The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 7



Part pelajaran dari Kinan 1


Wajah Dena berubah-ubah dari yang awalnya biasa saja, hingga merah merona. Dena juga tak segan-segan melayangkan bantal sofa kepada Kinan saat sang sahabat terlalu detail menjelaskan. Bahkan, Dena dibuat geram sendiri saat Kinan dengan semangat empat limanya mempraktikkan gerakan-gerakan yang dimaksudkannya.


"Ma-mana ada gerakan seperti itu coba? Bisa-bisa, rahangku sakit saking lamanya terbuka." Dena mengerucutkan bibirnya masih dengan wajah merona.


Kinan hanya bisa tertawa terbahak-bahak menanggapi perkataan Dena. Sejak tadi, Dena selalu memprotes apa yang dikatakan, bahkan dilakukannya. Meskipun begitu, Dena masih setia mendengarkan perkataannya.


Dena yang melihat sang sahabat tengah tertawa, langsung memberengut kesal. Lagi-lagi, Dena memberikan pukulan ringan pada paha sang sahabat.


"Malah ketawa! Kamu ini benar-benar buat orang kesal tau, nggak?!" Dena masih mengerucutkan bibirnya.


"Hehehe, maaf, Den. Habisnya, lihat wajah kamu benar-benar lucu. Tau nggak, wajah kamu itu benar-benar menunjukkan jika kamu malu-malu tapi mau. Hehehe."


"Cckkk, apaan itu malu-malu tapi mau? Nggak ada ya. Aku juga nggak mungkin melakukan hal itu." Dena berusaha mengatur ekspresi wajahnya agar tidak mendapatkan ledekan lagi dari sang sahabat.


Kinan semakin puas saat melihat sang sahabat salah tingkah. Dia mendekatkan wajahnya pada telinga Kinan.


"Kamu tidak pandai berbohong, Den. Hahaha."


Dena semakin merengut kesal. Tatapan matanya menatap Kinan dengan tajam.


"Sembarangan." Dena mengerucutkan  bibirnya sambil mengusap-usap perut buncitnya.


"Hehehe, habisnya ekspresi dan ucapanmu beda sekali, Den. Dengar, laki-laki itu, biasanya tidak bisa bertahan lama untuk tidak berhubungan. Apalagi, Rean kan masih muda. Jiwa mudanya pasti masih berkobar-kobar. Dan, aku juga yakin dia jarang sekali meminta haknya kepadamu. Dia pasti merasa tidak akan tega memintanya saat kandungan kamu sudah semakin besar. Apalagi, ada tiga calon anaknya di dalam sana," ucap Kinan sambil menunjuk perut Dena dengan anggukan kepala.


Dena tampak menggigiti bibir bawahnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Kinan. Rean jarang sekali meminta haknya. Bahkan, jika Dena tidak menawari, Rean juga tidak akan memintanya. 


Selama ini, Dena tidak terlalu memikirkan hal itu karena Rean juga tidak pernah membicarakannya. Namun, saat ini, Dena menjadi semakin merasa bersalah kepada sang suami. Seharusnya, dia juga memikirkan bagaimana perasaan Rean. Wajah Dena menjadi semakin pucat.


Kinan yang bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Dena, langsung bersuara.


Dena masih tampak ragu. Dia menoleh ke arah Kinan sambil meremass kedua tangannya.


"Ehm, a-apa itu aman? Apakah tidak apa-apa?"


"Tenang saja, jika kamu tidak memakai gaya koprol, aku yakin itu aman dilakukan." Kinan menjawab pertanyaan Dena sambil tergelak.


"Cckkk, apaan itu koprol?" Dena mendengus kesal. "Ehm tapi, bagaimana cara memulainya?" lanjut Dena. Dia tampak masih ragu-ragu.


Kinan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Dena.


"Tenang saja. Kamu bisa memulainya dengan pemanasan seperti biasa. Kamu bisa gunakan ini, ini, ini dan ini." Kinan menunjuk bagian da*da, tangan, mulut, lidah, serta telapak kakinya.


Sontak saja hal itu membuat kedua bola mata Dena semakin membulat dengan sempurna.


"Astaga! Ma-mana bisa pakai itu semua?"


"Tentu saja bisa. Jika kamu melakukannya, aku yakin Rean pasti akan senang sekali."


"Se-serius?" Dena tampak masih ragu.


"Serius, dong. Dua rius malahan." Kinan menjawabnya dengan penuh semangat.


"Ehm, bi-bisa minta, ehm, i-itu…," belum sempat Dena menyelesaikan perkataannya, Kinan sudah langsung menyahutinya.


"Tutorialnya? Gampang. Aku akan menunjukkan tutorialnya."


"Eh,"