The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.69



"I-itu, kenapa lehernya, Pak?"


"Ini hasil karya Keyya. Bahkan, di sekujur dada dan bahuku tak luput dari serangannya." Kata Kaero sambil membuka sedikit bagian atas tubuhnya.


"Astagaaaa, Bu Keyya seganas itu?" 


Bian benar-benar tidak mengira jika Keyya bisa seganas itu. Leher dan dada Kaero terlihat banyak sekali stempel alami yang entah bagaimana caranya bisa seperti itu. Bian benar-benar meremang saat membayangkan bagaimana itu bisa terjadi. Otaknya sudah mulai travelling membayangkan proses pembuatannya.


Seketika Bian menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berusaha menghilangkan pikirannya yang sudah mulai tercemar tersebut. Kaero yang melihat tingkah Bian hanya bisa mengerutkan keningnya bingung.


"Ada apa?" Tanya Kaero.


"Ehm, tidak apa-apa, Pak." Kata Bian. "Oh iya, Sean tidak ikut?" Lanjut Bian mengalihkan percakapannya.


"Dia tidak mau. Sean lebih memilih jalan-jalan melihat sawah dengan kakeknya sambil mencari ikan. Dia benar-benar tidak mau di ajak ke Malang." Jawab Kaeri sambil menghembuskan napas beratnya.


"Hhmmm, sebenarnya bagus juga Pak. Dengan begitu, Bapak dan Ibu Keyya bisa memiliki waktu berdua untuk jalan-jalan."


"Maunya juga begitu. Tapi kamu lihat sendiri, cuaca benar-benar tidak mendukung untuk jalan-jalan keluar. Aku bisa membayangkan jika Keyya pasti akan mengurungku di dalam kamar seharian." Jawab Kaero. 


Bukannya dia tidak senang dengan hal itu. Bohong sekali jika tidak senang. Tapi, istrinya itu benar-benar suka dengan eksperimen-eksperimen baru. Kaero benar-benar kesulitan mengimbangi gaya ekstrim sang istri. Dia bahkan sempat penasaran dari mana istrinya itu mendapatkan referensi seperti itu.


"Ya mungkin, itu salah satu bentuk pelampiasan bu Keyya, Pak. Selama beberapa bulan ini pekerjaan di kantor benar-benar menguras waktu Anda. Mungkin, bu Keyya membutuhkan waktu untuk berduaan dengan Anda."


Kaero yang menyadari hal itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya, dia juga berpikiran seperti itu. Kaero sebenarnya merasa kasihan kepada Keyya. Dia jarang sekali mempunyai waktu bersama dengan istri dan putranya. Selama kurang lebih dua bulan sebelum lebaran, Kaero memang tengah disibukkan dengan produk terbaru perusahaan otomotifnya. Jadi, bisa dipastikan dia sangat jarang berada di rumah.


Setelahnya, mereka berdua masih mengobrol. Beberapa saat kemudian, Kaero mendapat pesan dari Keyya untuk segera kembali ke villa mereka. Sementara Bian juga segera masuk ke dalam villa. Dia segera menuju ke dalam kamar yang sudah diketahuinya untuk membersihkan diri.


Ceklek.


Baik Bian maupun Revina langsung diam terpaku. Mereka sama-sama terkejut dengan situasi yang mendadak tersebut. Bian buru-buru membalik tubuhnya hingga kini menghadap ke arah pintu. Dia berusaha mengatur napas dan jantungnya yang mendadak berdegup kencang.


"Ma-maaf aku tidak sengaja, Dek." Kata Bian.


Revina yang juga sama-sama terkejutnya berusaha untuk mengatur detak jantungnya. Revina tahu jika pernikahan mereka sangat mendadak. Dia juga tahu jika Bian masih belum membuka hati untuknya. Meskipun begitu, bukan berarti dia tidak berusaha untuk membuat pernikahannya ini seperti pernikahan pada umumnya.


Revina yang saat itu baru selesai mandi dan hanya berbalut handuk berjalan pelan-pelan ke arah Bian yang berada di dekat pintu. Dia benar-benar ingin memulai 'perkenalan' dengan suaminya ini pelan-pelan.


Bian yang membelakangi Revina tidak menyadari jika sang istri sudah berjalan mendekat ke arahnya. 


Grep.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jangan traveling dulu ya, disimpan untuk part yang pas nanti 🤭