The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Penjelasan dan Hukuman Vanya 1



Ceklek


Vanya membuka pintu kamar Fida dan segera keluar untuk menemui sang suami yang sudah menunggu di depan pintu kamar Fida. Vanya memberikan senyum hangatnya saat menyadari tatapan mata Kenzo.


"Sudah selesai urusan dengan Reyhan?" Tanya Vanya sambil menutup pintu kamar Fida dan berjalan mendekati sang suami.


"Hhhmmm."


"Kok, cuma ham hem ham hem saja sih? Biasanya juga berisik saat di atas ranjang" kata Vanya sambil mengedipkan matanya dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Kenzo. 


Ya, dia memutuskan untuk melakukan hal itu sekalian. Dari pada sang suami marah-marah tidak jelas. Pikir Vanya.


"Aku ingin kamu menjelaskan semuanya." Kata Kenzo.


"Yang mana?" Tanya Vanya pura-pura tidak mengerti.


"Rasha. Aku ingin mendengar semua hal tentangnya." Kata Kenzo masih tidak terpengaruh dengan aktivitas Vanya yang sudah mulai nakal.


"Baiklah, kita kembali ke kamar. Aku akan menjelaskan semuanya." Jawab Vanya sambil melepaskan pelukan tangannya pada pinggang Kenzo.


Kenzo segera mengangguk dan menarik lengan Vanya menuju kamar tidur mereka di lantai dua. Vanya mengekori Kenzo di belakangnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia mencari sosok Reyhan, namun dirinya tak menemukan laki-laki itu.


Mungkin sudah kembali ke kamarnya, batin Vanya.


Ceklek


Kenzo membuka pintu kamar tidurnya dan membawa Vanya untuk masuk kedalamnya. Vanya menuruti Kenzo hingga dia berhenti di dekat pintu kamar mandi.


"Bersih-bersih dulu Mas, setelah ini aku akan menjelaskan semuanya secara detail. Aku juga tidak mau ada yang disembunyikan di antara kita." Kata Vanya sambil tersenyum menatap wajah Kenzo. 


Rahang sang suami masih terlihat mengeras. Vanya bisa melihat jika sang suami tengah merasa kesal. Namun, dia harus menjelaskan semuanya. Vanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Kunci utama sebuah hubungan adalah kepercayaan, saling terbuka dan komunikasi. Hal itu sudah disepakati Vanya dan Kenzo sejak awal pernikahan mereka dulu.


Kenzo mengangguk mengiyakan. Dia menunggu Vanya bersih-bersih sambil memainkan ponselnya di atas tempat tidur. Dirinya sudah membersihkan diri dan mengganti baju rumahannya dengan kostum tidur kebesarannya.


Tak berapa lama kemudian, Vanya terlihat keluar dari kamar mandi. Vanya menggunakan baju tidur yang biasanya dia pakai. Meskipun Kenzo sudah biasa melihat Vanya menggunakan baju tidur model seperti itu, namun dirinya selalu saja mupeng dibuatnya. Bagaimana tidak, baju tidur itu menampilkan melon Vanya yang tidak dibungkus apapun di dalamnya. 


Glek


Glek


Glek


Kenzo berusaha menelan salivanya yang terasa sangat sulit. Dia masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari melon Vanya.


Vanya berjalan mendekati tempat tidur dan segera merangkak di atasnya. Dia merebahkan diri pada dada bidang sang suami yang kini tengah duduk bersandar pada kepala tempat tidur.


"Aku harus mulai dari mana Mas?" Tanya Vanya sambil memeluk pinggang Kenzo.


Kenzo terdengar menghembuskan napasnya dengan kasar sebelum menjawab pertanyaan Vanya.


"Aku ingin dengar semuanya. Siapa Rasha itu sebenarnya? Dan apa pekerjaannya. Aku ingin tahu sedetail mungkin." Jawab Kenzo.


Vanya mendongakkan kepalanya menatap wajah Kenzo. Dia mencebikkan bibirnya saat menatap wajah Kenzo.


"Memang aku siapanya hingga harus mengetahui secara detail mengenai dirinya Mas!" Gerutu Vanya.


"Ya, aku kan nggak tahu. Makanya aku tanya." Jawab Kenzo tidak mau kalah.


Vanya menghembuskan napas beratnya. Jika sudah seperti itu, bisa dipastikan Kenzo sudah tidak mau dibantah lagi. Vanya menggeser posisinya hingga kini dia duduk di samping Kenzo menatap wajahnya.


"Baiklah, aku akan menceritakan hal yang aku tahu tentangnya." Kata Vanya.


"Bagus. Jelaskan semuanya." Jawab Kenzo.


"Rasha adalah keponakan mbak Erika. Setahuku, sejak kecil dia ikut nenek mbak Erika karena orang tuanya sudah meninggal. Aku juga tidak terlalu mengenalnya. Kami pernah beberapa kali bertemu saat di eSTe atau saat mbak Erika meminta bantuannya ketika ada acara, itu pun saat dia libur kuliah."


