
Malam itu, Rean menceritakan masalah yang sedang dihadapi oleh Dandi. Rean juga meminta bantuan Cello untuk mencari tahu siapa calon kakak ipar Dandi tersebut. Beruntung, Cello berjanji akan membantunya.
Keesokan hari, Rean pulang setelah sarapan. Hari itu, dia ada kuliah setelah siang. Rean segera berjalan memasuki rumah, begitu selesai memarkirkan kendaraannya.
"Mama mau kemana?" tanya Rean saat melihat sang mama sudah rapi.
"Kerumah nenek."
"Mau di antar?"
"Enggak usah, Re. Mama harus mampir-mampir dulu. Kamu juga kan ada kuliah nanti."
Rean menganggukkan kepala. Setelah itu, Rean segera beranjak menuju kamar. Menjelang siang, Rean segera berangkat ke kampus. Hari ini, dia mengendarai motor besarnya. Rean tidak mau terjebak macet jika harus menggunakan mobil.
Tak butuh waktu lama, Rean sudah tiba di kampus. Dia langsung bergegas menuju ruang kelasnya. Hari ini, dia ada dua mata kuliah hingga sore.
Menjelang pulang, hujan mulai turun. Hari ini, Dandi tidak masuk karena harus menemani sang kakak di rumah sakit. Dugaan Dandi kemarin memang benar adanya. Sang calon kakak ipar memang hanya memanfaatkan kakaknya Dandi. Setelah mengetahui kebenarannya, sang kakak langsung memutuskan pertunangan.
Sejak saat itu hingga kini, kakak Dandi jatuh sakit. Hingga Dandi harus menemani sang kakak di rumah sakit.
Suasana kampus saat jam terakhir seperti ini memang cukup sepi. Tentu saja tidak seramai saat pagi atau siang hari. Rean harus menunggu hujan sedikit lebih reda agar bisa menuju tempat parkir. Dia bersandar di dekat tangga menuju ruang guru sambil memainkan ponselnya.
"Bawa motor lagi, Re?" tanya seorang perempuan yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.
Rean mendongakkan kepala dan menatap perempuan tersebut. "Iya," jawab Rean singkat. Ya, dia memang tidak bisa terlalu akrab dengan perempuan. Hanya sebatas menyapa atau ngobrol seperlunya.
"Mau pulang bareng?" tawar perempuan tersebut.
"Nggak usah, terima kasih."
"Hhhmmm."
Perempuan tersebut mencebikkan bibir saat mendapati respon singkat Rean. Rasa-rasanya, dia masih tetap kesulitan untuk mendekati Rean.
"Kenapa sih, Re kamu dingin banget sama aku?"
Rean menoleh ke arah perempuan tersebut dengan alis terangkat. Dia merasa bingung dengan pertanyaan perempuan tersebut. "Dingin bagaimana maksud kamu, Man?" tanya Rean.
Ya, perempuan tersebut adalah Amanda, teman sekelas Rean. Amanda ini cukup tertarik kepada Rean. Dia memang berusaha untuk mendekati Rean.
"Kenapa kamu selalu dingin saat bersamaku?"
Lagi-lagi Rean mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa? Kapan kita pernah bersama?"
"Ccckkk, kenapa kamu menyebalkan sekali, Re!" Manda menghentakkan kakinya sambil berlalu meninggalkan Rean dengan hati dongkol. Dia benar-benar kesal dengan tingkah Rean.
Rean tak menggubris apa yang dilakukan oleh Manda. Bagi Rean, Manda hanya sebatas teman seperti yang lainnya. Dia sama sekali tidak bisa melihat perempuan lain seperti dia melihat miss Dena.
Beberapa saat kemudian, hujan mulai sedikit reda. Rean bergegas pulang. Dia langsung berjalan cepat menuju tempat parkir untuk mengambil motornya. Rean harus cepat-cepat sebelum hujan mulai turun kembali.
Rean tidak memilih jalan utama. Dia tidak ingin terjebak macet karena saat itu bertepatan dengan jadwal pulang kerja para pegawai kantor. Rean lebih memilih melewati jalan alternatif.
Ketika berbelok di dekat kantor polisi, Rean melihat sebuah mobil yang cukup dikenalnya berhenti di tepi jalan. Kedua matanya menyipit dari dalam helm full face nya. Rean semakin yakin dengan penglihatannya, saat melihat sesosok orang yang sangat dikenalnya.
"Ada apa, Miss?"