanya beberapa kali mendapat tawaran iklan produk dalam satu tahun. Selebihnya, dia hanya menerima tawaran sebagai model offline atau produk milik olshop dengan skala kecil.
"Abram Corp. Bisa jadi ini adalah batu loncatan bagi karirku untuk segera terkenal." Gumam Celina sambil berjalan ke arah toilet.
Sementara di lantai bawah, Kenzo masih menuruti keinginan sang istri yang masih menarik lengannya. Sudah beberapa kali Kenzo menawarkan makan siang, namun Vanya menolaknya. Dia justru mengajak sang suami segera pulang.
"Tadi katanya lapar, mengapa sekarang minta pulang? Tidak lapar lagi?" Tanya Kenzo sambil menyalakan mesin mobilnya.
Vanya menggigiti bibir bawahnya. Dia terlihat sedang dilema saat itu. Perutnya memang sudah merasa lapar. Namun, keinginan tubuhnya mampu mengalahkan rasa lapar itu.
"Ehm sebenarnya perutku masih terasa lapar, Mas. Tapi, aku menginginkan ini sekarang." Jawab Vanya sambil memindahkan tangannya pada bagian sensitif sang suami dan mulai mer***snya dengan gerakan menggoda.
"Ssshhhh, Yaangg. Tadi pagi kan sudah. Mau lagi?" Tanya Kenzo yang sudah mulai mupeng. Dia berusaha dengan sekuat untuk fokus pada jalanan di depannya.
"Aku mau lagi, Mas. Entah mengapa saat melihat tante itu tadi aku merasa tidak suka. Aku sempat berpikir jika mas Kenzo bertemu dengan tante itu sendiri, apa mungkin mas Kenzo akan tertarik?" Tanya Vanya sambil masih melanjutkan aksinya.
"Ttentu saja tidak. Itu hal yang tidak mungkin, Sayang. Aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Celina." Jawab Kenzo masih berusaha fokus.
"Benarkah?" Tanya Vanya penuh antusias.
"Ya, tentu saja. Kamu tidak percaya kepadaku?" Tanya Kenzo sambil menoleh sebentar. Dia sedikit bisa bernapas lega saat tangan Vanya sudah berpindah dari bagian bawah tubuhnya, meski benda yang sejak tadi dimainkan sang istri masih sangat kokoh berusaha mendesak pembungkusnya.
"Aku percaya kok, Mas. Tapi aku mau bukti." Jawab Vanya sambil mengerling nakal ke arah sang suami.
Kenzo yang melihat hal itu hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. Perasaannya menjadi tidak enak.
"Bukti? Bukti apa?" Tanya Kenzo.
"Buktikan jika mas Kenzo sudah tidak tertarik dengan Celina dan hanya tertarik kepadaku. Aku mau empat ronde setelah sampai di rumah nanti." Jawab Vanya sambil tersenyum melihat Kenzo.
"Apa?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Boyookk boyok
Iso ceklek, Van.
Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda
Thank you