
Kinan hanya bisa melongo setelah mendengar alasan Adrian. Dia menatap jari tangannya yang memang polosan tidak memakai cincin apapun. Kinan tipe orang yang tidak terlalu suka memakai perhiasan.
"Memangnya kenapa jika aku tidak memakai cincin? Bisa saja aku memang melepas cincin pernikahanku, kan?" Kinan masih tidak terima dengan ucapan Adrian.
Bukannya khawatir, Adrian masih terus menatap wajah Kinan dengan tatapan datarnya.
"Aku yakin jika kamu belum menikah. Seandainya kamu sudah menikah, aku bisa pastikan kamu akan heboh menghubungi suami kamu ketika ada sesuatu. Bahkan, setelah sampai disini pun, kamu juga terlihat santai-santai saja. Tuh, ponsel kamu juga bahkan masih tergeletak di atas meja, kan?"
Kali ini, Kinan hanya bisa pasrah. Memang benar apa yang dikatakan oleh Adrian. Dia memang tidak terlihat menghubungi siapapun. Apalagi, setelah sampai di apartemen Adrian, Kinan juga tidak meminjam ponsel untuk menghubungi keluarganya. Dia bahkan terlihat santai dan biasa-biasa saja seperti tidak ada tanggungan untuk menghubungi keluarganya.
Melihat Kinan yang sudah pasrah, Adrian pun beranjak berdiri. Kinan yang melihat hal itu mengerutkan kening.
"Mau kemana?"
"Ganti baju. Setelah ini, aku akan mengantarmu pulang," jawab Adrian.
"Kita belum selesai bicara. Aku mau menyelesaikan ini secepatnya."
Adrian menghentikan langkahnya saat hendak menuju kamar. Dia berbalik dan menatap ke arah Kinan dengan alis terangkat.
"Kamu yakin mau membicarakan semuanya sekarang? Ini sudah jam delapan malam. Perjalanan ke rumah kamu lumayan jauh. Nggak takut kemalaman? Atau, jika mau kamu bisa menginap disini."
Kinan mendengus kesal setelah mendengar ucapan Adrian. Tentu saja dia tidak mau. Kinan lebih memilih untuk pulang saja.
"Baiklah. Kita pulang saja."
"Bagus. Tulis nomor ponsel kamu disini. Aku akan menghubungi kamu nanti," ucap Adrian sambil menyerahkan ponselnya kepada Kinan sebelum beranjak menuju kamarnya untuk berganti baju.
Kinan segera mengetikkan nomor ponselnya pada ponsel Adrian. Setelah itu, dia menghubungi ponselnya yang masih tergeletak di atas meja dalam posisi tersambung dengan alat charger. Begitu memastikan panggilannya masuk, Kinan meletakkan ponsel Adrian di depannya.
Kinan sempat terpana dengan penampilan Adrian. Tidak bisa dipungkiri, duda satu itu benar-benar membuat jantungnya jedug-jedug. Apalagi, kaos yang membalut tubuh Adrian tersebut benar-benar pas sehingga membentuk tubuhnya dengan sempurna.
Kinan bahkan hanya bisa melongo sambil menatap ke arah Adrian. Dia tidak menyadari jika ekspresinya tersebut seperti orang kesambet. Hiks.
Adrian yang melihat ekspresi Kinan, hanya bisa mengerutkan kening. Dia berjalan mendekat ke arah Kinan untuk mengambil ponselnya dan segera mengajak Kinan berangkat. Namun, tatapan mata Kinan benar-benar seperti ingin menerkamnya hidup-hidup.
"Ada apa?" tanya Adrian begitu sudah berada di depan Kinan.
Kinan yang masih menatap Adrian dengan ekspresi kagumnya, hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi mupeng.
Adrian benar-benar bingung dengan reaksi Kinan. Dia menggoyangkan bahu Kinan sambil bertanya kembali.
"Kamu ini kenapa?"
"Eh, a-apa?" Kinan tampak gelagapan. Dia berusaha mengubah ekspresi wajahnya. Bahkan, tanpa malu-malu Kinan mengusap bibirnya. Cckk, dikira ada air liur yang menetes apa?
"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu tergoda terhadapku?" Tanya Adrian sedikit berbesar kepala.
Tanpa berpikir, Kinan langsung menjawab pertanyaan Adrian.
"Iya. Eh,"
\=\=\=
Nah lho, bagaimana itu? Jadi pulang nggak nih?