
Tak berapa lama kemudian, makanan pesanan mereka sudah datang. Semua langsung menyantap makan malam tersebut sambil diiringi obrolan santai.
Mama Adrian paling semangat bertanya ini itu kepada Kinan. Sementara para lelaki, hanya diam mendengarkan obrolan mereka.
"Pa, nanti jika Adrian dan Kinan sudah punya anak, Mama mau menetap di Indonesia saja. Mama nggak mau jauh-jauh dari cucu," ucap mama Adrian sambil menoleh ke arah sang suami.
Mendengar ucapan mama Adrian, sontak saja Kinan langsung tersedak. Dia bahkan langsung terbatuk-batuk saking kagetnya. Adrian yang melihat hal itu, langsung memberikan air minum kepada Kinan. Dia juga segera membantu Kinan mengusap bibirnya dengan tisu.
"Pelan-pelan makannya, Han. Jangan sampai tersedak lagi," ucap Adrian sambil masih membantu membersihkan bibir Kinan dari sisa-sisa air minumnya.
Tindakan Adrian tersebut, tak luput dari pengamatan kedua orang tuanya. Kedua orang tua Adrian tersebut langsung mengulas senyumannya karena melihat interaksi Adrian dan Kinan.
Menyadari tindakan keduanya diperhatikan oleh orang tua Adrian, Kinan menjadi semakin malu.
"Su-sudah, Mas. Ada Mama dan Papa. Malu," bisik Kinan lirih. Namun meskipun begitu, kedua orang tua Kinan masih bisa mendengarnya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Anggap saja kami tidak ada," ucap Mama Adrian sambil tersenyum.
Setelah itu, obrolan kembali dilanjutkan. Tentu saja tokoh utama dari pertemuan itu adalah Kinan. Kedua orang tua Adrian benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengorek informasi kepada Kinan. Mau tidak mau, Kinan juga harus menjawab jujur apa yang ditanyakan oleh keduanya.
Sekitar satu setengah jam kemudian, acara makan malam pun sudah selesai. Orang tua Adrian juga harus berpamitan untuk kembali ke rumah mereka yang ada di Bogor.
"Kalau bisa, kamu ajak Kinan main ke rumah, Yan. Mama akan sangat senang sekali jika pas di Indonesia ada yang menemani," ucap mama Adrian.
"Kalau itu sih tergantung, Mom. Dia kan juga harus ke kampus. Bukan begitu, Honey?" tanya Adrian. Dan, yang lebih parahnya lagi, kini Adrian kembali mencuri ciuman untuk yang ketiga kalinya kepada Kinan.
Sama seperti sebelumnya, Adrian memberikan sebuah kecupan pada pelipis Kinan. Tentu saja tindakan Adrian tersebut membuat Kinan terkejut. Tubuhnya langsung menegang. Adrian yang saat itu memeluk Kinan, tentu saja bisa merasakan perubahan reaksi tubuh Kinan.
"Tentu saja. Dia kan duda, Ma. Meski masih perjaka." Papa Adrian menjawab dengan santainya.
Duaaarrrrr.
Bagai disambar petir, Adrian langsung membeku. Kini, giliran tubuhnya yang mendadak kaku. Kinan yang mendengar ucapan papa Adrian pun cukup terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Melihat reaksi Adrian dan Kinan, suara gelak tawa dari kedua orang tua Adrian pun kembali terdengar. Setelahnya, mereka langsung beranjak menuju mobil masing-masing.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Kinan dan Adrian. Keduanya masih terdiam dengan pikirannya masing-masing meski mobil yang dikemudikan Adrian sudah lama keluar dari area parkir restoran.
Entah mengapa Kinan tak bisa menghilangkan apa yang baru saja di dengarnya dari papa Adrian. Dia masih bertanya-tanya mengapa papa Adrian mengatakan hal itu.
Adrian yang sesekali melirik ke arah Kinan, menjadi semakin penasaran. Dia sudah merasa gatal untuk bertanya.
"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu memikirkan ucapan papaku tadi?"
"Iya." Kinan menjawab dengan refleks. Namun, begitu menyadari ucapannya, Kinan buru-buru menggelengkan kepala. "Eh, bu-bukan begitu maksudku."
Kening Adrian berkerut. "Lalu, yang seperti apa?"
"Itu,"
\=\=\=
Sambil menunggu up, bisa mampir di cerita othor yang lain ya 'Mendadak Istri 2 (cerita Zee)' atau cerita baru othor 'Tetangga Kamar'