The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 44



Sore itu, Cello dan Shanum benar-benar pergi ke butik untuk mencari baju yang sesuai dengan tema acara nanti malam. Mereka harus menggantikan daddy El dan juga mommy Fara untuk menghadiri acara pembukaan restoran baru milik salah satu kolega daddy El.


"Yang ini saja ya, Mas. Sepertinya cocok." Kata Shanum sambil membawa sebuah dress untuk ditunjukkan kepada Cello.


"Jangan yang itu! Nggak lihat punggungnya rendah sekali," gerutu Cello saat melihat bagian belakang dress tersebut.


Shanum hanya menghembuskan napas beratnya sebelum mengganti model yang lain. Kali ini, pilihannya jatuh pada dress berwarna maroon dengan panjang dibawah lutut dan bagian atas dengan model sabrina. Namun, bagian atas masih ada tali yang cukup lebar pada bahunya, sehingga tidak mengekspos bagian bahu dengan sempurna. Cello juga sudah menemukan kemeja yang sesuai dengan warna baju Shanum.


Setelah selesai dari butik, mereka langsung beranjak ke salon. Cello enggan kembali lagi ke rumah karena jarak rumah mereka lumayan jauh. Belum lagi, kemacetan yang memang sudah menjadi langganan disaat jam pulang kerja seperti ini.


"Kita langsung ke salon saja ya, Mas." Kata Shanum saat kendaraan yang dikemudikan Cello keluar dari parkiran butik.


"Iya. Kelamaan jika nanti harus pulang terlebih dahulu."


Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di salon langganan mama Revina. Shanum yang memang sudah kenal dengan para pekerja di sana pun langsung mendapatkan pelayanan. Sementara Cello segera meminjam kamar mandi dan juga bersiap.


Satu jam kemudian, mereka sudah selesai bersiap. Keduanya terlihat sangat serasi. Shanum dengan riasan sederhana yang sama sekali tidak kelihatan tua untuk usianya. Sedangkan Cello, dia juga terlihat cool dengan kemeja berwarna senada dengan dress Shanum. Mereka benar-benar terlihat sebagai pasangan yang serasi. Setelahnya, Cello dan Shanum segera berangkat menuju tempat acara tersebut.


"Mas Cello kenal pemilik restoran ini?" Tanya Shanum saat sudah berada di dalam kendaraan menuju restoran baru tersebut.


"Nggak terlalu kenal sih, hanya beberapa kali bertemu. Beliau adalah pemilik Dewangga Group."


"Eh, yang memiliki banyak hotel itu ya, Mas?" Tanya Shanum sedikit terkejut.


"Iya. Bulan lalu mereka baru saja meresmikan pembukaan hotel terbaru juga. Sedangkan hari ini, mereka meresmikan restoran baru tak jauh dari hotel tersebut."


Shanum yang mendengarnya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepanjang perjalanan, mereka cukup banyak mengobrol tentang banyak hal.


Tak berapa lama kemudian, Cello dan Shanum sudah sampai di tempat acara. Cello, juga sudah mendapatkan pesan dari Fajar saat diperjalanan. Fajar memberitahukan jika dia juga sudah sampai.


Cello segera memarkirkan kendaraannya. Saat turun dari kendaraan, Cello menangkap keberadaan sahabat sang daddy yang sudah sangat dikenalnya. Siapa lagi jika bukan Zee Alexander. Rupanya Zee juga hadir di acara pembukaan restoran tersebut.


Cello dan Shanum berjalan mendekati Zee yang terlihat baru saja keluar dari mobilnya.


"Selamat malam, Om." Sapa Cello setelah berada di dekat Zee dan Kiara, sang istri.


"Eh, Cello? Selamat malam. Kalian mewakili daddy dan mommy?" Jawab Zee saat Cello dan Shanum menyalami dia dan juga Kiara.


"Iya, daddy dan mommy harus ke Semarang, Om. Mereka berangkat sore tadi."


"Iya. Daddy kamu juga sudah bilang begitu."


"Sudah, Mas. Ayo masuk. Kamu sama Cello, biar aku sama Shanum." Kata Kiara sambil menarik lengan Shanum agar mendekat ke arahnya dan melingkarkan tangannya pada bahu Shanum.


"Aiisshh, apaan sih, Yang. Aku nggak mau. Enak saja aku disuruh barengan sama Cello terus peluk-peluk gitu," jawab Zee sambil menatap tangan Kiara yang tengah merangkul bahu Shanum.


"Ccckkk, otak kamu ini lama-lama perlu dibersihkan deh, Mas. Nggak usah aneh-aneh." Kata Kiara sambil mendengus kesal.


"Nggak mau! Pokoknya, aku nggak mau jauh-jauh dari kamu, Yang."


"Astaga, Mas. Kamu ini masih saja seperti anak kecil. Disini ribut, di rumah juga ribut sama Gen." 


"Biarin. Kamu kan sudah aku kontrak." Jawab Zee dengan entengnya.


"Iya, iya percaya. Stempel kontrak kamu bahkan sudah dibubuhkan hampir di seluruh bagian tubuhku." Jawab Kiara sambil mendengus kesal.


Cello dan Shanum yang mendengar obrolan kedua orang yang berada di depannya tersebut hanya bisa membulatkan mata dan mulutnya. Cello menoleh menatap Shanum dengan otak yang masih travelling.


"Aku juga mau membuat stempel seperti om Zee nanti malam." Bisik Cello di telinga kiri Shanum.


"Eh, yakin? Aku kan datang bulan, Mas."


"Doh laaahhh,"


•••


Mohon bantuan untuk vote, like dan komen ya.


Terima kasih.