"Kami juga jarang sekali ngobrol, mungkin karena aku juga bekerja shift disana. Setahuku, Rasha itu masih kuliah. Eh, tapi mungkin sudah lulus ya. Dia berusia tiga tahun di atasku." Kata Vanya sambil menerawang. 


Vanya memang tidak mengetahui Rasha sudah lulus kuliah atau belum, karena hubungan mereka tidak sedekat itu. Hanya sebatas tanya kabar atau basa-basi lainnya.


"Dia kuliah jurusan apa?" Tanya Kenzo.


"Lalu, bagaimana ceritanya dia ingin melamar kamu?" Tanya Kenzo. Dia terlihat tidak nyaman saat mengucapkannya.


"Kalau masalah itu aku juga kurang tahu Mas. Entahlah bagaimana ceritanya mbak Erika bisa menyampaikan hal itu." Jawab Vanya sambil mengedikkan bahunya.


"Lalu, apakah kalian pernah jalan bersama?" Tanya Kenzo.


"Mana mungkin lah Mas. Orang aku nggak kenal dekat juga dengannya. Lagian, kalau kenal pun aku juga nggak mau sama dia. Orangnya nyeremin, nggak asik." Jawab Vanya.


"Lalu, menurutmu, aku nggak nyeremin?" Tanya Kenzo sambil menarik kedua ujung bibirnya.


Vanya menoleh menatap wajah Kenzo. Dia mencebikkan bibirnya sambil menggeleng.


"Enggak, wajah mas Kenzo nggak nyeremin, tapi nafsuin." Jawab Vanya sambil mengedipkan matanya.


Melihat perbuatan Vanya, Kenzo benar-benar sudah tidak dapat menahan diri lagi. Dia langsung mendorong tubuh Vanya hingga kini tubuhnya berhasil menindih tubuh sang istri.


Hhhmmpppphhhh


Kenzo langsung melahap bibir ranum Vanya yang masih sedikit bengkak karena ulahnya sore tadi.


Hah hah hah huh huh huh


"Mas, aku belum selesai cerita." Kata Vanya terengah-engah.


"Nanti saja dilanjutkan. Aku ingin memberikan hukuman karena sudah ada yang berani menaruh hati kepadamu." Kata Kenzo sambil menarik baju tidur Vanya hingga terlepas.


"Tapi kan bukan ak...aaahhhhhh mmmaaasshhhhh eemmuhhhh." Vanya sudah meracau tidak jelas saat mendapatkan serangan dari Kenzo di bawah sana.


Vanya hanya bisa meremas sprei dan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sementara Kenzo masih terus bekerja di bawah sana. Napas yang semakin memburu membuat mereka berpacu lebih cepat. Hingga akhirnya, mereka sama-sama tumbang karena merasa sudah sama-sama kalah ada lomba adu lemas tersebut.


Hah hah hah huh huh huh


Deru nafas yang saling memburu menyisakan sedikit tenaga bagi mereka. Kenzo segera beranjak berdiri dan langsung membopong tubuh Vanya untuk membersihkan diri. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah kembali lagi.


Kenzo mengambilkan Vanya kaos miliknya dan membantu memakaikannya. Setelahnya, mereka sama-sama berbaring di atas tempat tidur. Kedua pasang mata mereka masih belum terlihat lelah dan mengantuk. Vanya merebahkan kepalanya pada dada bidang Kenzo, sedangkan tangannya masih asik nangkring di di atas perut Kenzo dan membuat pola-pola abstrak di sana. 


"Sudah mengantuk Mas?" Tanya Vanya.


"Belum, ada yang masih mau kamu sampaikan?" Tanya Kenzo menebak maksud Vanya.


"Ehm, iya. Sebenarnya, beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja bertemu dengan Rasha di supermarket." Jawab Vanya.


Kenzo yang sudah cukup tenang karena sudah mendapatkan jatah tambahan hanya mengusap-usap lengan Vanya.


"Benarkah? Apa yang dilakukannya?" Tanya Kenzo.


Vanya mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Kenzo. Dia mengamati ekspresi Kenzo apakah baik menyampaikan hal itu sekarang. Namun, setelah cukup yakin Kenzo sudah tenang, Vanya memutuskan untuk memberitahukannya kepada Kenzo.


"Ehm, saat itu dia ..."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Lanjutannya masih di ketik ya, jari-jari othor masih dibagi buat menyelesaikan pekerjaan di RL. Jangan bilang ini sedikit, sudah seribu dua ratusan lho ini, nanti othor meweks lho.


Mohon tetap dukungannya ya, like, komen dan vote.


Untuk informasi kapan up, bisa follow ig othor @keenandra_winda


Thank you