
Rean dan Bang Arya masih mengobrol tentang banyak hal sambil makan siang. Mereka berusaha mencari cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Kapan Bang Arya membuat janji untuk bertemu dengan mereka?" tanya Rean sambil menyesap minumannya.
"Aku belum buat janji, Re. Aku belum berani membuat janji dengan mereka sebelum bertemu denganmu."
Rean diam sejenak. Dia terlihat memikirkan sesuatu. Dia juga belum memutuskan apa-apa. Rean harus membicarakan ini dengan papanya.
"Baiklah. Aku akan membicarakan hal ini dulu dengan Papa. Nanti, aku kabari, Bang."
Bang Arya pun mengangguk mengiyakan. "Kamu kembali ke Jakarta, Re?"
Rean menggelengkan kepala. "Enggak, Bang. Aku akan disini dulu sebelum masalah ini selesai."
Bang Arya juga setuju dengan keputusan Rean. Setelah itu, obrolan kembali berlanjut. Mereka membicarakan beberapa hal yang bisa dilakukan. Hingga menjelang sore, Rean segera beranjak menuju hotel yang dipesannya. Dia menolak tawaran Bang Arya untuk menginap di rumahnya.
Begitu sampai di hotel, Rean segera membersihkan diri. Dia sudah membawa baju ganti untuk beberapa hari menginap disana. Menjelang maghrib, Rean menghubungi papa Bian. Kebetulan papa Bian dan mama Revina sudah kembali dari Surabaya tadi siang. Papa Bian dan mama Revina berjanji akan menyusul Rean ke Bandung esok hari.
Malam itu, Rean kembali menghubungi Dena. Namun, masih tidak ada balasan. Meskipun begitu, Rean tidak menyerah. Dia terus mengirimkan pesan kepada Dena. Rean terlelap dengan cepat malam itu. Mungkin, hal itu disebabkan karena kondisi tubuhnya yang sudah sangat lelah.
Keesokan pagi, Rean memutuskan sarapan di dekat lokasi distronya. Setelah itu, dia mengunjungi distro miliknya tersebut, sambil mengamati lokasi yang dibicarakan oleh Bang Arya kemarin.
Sebenarnya, lokasi yang dibicarakan kemarin lumayan bagus menurut Rean. Lokasi tersebut berada persis di sebelah timur distro Rean. Tanah tersebut berdempetan dengan distro Rean dan memanjang hingga ke utara hingga menembus jalan raya di sebelah utara.
Menjelang siang, Rean mendapat telepon dari papa Bian yang memberitahukan jika papa Bian dan mama Revina sudah sampai di Bandung. Mereka menunggu Rean di hotel yang sudah dipesan oleh Rean.
Hari itu, Rean dan kedua orang tuanya membahas apa yang sebaiknya dilakukan. Rean juga menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan juga Dena. Mama Revina yang mendengar cerita Rean sangat terkejut. Dia menoleh ke arah papa Bian dengan tatapan tajamnya.
"Kamu tahu hal ini, Mas?"
Papa Bian menoleh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung harus menjawab apa. Jika papa Bian menjawab iya, pasti dia akan mendapat omelan dari mama Revina. Namun, jika papa Bian menjawab tidak pun, dia juga pasti akan mendapat omelan karena Rean sudah memberitahu jika dia sudah menceritakan kepada sang papa. Akhirnya, papa Bian mengangguk perlahan.
Seperti dugaannya, mama Revina mengomel tanpa henti. Kali ini, bukan hanya papa Bian yang kena omel, namun Rean pun juga kena. Alhasil, mereka berdua hanya bisa diam sambil mendengarkan ceramah singkat mama Revina.
"Kalian ini para laki-laki benar-benar tidak peka, ya. Kamu juga, Re. Sebagai suami, seharusnya kamu langsung mengejar istri kamu dan menjelaskan masalah ini agar tidak berlarut-larut seperti ini. Masalah itu tidak akan selesai jika kalian saling kabur begini. Heran deh, kalian ini kenapa memiliki sifat yang sama-sama tidak pekanya begini, sih." Mama Revina masih mengomel tidak berhenti.
Rean tentu saja ingin membela diri. Namun, tatapan mata papa Bian membuatnya mengurungkan niat. Sampai ketika mama Revina berhenti memberikan ceramah singkatnya, papa Bian batu berbicara.
"Sudah ya, Yang. Nanti kamu kecapekan kalau ngomel-ngomel terus. Sekarang, biarkan Rean menjelaskan semuanya dulu. Simpan tenaga kamu banyak-banyak untuk nanti, ya."
Mama Revina mendelik menatap ke arah papa Bian. "Untuk nanti kamu mau apa, Mas? Kamu mau aku omelin atas bawah begitu?"
"Omelin atas bawah itu bagaimana, Ma?"